26.5 C
Makassar
Sunday, May 17, 2026
HomeHeadlineDeretan Ucapan Kontroversi Prabowo Soal "Wartawan"

Deretan Ucapan Kontroversi Prabowo Soal “Wartawan”

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COM – “Jangan percaya apa yang disampaikan media-media. Media juga manusia-manusia. Kalau hakim agung-hakim Mahkamah Konstitusi bisa disogok, apalagi wartawan. Sama saja.”

Demikian ucapan yang dilontarkan Prabowo Subianto, dihadapan ribuan kader Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) dan pengurus Partai Gerindra di Gedung Intan Balarea, Jalan Patriot, Garut, 25 Oktober 2013 lalu.

Ucapan kontroversi yang dilontarkan Prabowo soal profesi wartawan memang menuai pro dan kontra. Salah satunya, afirmasi tadi.

Ditiap ucapannya, Prabowo acap kali menegasikan kredibilitas suatu media atau wartawan dengan kepentingan publik, seperti ucapannya 3 hari lalu, soal jumlah peserta Reuni 212, di Monas, Jakarta 2 Desember lalu.

“Hampir semua media tidak mau meliput sebelas juta lebih orang yang kumpul. Saya kira ini kejadian pertama ada manusia kumpul sebanyak itu tanpa dibiayai siapa pun,”

“Media-media yang mengatakan dirinya obyektif, bertanggung jawab untuk membela demokrasi, padahal justru mereka ikut bertanggung jawab menjadi bagian dari usaha manipulasi demokrasi, Ada belasan juta mereka tidak mau melaporkan,” ucapnya saat berpidato dalam acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Jakarta, Rabu 5 Desember.

Namun, tiap melontarkannya, Prabowo tak hanya mengomel soal media dan wartawan, Ia bahkan mengajak publik untuk tidak lagi memberi kepercayaan terhadap media massa, yang dianggap Prabowo “tidak objektif.”

Tapi omelan tadi, ditampik Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Arief Poyuono. Menurutnya saat itu Prabowo tidak sedang marah. Hanya saja waktu Prabowo mengucapkan itu “nada suaranya tinggi doang.”

“Dari mana kok 40 ribu? Biarkan saja. Kalau Mabes Polri bilang 11 juta, ya bisa dipecat,” kata Arief seperti dikutip Tirtoid, menanggapi jumlah versi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terhadap Reuni 212.

Baca Juga:

Prabowo Klaim Peserta Reuni 212 Berjumlah 11 Juta Orang

Prabowo Amuk Wartawan dan Media: Jangan Hormati Mereka

Pesan Demokrat: Pak Prabowo Jangan Meniru Ahok Marah-marah

25 Oktober 2013

Hari itu, dihadapan ribuan kader Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) dan pengurus Partai Gerindra di Gedung Intan Balarea, Jalan Patriot, Garut, 25 Oktober 2013 lalu. Prabowo menuding wartawan dapat disogok, layaknya Hakim.

“Jangan percaya apa yang disampaikan media-media. Media juga manusia-manusia. Kalau hakim agung-hakim Mahkamah Konstitusi bisa disogok, apalagi wartawan. Sama saja,” kata dia, dilansir dari Tempoco.

Baca: Romy Sebut Prabowo-Sandi Adopsi Cara Berpolitik Presiden Donald Trump

Afirmasi itu berujung protes dari wartawan. Namun, sehari kemudian, Prabowo meminta maaf atas ucapannya kepada awak media.

“Saya kira itu disalahartikan, dibesar-besarkan. Tetapi, saya meminta maaf kepada awak media jika hal itu telah menyinggung perasaan,” kata Prabowo seusai kegiatan Deklarasi Komitmen Partai Gerindra untuk pembangunan desa di kantor DPP Gerindra, Jakarta, Sabtu (26/10/2013).

