Menurut Indraatmoko, sembilan peserta itu dipulangkan karena terbukti tidak ikut dalam aksi yang digelar peserta berseragam hitam-hitam, yang berujung pengrusakan gerai MC Donalds.
“(Mereka) tidak terlibat aksi,” kata Indraatmoko saat dikonfirmasi, Sabtu (4/5/2019).
Sementara itu, DN, salah seorang ibu dari seorang demonstran yang ditangkap. Saat ditemui di rumahnya, Jumat (3/5/2019) malam, ia bercerita, anaknya ditangkap pada Kamis sekira pukul 01.00 Wita dini hari.
Mulanya, DN tidur berdekatan dengan anaknya di depan ruang tamu. Saat suntuk malam, pintu depan rumah terdengar ketokan. Merasa kehadiran tamu, ia langsung membuka pintu.
Dihadapan dia, tampak dua orang berbadan besar berpakaian preman berdiri depan pintu. DN mengaku kaget.
Sementara di jalan depan rumah, ia melihat dua mobil dan setidaknya dua motor lebih terparkir. Walaupun DN tidak melihat atribut polisi, berupa seragam ataupun pistol, namun ia menyakini mereka semua adalah polisi.
“Banyak ki, ada naik mobil ada juga naik motor, lebih dua motor, pake baju preman semuaji tidak ada yang pakai baju polisi,” ujarnya.
Kata dia, kedua polisi tersebut lantas menanyakan jumlah keluarga dalam rumah DN. DN hanya menjawab singkat; “banyak.” Sembari menunjuk, polisi kembali menanyakan nama yang tengah tidur di ruang tamu, saat itulah DN menyebut nama anaknya.
Setelahnya, pihak kepolisian menanyakan keikutsertaannya pada demonstrasi Hari Buruh. Melalui cerita DN, anaknya saat itu mengakui ikut serta berdemo bersama dengan buruh lain.
Setelahnya, menurut kesaksian DN, tanpa memperlihatkan surat penangkapan, pihak kepolisian langsung menangkap anaknya. Polisi pun membawa barang bukti berupa motor dan tas yang ditemukan dalam bagasi motor tanpa memperlihatkan surat penyitaan barang bukti.
Keterangan DN, polisi saat itu mengatakan anaknya akan dibawa ke kantor Polrestabes Makassar sebagai saksi. Namun hingga tiga hari setelahnya hingga berita ini ditulis, anak DN tak kunjung dibiarkan pulang.
Penulis: Agus Mawan



