Cerita Kantong Kresek Merah Hiasi Helm di Balai Kota Makassar

Menjadi Jukir juga tidak membuatnya merasa malu atau merasa dirinya dipandang rendah. Jika diselaraskan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Pramodeya Ananta. T, “Yang harus malu itu mereka karena mereka takut untuk bekerja. Kau kan kerja. kau tidak boleh malu. Mereka yang harus malu, Tidak berani kerja. Semua orang bekerja, itu adalah mulia. Yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan.”

walaupun kini ia sudah menginjak 55 tahun menghidup, sosok lelaki lanjut usia itu masih dengan semangatnya yang membara memberikan pelayanan bagi pemilik sepeda motor yang hendak memarkirkan kendaraannya ketika masuk di kantor Walikota Makassar.

Salah satu bentuk pelayanan yang diberikannya adalah membungkus helm para pengendara dengan menggunakan kantong kresek berwarna merah.

“Ini supaya helmnya tidak basah kalau hujan, tidak berdebu dan melindungi dari para pencuri helm. Karena kalau helmnya bagus dan mengkilap, biasanya banyak pencuri yang berminat mengambil, tapi kalau di bungkus begini kan tidak kelihatan, “ungkapnya dibarengi tawa.

Hanya saja, dalam pelayanannya ia masih belum mengerti tentang tata cara perparkiran yang baik demi kemaslahatan semua elemen termasuk trotoar yang diperuntukkan kepada pejalan kaki dan ia mengaku tidak tahu akan hal itu.
“kan kebanyakan orang dalam juga yang punya ini motor, jadi tidak apa-apa, “tuturnya sambil menunjuk kearah Kantor Walikota.

Kurangnya pemahaman akan sistem perparkiran bukanlah kemauan dari dirinya, harusnya PD Parkir Makassar memberikan pemahaman kepada petugas Jukirnya dilapangan tentang bagaimana tata cara pengelolaan parkir yang baik dan benar, bukan hanya sekedar mewajibkan mereka para Jukir untuk menyetor Rp. 60.000/hari. Agar pejalan kaki yang juga aktif membayar pajak dapat merasakan fasilitas umum lainnya seperti trotoar.

BACA JUGA :  Doyan Minum Es, Titi Wati Miliki Bobot 350 Kg