MAKASSARĀ SULSELEKSPRES.COMĀ – Seorang pendeta asal Papua di Makassar, Nesye Esina Fouw angkat bicara terkait dengan tindakan rasis yang dialami Mahasiswa Papua di Surabaya, termasuk juga yang ada di Asrama Mahasiswa Papua di Makassar, beberapa waktu yang lalu.
Senin malam lalu (19/8/2019) Asrama Papua sempat diserang sekelompok yang diduga oknum kelompok Ormas, hingga mengakibatkan kerusakan fasilitas Asrama, 24 kaca jendela pecah, 1 pintu rusak dan bahkan salah seorang penghuni asrama terkena “anak busur”.
Saat menanyakan persis awal kejadian penyerangan di Asrama Mahasiswa yang berada di Jalan Lanto Daeng Pasewang, Makassar tersebut kepadaĀ Nesye Esina Fouw, dia mengatakan tidak tahu persis kronologi kejadiannya. Namun menurutnya, dia mendapat informasi dari adik adiknya jika mereka diserang.
“adek adek nelpon, kalau mereka di serang, ada yg lempar batu, ada juga yang teriak “monyet”, katanya saat ditemui di Balai Kota Makassar, Rabu (21/8/2019).
Baginya umpatan kata “monyet” yang ditujukan kepada Mahasiswa Papua di Surabaya dan juga di Makassar, sangat menyakitkan bagi orang Papua.
“Itu memang sangat menyakitkan bagi kami, tidak hanya adik adik (Mahasiswa, red), seluruh orang Papua merasa sakit”, tegas anak keturunan Raja Tabir Jayapura ini.
Walau menyakitkan, baginya itu tidak usah dibalas dengan kejahatan. Sebagai seorang Pendeta yang memahami nilai agama dia berpesan agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
“sebagai orang yang memegang ajaran Kristiani, agar kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan”, terangnya.
Sebagai Anak dari Raja Tabir Jayapura, dia juga mengimbau kepada seluruh orang Papua, agar tetap sama-sama menjaga kondisi keamanan.
“Saya minta orang orang yang ada di Jayapura, khususnya saya sebagai Raja Tabir, agar tetap menjaga kondisi keamanan. AgarĀ Kita (orang Papua) di Makassar bisa kuliah baik baik, di Papua jugaĀ aman aman saja”, himbaunya.
Menurutnya, Makassar masih aman aman saja, masyarakat Papua yang ada di Makassar masih merasa aman.
“Saya tidak bisa berdiri disini kalau tidak aman. Masyarakat Makassar bisaĀ menerima Kita di terima dengan baik, Saya masih beraktifitas seperti biasanya, saya ke sini tidak merasa ketakutan”, jelasnya saat menunggu kehadiran Walikota Makassar dalam pertemuan membahas kejadian beberapa waktu lalu di Asrama Mahasiswa Papua, di Balaikota Makassar.
Muh Ismail



