24 C
Makassar
Rabu, Desember 1, 2021
BerandaMetropolisDPLH Sulsel: Pembangunan Aspal Curah di Bulukumba Tidak Merusak Lingkungan

DPLH Sulsel: Pembangunan Aspal Curah di Bulukumba Tidak Merusak Lingkungan

- Advertisement -
SULSELEKSPRES.COM – Ratusan petani rumput laut di Kecamatan Bontobahari dan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel) khawatir dengan rencana pembangunan Terminal dan Dermaga Aspal Curah di daerah mereka.
Ditakutkan, dampak pembangunan itu akan mencemari laut yang berujung hilangnya mata pencaharian para petani rumput laut.
Menampik ancaman kerusakan wilayah pesisir tersebut, Kepala Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) Sulsel, Andi Hasbi Nur MT mengaku, pihaknya sudah melakukan kajian potensi kerusakan pada wilayah pesisir.
Hasilnya, seperti yang tertera dalam dokumen AMDAL, ia mengatakan, potensi pencemaran tersebut tidaklah ditemukan.
“Semua dampak yang diperkirakan akan atau berpotensi ada, mulai tahap prakonstruksi sampai tahap operasional sudah ada dalam dokumen AMDAL pemrakarsanya,” jelasnya saat dimintai keterangan, Sabtu (17/8/2019).
“Berdasarkan besaran dan bentuk dampak semua secara ilmu dan teknologi dapat dikendalikan sampai batas yang diperkenankan dalam aturan yang berlaku,” lanjutnya.
Ia mengatakan, selama pemrakarsa menjalankan apa yang ditetapkan dalam dokumen AMDAL, khususnya yang ada dalam dokumen rencana pengelolaan dan rencana pemantauan, ia menjamin tidak bakal terjadi pencemaran lingkungan seperti yang ditakutkan para petani rumput laut.
Baca juga:
Ia pun meminta bukti kepada para petani rumput laut yang mengaku telah gagal panen sewaktu dilakukan pengeboran dan pengambilan sampel pada akhir tahun 2018 lalu.
“Kalo masyarakat punya bukti bahwa pengeboran itu penyebabnya, tentu harus mendapat tanggapan dari pemrakarsa dan seharusnya disampaikan secara resmi agar dapat ditanggapi dan ditembuskan ke DLHK kabupaten dan DPLH propinsi,” tandasnya.
Pembangunan Terminal dan Dermaga Aspal Curah sendiri akan berlokasi di wilayah Kelurahan Sapolohe, Kecamatan Bontobahari. Rencana ini terus ditolak warga, mereka takut mata pencaharian mereka sebagai petani rumput laut bakal hilang nantinya jika laut sudah tercemar.
Ahmad sebagai anggota Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) yang mendampingi petani menceritakan nasib yang menimpa para petani.
Pada akhir tahun 2018 lalu. Para petani mengalami gagal panen akibat matinya rumput laut yang mereka budidayakan. Mereka menaksir, penyebabnya adalah sewaktu dilakukan pengeboran dan pengambilan sampel yang menyebabkan air laut menjadi keruh.
Ia mengatakan, jika pembangunan terus dilanjutkan, maka akan mengancam setidaknya 317 KK petani rumput laut yang berada di Kecamatan Bontobahari dan Ujung Loe.
BACA JUGA :  Satpol PP Makassar Fokus Kawal Hari Libur
BACA JUGA
spot_img
spot_img
spot_img

Headline

IDR - Indonesian Rupiah
USD
14.320,0
EUR
16.230,6
JPY
126,5
KRW
12,1
MYR
3.405,9
SGD
10.487,3