29 C
Makassar
Wednesday, March 25, 2026
HomeHeadlineDishub Makassar Lakukan Kekerasan Terhadap Pak Ogah Usia Bawah Umur

Dishub Makassar Lakukan Kekerasan Terhadap Pak Ogah Usia Bawah Umur

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Belakangan, sejumlah foto pak Ogah hasil penjaringan Tim Penindakan, yang diunggah Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar lewat Facebook, jadi viral.

Selain mengundang olok-olokan dari warganet, foto yang menampakkan sejumlah pria gundul itu, justru menyimpan cerita kekerasan terhadap pak ogah yang berusia bawah umur.

Lewat foto itu, kekerasan yang dialami lima anak berinisial H, A, A, J, R, dan A tidak diketahui publik. Yang tampak dari unggahan itu, hanya keberhasilan dalam meringkus orang yang selama ini dituduh jadi biang kemacetan.

Baca: Polisi Pastikan Tewasnya Mahasiswa ATK Penerbangan Makassar Karena Penganiayaan

Saat ini, kelimanya telah ditangani Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) kota Makassar. Setelah di-assesment, mereka dibina di Rumah Aman.

Kesaksian Korban: “Saya disuruh lari, jalan jongkok, dan dijemur”

Rabu, 26 Juni 2019. Di PPT P2TP2A, jalan Anggrek Makassar, saya bertemu dengan enam anak yang tertangkap Tim Penindakan Dishub Makassar.

Baca: Dihadapan JK, Plt Kadis P3A Sulsel Berharap Tidak Ada Lagi Kekerasan

Wajah belia dan laku mereka kala ditanyai petugas PPT menunjukkan, bila mereka masih anak-anak, yang riang dan penuh ceria.

Suasana saat itu barangkali berbeda dengan apa yang terjadi di Kantor Dishub Makassar, jalan Mallengkeri, beberapa jam lampau.

Baca: Bejat! Ayah Lakukan Kekerasan Dan Setubuhi Putranya Hingga Tewas

Kepada saya, mereka bercerita seramnya situasi saat berada di kantor Dishub Makassar. Selain dijaili, mereka ngaku, terima tindakan kasar dari petugas.

H, seorang di antaranya yang menerima satu tamparan telak di wajahnya. Kata dia, dia ditampar karena petugas ngerasa tersinggung karena nada bicara yang ia lontarkan.

“Itu lagi dia mau tampar, tapi saya tangkis,” kata dia.

Kenapa H ditampar, benarkah hanya karena nada tuturnya yang tinggi? Bukan, H ditampar karena berkata “tidak,” saat diperintah berlari lagi.

“Saya berhenti karena capek, dada saya sesak. Biasa dada saya begini karena ada penyakit,” ujarnya.

Saat itu, ada 11 pria yang terjaring. Enam di antaranya adalah H dan empat kawannya yang jadi pak Ogah, seorangnya lagi hanya jadi korban salah tangkap.

“Tidak saya,” jawabnya saat ditanya apa kah dia jadi pak Ogah.

“Saya waktu itu habis beli air minum, tiba-tiba ada yang tangkap ka,” tambahnya.

Saat saya bertemu, rambut mereka sudah plontos, persis dengan foto yang viral itu. Mereka mengaku, dicukur sesudah berlari keliling lapangan dan dijemur di bawah terik matahari.

Dua lainnya, tidak senasib. Alis keduanya juga dicukur. “Kalau di-botak saya terima. Tapi kalau alis tidak saya terima,” ujar H.

Baca: Pak Ogah Kian Menjamur, Nurdin Abdullah “Minta Tolong” Ke Dishub Sulsel

Kata H dan lima rekannya, mereka tidak tahu alasan rambutnya dicukur hingga botak. Petugas yang membotaki mereka juga tak bilang soal itu. Pun, alis. Kedua anak yang alisnya dicukur juga tak tahu alasannya.

“Kita merapikan rambutnya, supaya tidak berantakan,” kata Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar, Muh Iqbal Asnan saat dihubungi.

Iqbal mengklaim, pihaknya sebatas menjaring, tapi tidak sampai menindaki mereka.

Yang Mesti Diperhatikan Dishub Makassar dalam Menjaring Anak Bawah Umur

Ardiand, petugas PPT P2TP2A Makassar, menyayangkan tindakan yang diterima H dan lima kawannya yang lain.

Ia melihat ada yang salah pada prosedur penindakannya. “Harusnya dilakukan tanpa kekerasan. Apalagi ini ada yang masih bawah umur,” katanya saat ditemui.

Meski tak sepakat dengan cara represif itu, Ardiand mengapresiasi langkah Dishub Makassar. Dia bilang, itu juga jadi satu cara untuk menyelamatkan anak bawah umur dari eksploitasi.

“Seharusnya mereka bukan di jalanan,” ujarnya.

Menurut Ardiand, tindakan tersebut telah menyalahi Undang-undang (UU) Perlindungan Anak. Selain rentan terhadap tindak eksploitatif, anak bawah umur bisa pula kehilangan fase kanaknya hanya untuk menebus beban ekonomi keluarga mereka.

“Kebanyakan mereka ini tidak tinggal sama orang tuanya. Tidak punya pembimbing di keluarga, terus mereka ini punya kebutuhan khusus, seperti membiayai ibu dan dirinya,” ujar Ardiand.

Sementara itu, dalam sepekan kata Iqbal, timnya nyaris tiap hari menjaring, yang berhubungan dengan pelanggaran lalu lintas, macam parkir liar, termasuk pak Ogah.

“Jadi khusus untuk lalu lintas lah,” katanya.

Penulis: Agus Mawan

spot_img

Headline

spot_img
spot_img