14 Juli 2014

“Jakarta Post? Setahu saya itu sudah menjadi media partisan yang mendukung Jokowi-JK. Untuk Jakarta Post, saya tidak mau menjawab, terima kasih,” ujar Prabowo kepada Jurnalis Jakarta Post, saat menggelar jumpa pers bersama media asing di Wisma Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, dilansir Kompascom Senin (14/7/2014).

Ucapan itu ternyata berlanjut setelah jumpa pers usai. Prabowo kemudian mendatangi wartawan itu. Dengan merangkulnya, Prabowo meminta maaf kepada wartawan itu. “Ini bukan salah kamu. Ini salah pemimpin Jakarta Post yang berengsek,” ujarnya.

4 Agustus 2015

“Kompas itu tidak fair..,” ucap Prabowo kepada reporter Kompas TV, saat menolak sesi wawancara.

“Kompas cetak pak?” sahut reporter.

“Kompas Group itu tidak fair dan tidak adil,” sambung Prabowo secara verbatim dari video yang diunggah kanal Kompas TV, 4 Agustus 2015.

17 Agustus 2017

Usai mengikuti Upacara peringatan hari kemerdekaan di Universitas Bung Karno, saat ditemui awak media, Prabowo berbicara tentang gaji wartawan yang kecil, topik itu Ia bumbu dengan berupaya untuk membela wartawan.

“Kita belain para wartawan. Gaji kalian juga kecil, kan?” tanya Prabowo dikutip Tribunnews, 17 Agustus 2017.

Baca: Ratna Sarumpaet Bohong, Ruhut Sitompul Sebut Prabowo dan Amin Rais: “Sakitnya Tak Seberapa Tapi Malunya”

Dia pun menebak gaji wartawan kecil, dengan tolok ukur dari tampangnya. Sebab menurutnya, tampang-tampang wartawan tidak bisa berbelanja di mal (Pusat perbelanjaan modern).

“Keliatan dari muka kalian. Muka kalian keliatan gak belanja di mall. Betul, ya? Jujur, jujur! Kita ini membela kalian,” tandasnya.

Selain itu, Prabowo sekali lagi menyinggung persoalan gaji wartawan baru-baru ini. Ia awalnya menyentil mengenai seragam wartawan dengan istilah “menyamar”.

“Wartawan banyak, ya, saya lihat. Wartawan sekarang banyak ‘menyamar’ (tidak berseragam). Tetapi, kalau wartawannya itu baik-baik. Mereka sama hatinya dengan kami (kader Partai Gerindra) karena gajinya kecil. Mereka yang gajinya kecil itu hatinya sama dengan kami,” kata Prabowo, 1 April 2018, dikutip Kompascom.

5 Desember 2018

Ucapan kontroversi Prabowo yang terbaru adalah, soal jumlah peserta Reuni 212 yang Ia klaim menembus angka 11 juta orang.

“Hampir semua media tidak mau meliput sebelas juta lebih orang yang kumpul. Saya kira ini kejadian pertama ada manusia kumpul sebanyak itu tanpa dibiayai siapa pun,” kata Prabowo, saat berpidato dalam acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Jakarta, Rabu 5 Desember.

Ucapannya tak hanya berbuah kontroversi, tapi juga membuahkan kritikan terhadap dirinya. Ucapan yang berangkat dari persoalan “jumlah peserta” ini, bagi kalangan dapat menjadi boomerang.

Baca: Sentil Prabowo, Golkar Ingatkan Ada Kader PKS Korupsi Pakai Kode Agama

“Media-media yang mengatakan dirinya obyektif, bertanggung jawab untuk membela demokrasi, padahal justru mereka ikut bertanggung jawab menjadi bagian dari usaha manipulasi demokrasi, Ada belasan juta mereka tidak mau melaporkan,” ucapnya saat berpidato dalam acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Jakarta, Rabu 5 Desember.

Penulis: Agus Mawan
spot_img

Headline

spot_img
spot_img