
Dia menyebutkan, Mangrove-mangrove itu ditanam saat air surut, agar tidak terlalu sulit mengaturnya. Biasanya Mangrove, perbandingan keberhasilan dan kegagalan dalam sekali menanam 50:50%.
Menurutnya, kondisi rawan Mangrove sebenarnya berada pada usia 2 tahun. Sebab, pada masa itu tingginya sudah mencapai 1 meter, tetapi belum tumbuh akar-akar samping yang berfungsi sebagai penyangga batang utama, sehingga pada masa tersebut perlu diawasi dan dilakukan pemeliharaan secara ketat.
Selain itu, Mangrove tidak bisa diikatkan dengan Ajir (semacam penyangga kayu yang diikat ke batang Mangrove), sebab hal itu justru merusak Mangrove, karena ditumbuhi tiram yang akan memakan batang mangrove yang masih muda.
BACA: Selain Raja Ampat, Minawisata Juga Dapat Dinikmati di Fakfak
Pertumbuhan Mangrove baru bisa dikatakan aman saat berusia 4 tahun. Sementara, Mangrove yang mati akan langsung diganti dengan bibit baru lagi sebagai bentuk dari pemeliharaannya.
Taiyeb memang belajar dari alam dan pengalaman secara otodidak. Hal itu dibuktikan dengan adanya aturan pemerintah yang dikeluarkan setelah lama dirinya bergelut dengan budidaya Mangrove. Pemerintah memberi aturan jarak tanam yakni 100 x 100 Cm, tetapi Taiyeb menolak hal demikian. Dia lebih memilih 50 x 50 Cm sesuai pengalamannya.
“Kalau terlalu lebar jaraknya, maka akan sangat mudah diterjang gelombang dan itu akan merusak Mangrove yang baru ditanam,”
Kini, Mangrove itu telah mampu menjawab perkiraan Taiyeb dan mengobati kegelisahannya. Namun, sebagai orang yang telanjur mencintai Mangrove, di usia senja, Taiyeb masih tetap aktif terlibat dalam penanaman maupun penyuluhan.



