MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Penambangan pasir oleh PT. Royal Boskalis dan Jan De Nul, di Wilayah Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, membuat warga panik. Pasalnya pengerukan pasir skala besar tersebut mengakibatkan abrasi yang cukup parah di Desa Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara.
Divisi Advokasi, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulsel, Muhaimin Arsenio, mengatakan bahwa kegiatan pengerukan pasir illegal untuk menimbun mega proyek Center Point of Indonesia (CPI) dan New Port Makssar (MNP) tersebut memberikan dampak buruk bagi masyarakat Kabupaten Takalar, khususnya Kecamatan Galesong Utara.
BACA: TP2D Tinjau Lokasi Rencana Pembangunan Jalan di Seko
“Kegiatan penambangan pasir laut yang dilakukan oleh kapal Boskalis dan Jan De Nul, menyebabkan abrasi pesisir pantai Galesong raya. Aktivitas tersebut sudah merusak pemakaman (kuburan) milik masyarakat di Desa Mangindara dan Desa Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara,” katanya, Senin (19/11/2018).
Dua pemakaman di desa tersebut terncama hilang. Dikarenakan Abrasi pantai semikin semakin bertambah. Hal ini belum ada penanganan khusus dari pihak desa maupun pemerintah daerah serta pihak perusahaan untuk memperbaiki dan mencegah agar kerusakan ini tidak meluas.
BACA: Aktivitas Tambang Ancam 16.500 Warga Sidrap Kehilangan Mata Pencaharian
Muhaimin menambahkan bahwa panjang abrasi saat ini mencapai 25 hingga 30 meter dari pesisir. Hal itu terjadi semenjak adanya penambangan pasir yang dilakukan oleh PT. Boskalis tersebut. “Abrasi mulai terjadi pada Desember 2017 lalu hingga November 2018, yang paling parah abrasi pesisirnya terjadi dua bulan terakhir ini,” jelasnya.
Di Desa Salumpungan, setidaknya ada 3 mayat yang sudah kelihatan. Tulang belulang dan kain kafan mayat tersebut sudah bertebaran di pesisir. Ini belum termasuk mayat yang hayut dilaut. Hal ini terjadi juga di desa Mangindara, sebagian kuburan tertutupi oleh pasir laut.
BACA: Tambang Pasir Dinilai Ilegal Serta Berpotensi Terjadi Banjir dan Longsor
“Sudah banyak mayat manusia hilang yang tertutupi oleh pasir, keluarga almarhum marah melihat kuburan neneknya rusak, mereka tidak tahu mengadu dimana masalah tersebut.Kuburan masyarakat pesisir belum teridentifikasi, berapa mayat yang hilang,” ungkapnya.



