Bikin Terharu, Tulisan Pemuda Sinjai di Hari Ayah

Sumber Foto : Facebook Arief Balla

SULSELEKSPRES.COM – Momen hari ayah diperingati setiap 12 November. Dunia maya dibanjiri dengan postingan untuk memperingati Hari Ayah ini.

Umumnya, Hari Ayah diperingati dengan pemberian hadiah kepada ayah atau melakukan acara keluarga. Namun tidak bagi Arief Balla, Pemuda kelahiran Kabupaten Sinjai yang saat ini menempuh pendidikan di Amerika Serikat ini mempersembahkan sebuah tulisan untuk mengenang ayahnya.

Baca: Putri Asal Sinjai Ini Kembali Toreh Prestasi Internasional

Baca: Putri Sinjai Jadi Delegasi Indonesia Di Pemuda Mendunia Chapter Singapore

Berikut tulisan lengkap Arif Balla yang dia tulis dan posting diakun Facebook pribadinya:

Balla, Bapak saya

(Selamat hari ayah nasional. Saya memanggil ayah saya dengan bapak)

Saya tidak banyak bicara dengannya. Saya berbicara seperlunya. Selalu. 

Ia adalah lelaki yang seluruh apa yang dimilikinya adalah buah dari tetes keringatnya sendiri. Ia tak mewarisi apapun dari orang tuanya. Juga tidak dari mertuanya, orang tua dari ibu saya. Ia mengajari dan mendidik dirinya sendiri.

Sepanjang hidupnya tak pernah disentuhnya bangku-bangku sekolah. Ia lebih pandai mencangkul daripada menulis. Ia lebih piawai membajak tanah daripada membaca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tak bisa dilakukannya. Sampai kini. Mungkin selamanya. 

Konon, ini kata ibu saya, bapak akan sangat bangga sekali jika memiliki 5 anak laki-laki. Tuhan Maha Mengabulkan. Ia mendapat 7 anak laki-laki. Kasianlah ibu saya. Dibelinya tanah berhektar-hektar di 2 kampung. Barangkali ia ingin anak-anaknya tak merasai yang telah dirasakannya.

Hutan-hutan dibuka siang malam. Dijadikan sawah berderet-deret. Lembah dan bukit ditanami ragam tanaman agar anak-anaknya tak perlu meminta-minta. Rumahnya dibuatnya dari kayu-kayu dari kebunnya sendiri. Ia sangat pandai soal hitung menghitung dan ukur mengukur. Ia mendidik putra-putranya mengikuti jejaknya. 

Putranya yang keenam, Arief, dididiknya sejak awal hingga mampu membajak sawah sendiri dengan sapi, atau menanam padi sendiri diusia belia atau  menderes nira, sebelum kelas 4 sd. Toh takdir tiada disangka. Arief meninggalkannya di kelas 4 sd. Ia tak begitu merestui juga tak menolak. Barangkali sebab ia tahu dan sadar anaknya itu berangkat tanpa berharap biaya apapun. Saya menduga, ia selalu mengira menggarap tanahnya jauh lebih baik daripada bersekolah.

Ia benar. Sebab memang begitulah yang dijalaninya. Sebab memang ia telah meraih hasil keringatnya sendiri dari hasil panen ragam tanamannya. 

Ia bapak yang terlalu baik. Ia mengira semua orang baik seperti dirinya, apalagi jika dilihatnya adalah orang berpendidikan. Hasil-hasil kebunnya dipinjamkan ke orang-orang yang lebih tinggi darinya, setidaknya dari sisi pendidikan. Tabungan, motor, dan hartanya yang lain pergi begitu saja. Dan ia tak menuntut apalagi ngotot.

“Na rasakan tongji nanti akibat perbuatannya. Tuhan itu pintar.”

Pandangannya tentang pendidikan mulai berubah pada suatu ketika ia mendengar suara anaknya berceramah lewat radio Sinjai Bersatu FM mewakili kecamatannya saat MTQ tingkat kabupaten. Juga ketika ia tahu anaknya itu juara umum di esemanya dan teman-temannya sering datang ke rumah belajar. 

“Kau tadi yang ceramah itu? Kau yang juara satu di sekolahmu kata anaknya pung …….?”

“Iye.” 

Sudah saya bilang, saya tidak banyak bicara.

Ia mulai paham mengapa anaknya itu ngotot bersekolah tinggi-tinggi. Sudah lama ia sadar sejujurnya. Pernah suatu kali saat SD. Saya kehujanan. Basah kuyup. Buku-buku basah. Ia mengambil buku-buku itu dan memanaskannnya diatas api. Saya tertegun. Menatapnya dari jauh dengan diam. Sebuah peristiwa yang selalu saya kenang, terutama akhir-akhir ini.

Namanya menjadi bagian dari namaku dalam tulisan-tulisan sejak 2015. Sebuah upaya sederhana membalas segala kebaikannya yang diajarkannya lewat perbuatannya. Dengan namanya di belakang namaku, maka namanya akan selalu disebut di setiap kali namaku disebut. Di paspor namanya menjadi nama kedua. Pun begitu di absensi  di Amrik ini.

Setiap tulisanku terbit, namanya akan turut dibaca meski ia tak tahu membaca. Setiap kali absensi, namanya akan selalu disebut oleh profesor saya di Amrik meski ia tentu tak tahu apapun Bahasa Inggris, walau hanya yes atau no. 

Sampai hari ini, saya menduga ia tak pernah tahu jika saya selalu menuliskan namanya di buku dan di koran. Tak pernah tahu jika namanya selalu disebut para profesor di Amrik ini. 

Ia juga tak pernah tahu dan tak harus tahu jika sumbangan di masjid hasil dari buku saya adalah atas namanya dan ibu saya. (Big thanks untukmu yang turut membeli buku saya. Dengan begitu, Anda membantu saya berbakti pada orang tua. Love you full)

Saya ingin membalasnya dengan diam. Sebagaimana diamnya ia berdoa untuk saya. Sebagaimana diamnya ia menegakkan harga dirinya sebagai lelaki yang pantang meminta-minta. Sebagaimana diamnya dia menahan amarah dan diam-diam memaafkan  perlakuan orang-orang yang seharusnya membantunya. 

Sebelum berangkat ke Amrik, akhirnya saya berbicara agak panjang dan bertanya 3 hal: Pertama, silsilah keluarga saya sampai 7 turunan. Kedua, nama-nama mereka yang telah membantunya saat bersusah payah . Ketiga, nama-nama mereka  yang telah membodohi dan merampas hak-haknya.

Doa-doa terbaik untukmu dalam diamku, Bapak saya yang hatinya baik. 

Hei, bagaimana dengan ayahmu? Ceritakanlah…

11-11-17 
Illinois, Amrik

BACA JUGA :  Ini Pesan Danny Pomanto di Hari Ayah