Gus Dur Luput Dari Gelar Pahlawan, Ini Kata Sejarawan

1
74
KH. Abdurrahman Wahid.(Int)

JAKARTA, SULSELEKSPRES.COM – 10 Nopember 2017 diperingati sebagai Hari Pahlawan. Momen ini biasa dipakai oleh Pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan kepada mereka yang berjasa pada negeri ini.

Presiden Joko Widodo kali ini telah menetapkan empat tokoh menjadi pahlawan nasional, Kamis (9/11/2017), namun beberapa nama yang berulang kali masuk daftar kandidat pahlawan tak kunjung dianugerahi gelar tersebut.

Seperti, Presiden keempat KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur misalnya, masuk usulan calon pahlawan nasional sejak 2010 atau setahun sejak ia wafat. Namun Dewan Gelar Tanda Jasa dan Kehormatan akhirnya tidak mengajukan nama Gus Dur kepada Presiden Joko WIdodo.

Empat pahlawan nasional yang ditetapkan 2017 Malahayati (laksamana perempuan Aceh, abad ke-16) Lafran Pane (1922-1991, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam, HMI), Mahmud Marzuki (1915-1946, politikus partai Sarikat Islam, SI) Muhammad Zainuddin Abdul Majid (1898-1997, ulama dari Nusa Tenggara Barat)

Wakil Ketua Dewan Gelar, Jimly Asshiddiqie, mengatakan pemerintah kini lebih mendahulukan tokoh yang wafat puluhan hingga ratusan tahun silam. Ia menyebut, tokoh-tokoh tersebut berperan besar pada perjuangan melawan kolonialisme, tapi dilupakan publik.

“Yang ratusan tahun saja belum (dijadikan pahlawan nasional), yang kuburannya belum kering masa didahulukan,” ujar Jimly kepada BBC, (9/10/2017).

“Pahlawan yang terlupakan perlu didahulukan. Masa ditunda-tunda lagi. (Yang baru wafat) belum tentu tidak pantas, tapi ini soal urutan, jadi tidak perlu dipersoalkan,” kata Jimly melanjutkan.

Empat pahlawan nasional yang baru saja ditetapkan Jokowi adalah laksamana perempuan Aceh, Malahayati, dan tiga tokoh berlatar Islam: pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Lafran Pane, politikus partai Sarikat Islam (SI), Mahmud Marzuki, dan ulama dari Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

Presiden Jokowi memberi ucapan selamat kepada keluarga empat pahlawan nasional baru Indonesia di usai seremoni di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/11).

Selain Gus Dur, satu tokoh lain yang masuk daftar kandidat pahlawan nasional tahun 2017 namun tak ditetapkan adalah Abdul Rahman Baswedan. AR Baswedan adalah wartawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang pernah menjadi Wakil Menteri Penerangan tahun 1946 hingga 1947.

Sebagai syarat pengusulannya menjadi pahlawan nasional, Yayasan Nabil menyusun dan menggelar seminar tentang biografi AR Baswedan. Pada 2014, biografi itu diterbitkan dalam buku berjudul Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan.

Sejarawan Bonnie Triyana menilai gelar pahlawan nasional yang tidak kunjung dianugerahkan kepada tokoh-tokoh seperti Gus Dur tidak mengurangi peran besar yang pernah mereka berikan kepada bangsa dan negara Indonesia.

Bonnie menuturkan, penulisan dan penyebaran nilai-nilai positif dari para tokoh itu jauh lebih penting dari gelar pahlawan nasional.

“Menyebarkan nilai-nilai yang dicontohkan Gus Dur, komitmennya kepada toleransi, keberagaman, dan demokrasi, itu yang perlu terus disebarkan kepada generasi muda,” kata Bonnie.

“Tidak mendapatkan pengakuan secara formal bukan masalah, karena sejarah milik masyarakat. Pengakuan terhadap tokoh bisa muncul ditengah masyarakat,” pungkasnya.