MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – 10 November merupakan momentum bersejarah bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tanggal tersebut telah ditetapkan sebagai peringatan Hari Pahlawan Nasional.
Pada hari ini, sudah sepatutnya semua warga Indonesia turut mengenang jasa pahlawan. Hal ini juga menjadi perhatian bagi pasangan calon walikota dan wakil walikota Makassar nomor urut 3, Syamsu Rizal-Fadli Ananda.
Pasangan berjargon DILAN tersebut menilai, peringatan Hari Pahlawan bukan sekadar ajang seremoni semata, melainkan hal yang sarat akan pemaknaan, sebagai bahan evaluasi diri untuk turut berkontribusi dalam pembangunan.
Menurut Deng Ical, Sulawesi Selatan memiliki banyak pahlawan nasional, juga pejuang yang dapat menjadi teladan dan inspirasi.
DILAN sendiri memiliki tiga pahlawan nasional yang menjadi role model dalam kepemimpinan. Ketiga pahlawan yang jadi inspirasi dan teladan DILAN adalah ulama besar Syekh Yusuf, Raja Gowa Sultan Hasanuddin, dan Raja Tallo Karaeng Pattingalloang.
Ketiga pahlawan tersebut menjadi teladan dan insipirasinya dalam membangun Kota Makassar. Perjalanan karirnya, mulai dari menjadi anggota DPRD, wakil walikota, hingga pelaksana tugas walikota, dirinya banyak belajar dari prinsip-prinsip yang dipegang teguh oleh Syekh Yusuf, Sultan Hasanuddin, dan Karaeng Pattingaloang.
“Dari Syekh Yusuf kita bisa petik keteladanan dan insipirasi untuk aspek religius dan pendidikan. Dimana beliau adalah sosok ulama cerdas yang menyiarkan agama Islam hingga ke Afrika,” bebernya, Selasa (10/11/2020).
“Lalu dari Sultan Hasanuddin, kita dapat teladani keberanian dan kegigihan, dengan begitu kita jadi generasi yang pantang menyerah. Dan, dari Karaeng Pattingaloang kita belajar tentang kearifan, beliau sosok yang sangat cerdas dan bijak,” terang Deng Ical.
Ketua PMI kota Makassar itu bahkan menyampaikan salah satu prinsip kepemimpinan yang dipegangnya berasal dari pahlawan idolanya, Karaeng Pattingalloang.
Dalam menyusun visi-misi dan program, Deng Ical merujuk pada prinsip Raja Tallo yang diakui sebagai cendikiawan oleh dunia barat itu yakni pemimpin baik punya mimpi yang sama dengan rakyat atau orang yang dipimpinnya.
“Ya makanya visi misi dan program DILAN dirancang berdasarkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, bukan karena keinginan atau kepentingan elite. Sejak dulu, saya selalu memegang prinsip Karaeng Pattingalloang soal pemimpin baik itu,” tukasnya.
Deng Ical juga mengatakan, pahlawan tidak boleh dimaknai dalam arti sempit. Pahlawan bukan hanya orang yang berjuang di medan perang semata.
Generasi bangsa saat ini dan masa depan juga bisa disebut pahlawan bila mampu mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif dan memberi arti kepada banyak orang.
Untuk itu, Deng Ical mengajak segenap masyarakat untuk turut berkontribusi membangun bangsa dan daerah. Tiap orang bisa menjadi pahlawan dalam skala tertentu, setidaknya pada bidang keilmuan maupun profesi masing-masing.
“Bagi DILAN, Hari Pahlawan merupakan momentum bagi setiap orang untuk berbakti mengisi kemerdekaan dan menjadi pahlawan dalam skala tertentu.”
“Ya kita ambil contoh, para tenaga kesehatan saat ini merupakan pahlawan, dimana mereka menjadi garda terdepan menghadapi pandemi Covid-19. Nah, kita semua harus ikut berkontribusi membangun daerah dan bangsa,” tutupnya.



