24.1 C
Makassar
Thursday, June 18, 2026
HomeDaerahWarga Desa Mappesangka Ciptakan Inovasi Baru Bidang Pertanian

Warga Desa Mappesangka Ciptakan Inovasi Baru Bidang Pertanian

- Advertisement -

WATAMPONES, SULSELEKSPRES.COM – Seorang warga Dusun Cinnong, Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, Udin, 35, menciptakan sebuah inovasi terbaru pada bidang pertanian.

Salah satu inovasinya penggunaan remote kontrol yang dapat mengendalikan traktor. Traktor ini dikendalikan dari jarak jauh selanjutnya disambungkan dengan berbagai fungsi operasional otomatis di traktor.

Udin yang hanya menempuh pendidikan sampai kelas 3 Sekolah Dasar (SD) menciptakan inovasi baru dengan mengoperasikan traktor tanpa menyentuhnya.

Pria kelahiran Pallawa 5 Desember 1986 yang saat ini menetap di Dusun Cinnong, Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre.

“Remote control traktor ini awalnya hanya utak-atik elektronik dari barang-barang bekas. Pada saat itu muncul dalam pikiran saya membuat sebuah remote control untuk bisa menjalankan traktor di sawah,” katanya
kepada sulselekspres.com Kamis, (04/06).

Menurut, Udin mengungkapkan ide pembuatan ini sejak awal 2018. Waktu itu, ia pernah melakukan ujicoba, tetapi masih terdapat kekurangan, terutama di komponen papan sirkuit cetak dan power windows. Kedua komponen tersebut tidak bisa bertahan lama.

Remote control yang dia buat itu baru bisa rampung pengerjaannya setelah hampir 2 tahun lamanya. Dalam mengerjakan, dia juga tidak pernah menonton video-video YouTube, dia hanya mengandalkan pikirannya bagaimana bisa membuat sesuatu hal yang baru.

“Awalnya saya coba itu belum terlalu sempurna, makanya saya ulangi sekali lagi dan tetap optimis kalau ini bisa saya kerjakan, yang membuat kendala prosesnya lama, karena alatnya tidak ada dijual di Makassar, jadi terpaksa harus beli online,” ungkapnya.

Ia kemudian melakukan perbaikan dan kali ini berhasil. Kini traktor tersebut dapat digunakan membajak sawah. Untuk satu hektar sawah, traktor yang menggunakan remote kontrol ini hanya membutuhkan waktu sekira 2 hingga 3 jam.

“Waktu membajak sawah lebih efisien. Selain itu, tenaga tidak keluar. Cukup dikemudikan lewat remote kontrol,” ungkapnya.

Salah satu kelebihan dari remote control traktor ini yaitu kita tidak perlu lagi turun ke sawah penuh lumpur untuk menjalankannya. Pihaknya hanya tinggal berdiri dan mengendalikannya melalui remote control. Jaraknya bisa mencapai 500 meter jika tidak ada yang menghalangi pandangan.

Selain itu, baterai remote yang berkekuatan 6000 mh itu bisa digunakan sampai 2 kali 24 jam lamanya.

“Sebenarnya sisa satu kekurangannya remote ini karena belum mampu menghidupkan mesin sendiri, masih harus manual. Sebenarnya bisa saja hidup sendiri cuma terkendala biaya,” ujarnya.

Traktor dengan remote kontrol ini memiliki jangkauan 500 meter jika tidak ada yang mengahalangi. Tak hanya itu, baterai remote kontrol dapat bertahan 2×24 jam.

Adapun komponen yang digunakan seperti aki berdaya 10 ampere, papan sircuit cetak, power windows dan remote kontrol yang ia beli kemudian dirakit kembali untuk biaya pembuatan Ia pun menghabiskan Rp 5 juta. Udin mengaku untuk membuat satu unit traktor dengan remote kontrol hanya butuh tiga hari. Itu pun, kata dia, jika komponen sudah lengkap.

Dengan adanya inovasi yang dia ciptakan ini, Udin berharap bisa menjadi inspirasi para petani lainnya agar sedikit bisa memudahkan dalam menggarap sawah sehingga tidak menguras tenaga terlalu banyak

Selain memiliki traktor yang dikendalikan melalui remote kontrol, warga Desa Mappesangka lainnya juga menggunakan pompa hydrant tanpa menggunakan listrik.

Salah satu warga yang memiliki gagasan dalam pembangunan pompa hidrant ini, Kamaruddin mengatakan, dirinya bersama warga lain sudah mulai mengerjakannya sejak 2014 lalu. Namun belum bisa berhasil beberapa kali.

“Awalnya itu kami menggunakan kincir air untuk bisa mengairi sawah yang tadah hujan di sekitar sungai namun tidak berhasil, bahkan kami coba 2 kali menggunakan kincir tapi belum berhasil saya bersama warga lainnya akhirnya mencari cara lain, sehingga pada akhirnya menggunakan pompa hidrant. Sebelum menggunakan pompa hidrant ini warga terlebih dulu membuat bendungan di sungai untuk menampung air, air itulah nanti yang dimasukan pipa yang mengisap ke pompa kemudian mengeluarkan ke sawah-sawah warga,” kata Kamaruddin.

Lanjut, kata Dia pembangunan pompa hydrant tanpa listrik ini dibangun melalui swadaya masyarakat, tanpa bantuan sepeserpun dari pemerintah setempat. Pembangunannya memerlukan waktu yang cukup lama hingga beberapa tahun.

“Guna mendukung kerja alat ini dibuat bendungan. Pembuatan bendungan menggunakan dana pribadi. Kalau pengerjaannya dilakukan secara gotong royong. Untuk bendungan sendiri itu makan biaya sekitar Rp10 jutaan, kalau pompanya dan pipa segala macam itu estimasi biaya sekitar Rp20 juta. Jadi totalnya semua sekitar Rp30 juta, dan itu semua diperoleh dari swadaya masyarakat tanpa bantuan sepeserpun dari pemerintah setempat,” lanjutnya.

Menurut, Kamaruddin pompa hydrant ini mampu mendorong air sampai dengan ketinggian 40 meter lebih. Dengan debit air 3 liter per detik. Ini menggunakan tekanan udara dan memanfaatkan dorongan air. .

“Alat pompa hydrant ini dapat mengairi sawah seluas 6 hektar. Waktu panennya pun dapat dua kali dalam setahun dulu hanya bisa satu kali panen dalam setahun karena hanya mengandalkan air hujan semenjak adanya pompa ini. Masyarakat sangat merasakan manfaatnya,” terangnya.

Sementara salah seorang warga lainnya Anto mengharapkan salah satu tujuan dengan dibangunnya pompa ini bisa menjadikan inspirasi bagi para petani lainnya untuk bisa membantu memudahkan kerjaan para petani kita.

“Harapan kami tentunya bagaimana inovasi kami ini mendapat legalitas dari pemerintah, bahwa inilah karya para warga di Desa Mappesangka, khususnya di Dusun Cinnong,” harapnya

Selain kedua inovasi tersebut, ada pula inovasi penyemprotan lahan pertanian secara otomatis, ada juga alat perangkap babi dibuat yang dipasang di setiap kebun. Dan hanya berfungsi ketika malam hari saja.

spot_img

Headline

spot_img
spot_img