
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam beberapa kesempatan juga terlihat ikut andil dalam mempopulerkan Salam Punggawa.
Dalam beberapa kegiatan, gubernur dua periode ini ikut salam Punggawa ditengah-tengah masyarakat. Termasuk saat perayaan HUT IYL di CCC, Maret lalu.
Bahkan, bahasa simbol ‘dukungan’ politik ini juga dipopulerkan SYL dalam paket iklan ucapan di Ramdhan lalu. Hal ini sempat membuat Direktur LP Sibuk, Djusman AR memberikan kritik keras terhadap SYL.
Simiotika salam Punggawa ala SYL dianggapnya tidak etis dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah yang masih aktif. Banyak hal dikuatirkan, salah satunya potensi birokrasi yang tak lagi netral dalam pilgub mendatang.
“Salam tersebut juga berpotensi menimbulkan instabilitas Pilgub Sulsel nantinya. Itu bentuk keberpihakan,” ujar Djusman, akhir Mei lalu.
Faktor konflik kepentingan membuat banyak puhak menaruh kecurigaan akan SYL tidak akan netral di pilgub. IYL merupakan adiknya, dan maju sebagai salah satu kandidat.
Apa benar SYL tidak akan netral?. Secara terbuka, pernyataan dukungan kemungkinan terbesar tidak akan disampaikan saat dirinya masih menjabat gubernur. Namun komunikasi melalui bahasa simbol bisa menjadi kesimpulan kemana SYL berpihak.
Bahasa politik melalui mulut bisa berbohong, tapi konsistensi penggunaan bahasa simbol memberikan pengertian sebenar-benarnya.





