24 C
Makassar
Selasa, Agustus 9, 2022
BerandaHeadlineDua Kepala Dinas Pemkab Gowa Jadi Tersangka Kasus Pembangunan Kota Idaman

Dua Kepala Dinas Pemkab Gowa Jadi Tersangka Kasus Pembangunan Kota Idaman

- Advertisement -

GOWA, SULSELEKSPRES.COM – Penyidik Satreskrim Polres Gowa, kembali mengamankan dua tersangka baru, dalam pusaran kasus rencana pembangunan kota idaman di Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa.

“Dua tersangka baru kini kembali diamankan Polres Gowa dalam kasus pembangunan kota idaman di Pattallassang ini, mereka adalah MF dan ASS yang keduanya berperan melegalisasi dan menandatangani Surat Pernyataan Peralihan Hak Atas Tanah tahun 2011 dan 2015 dan ditetapkan sebagai tersangka sejak 03 Mei kemarin,” terang Wakapolres Gowa, Kompol Muh. Fajri Mustafa, Sabtu (4/5/2019) siang.

Kedua tersangka adalah MF (48) selaku Kadispora dan ASS (45) sebagai Kadis Perindag. Kedua tersangka ini kata Fajri, melakukan aksinya dengan menggunakan empat modus sekaligus, diantaranya melegalisasi dan menandatangani dokumen yang memuat keterangan palsu salam Surat Keterangan dan Surat Pernyataan Peralihan Hak Atas Tanah serta tersangka PPATS (camat) tidak membuat surat pernyataan peralihan hak atas tanah tetapi mengarahkan PT. SIP (Sinar Indonesia Property) untuk membuatnya.

“Modus tersangka juga yakni memasukkan klausul seolah-olah tanah yang ditransaksikan dalam Surat Pernyataan Peralihan Hak Atas Tanah tahun 2011 dan 2015 tidak dimiliki oleh pihak lain,” ujar dia.

Tak hanya itu, tersangka juga diduga telah memberikan bantuan pada saat penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh PT. SIP dengan cara ikut melegalisasi dan menandatangani dokumen yang digunakan PT. SIP untuk melakukan transaksi dengan pihak Forkopimda Gowa.

Kata Fajri, MF dijerat dengan pasal 263 ayat (1) KUHP dan atau Pasal 263 ayat (2) KUHP dengan ancaman hukuman selama 6 tahun penjara, sementara tersangka lel.ASS dijerat dengan Pasal 263 ayat (1) KUHP dan atau Pasal 263 ayat (2) KUHP dan atau Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP jo Pasal 56 KUHP dengan ancaman hukuman selama 6 tahun penjara.

Penulis: Agus Mawan
spot_img

Headline