29 C
Makassar
Wednesday, February 11, 2026
HomeRagamMambakar Keberanian di Tengah Pusaran Kematian

Mambakar Keberanian di Tengah Pusaran Kematian

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Siang itu saya menemui seorang pemimpin relawan. Dia sudah malang melintang di dunia itu. Massifnya, sejak bencana tsunami menerjang kota Palu pada September 2018 lalu.

Orangnya biasa saja, tapi kharismanya memang ada. Zakir Sabara, namanya begitu familiar di tengah masyarakat. Lengkapnya, Zakir Sabara H Wata. Ia lahir di Ujung Lamuru kecamatan Lappariaja, Bone Barat, kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada (24/5/1975) silam.

Saat saya temui, Zakir tidak basa-basi. Langsung meminta saya duduk di hadapannya. Sembari menyisihkan beberapa lembar kertas di atas meja kerjanya, dia menodong saya dengan pertanyaan.

“Ada apa? Apa yang harus saya sampaikan,” ketusnya.

Memang, setelah sekian kali bertemu, sikap Zakir selalu seperti itu. Tidak suka basa-basi, tidak suka bertele-tele. Langsung ke pokok pembahasan.

Mungkin itu pengaruh lingkungan masa kecilnya. Atau setidaknya, sikap tegas itu diwariskan dari bapaknya, almarhum Aiptu (Purnawirawan) H. Lawata Rahmat Bin Rammade. Dari gelarnya saja sudah jelas, Zakir adalah anak seorang militer.

Perlahan, akhirnya Zakir mulai bercerita
seputar dunia relawan. Menrutunya, relawan itu panggilan kemanusiaan. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengindahkan panggilan itu.

Terlebih, Zakir mengaku mampu untuk berbuat. Itulah titik awal yang membuat Zakir terjun di dunia relawan. “Kita kan mampu, jadi kita harus berbuat dong. Apalagi panggilan kemanusiaan,” Zakir menimpali pertanyaan saya dengan ketus.

Sebenarnya, Zakir bukan tidak ada kerjaan lain. Dia tergolong orang sibuk. Tanggung jawabnya satu fakultas. Dia pucuk pimpinan (Dekan) di Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Tetapi, itu bukan alasan untuk meninggalkan panggilan kemanusiaan. Bukan berarti juga dia melupakan pekerjaan di Fakultas. Itulah hebatnya dia, mampu berbuat banyak dalam satu waktu.

Di masa pandemi ini, Zakir juga menjadi satu dari sekian banyak relawan yang berperang melawan Covid-19. Bersama dengan Relawan FTI UMI yang ia pimpin, Zakir terus bergerak menggandeng lembaga lain untuk melawan virus mematikan tersebut.

Nama relawan FTI UMI kian populis di kalangan masyarakat. Bahkan, saat kata relawan disebut, rasanya seperti tidak lengkap jika tidak menyertakan FTI UMI di belakangnya. Tetapi, poin pokoknya bukan itu. Keselamatan bersama adalah intinya.

Selama pandemi Corona Virus Disease 2019 menyerang kota Makassar, relawan FTI UMI bersama dengan Tim Gugus Tugas (sekarang Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Palang Merah Indonesia (PMI) kota Makassar, pihak Kepolisian, juga masyarakat luas, terus melakukan pencegahan penularan Covid-19.

Nyaris setiap saat ada saja yang berkeliling melakukan penyemprotan disinfektan, bagi-bagi masker, hand sanitizer, juga selebaran edukasi terkait metode pencegahan Covid-19, seperti menerapkan social distancing dan physical distancing.

Tidak jarang, Zakir ada di sana. Ia memang suka jalan. Rajin keliling. Tour Rumah Sakit, tempat-tempat umum, kantor pemerintahan, sampai lorong tikus ia kunjungi untuk disemprot cairan disinfektak. Penghuninya, diberi masker dan hand sanitizer.

Padahal, selama masa pandemi ini pemerintah menganjurkan kepada masyarakat untuk tetap tinggal di rumah saja kalau tidak ada kepentingan mendesak. Tapi Zakir ya tetap Zakir. Tetap keluyuran, namun bukan untuk plesiran. Melainkan untuk keselamatan ummat.

Tetapi ada satu hal yang membuat saya sedikit kagum. Ternyata, dibalik sikap gagah berani yang ia perlihatkan, ada ketakutan besar yang ia simpan. Hebatnya, dia selalu mampu melawan rasa takut itu.

lTakut itu kan manusiawi. Siapa yang tidak takut coba. Korban berjatuhan di sekeliling kita. Sementara kita harus tetap berjuang, mengajak yang lain untuk selamat. Yang paling rentan terpapar virus kan kita yang di luar terus,” Zakir menjelaskan kepada saya.

Tidak bisa dipungkiri, korban wafat akibat Covid-19 sudah mencapai angka puluhan ribu. Itu di Indonesia saja. Saya juga memaklumi ketakutan-ketakutan seperti yang dirasakan Zakir dan relawan lainnya. Memang menakutkan.

Beruntungnya, semua relawan Zakir tidak ada yang terpapar Covid-19. Semua sehat. Semua tetap berbuat untum sesama. Meskipun kendala tetap saja ada.

“Semua relawan FTI UMI sehat. Tidak ada yang terpapar Covid. Mereka masih tetap stanby, tetap ke lapangan. Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi kita,” ujar Zakir, sembari membenahi letak kacamatanya.

Di sela perbincangan, sesekali Zakir mengecek ponselnya. Seperti menjawab hal yang penting. Percakapan juga sempat jeda. Tapi, semuanya rampung. Ceritanya jelas, tuntas, sekalipun pertemuan kami singkat.

Di kursi kerja yang sedang ia duduki, ada almamater hijau tersampir. Di atas mejanya, ada kalender kecil. Asbak, berikut pena dan buku.

“Saya sebentar lagi rapat. Kita tidak bisa cerita banyak,” ceplosnya, sembari mengepulkan asap tipis dari tembakau yang ia hisap.

Saya memaksimalkan waktu yang ada. Saya mencecar sejumlah pertanyaan dalam waktu yang singkat. Tentu saja jawabannya juga singkat. Karena, waktu yang tersisa juga singkat.

“Relawan itu punya banyak kendala. Akomodasi yang paling utama. Tapi di tengah perjalanan membantu sesama, ada saja orang baik yang meberikan jalan.”

“Buktinya kita bisa bikin hand sanitizer sendiri. Bikin APD sendiri. Itu jarena bantuan orang lain juga,” lanjut Zakir, dengan kepulan asap tipis yang lagi-lagi ia keluarkan dari bibirnya.

Di penghujung pertemuan, Zakir meminta kepada saya untuk menulis poin penting. “Tetap mawas diri. Jaga diri, jaga keluarga, jaga sesama.”

spot_img

Headline

spot_img
spot_img