Dua Srikandi Nasdem Maju Pilwali Makassar, Pengamat: Partai Jadi Untung

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Meski satu direstui, yang satunya memilih jalan lain, duo srikandi NasDem bakal berhadap-hadapan pada Pilwali Makassar 2018.

Ketua DPD NasDem Makassar, Andi Rachmatika Dewi alias Cicu, telah mendapat surat tugas dari partainya. Menguat isu, Cicu akan digandeng oleh jagoan Golkar, yang juga CEO PSM Makassar, Munafri Arifuddin.

Sementara karib Cicu, yang juga bawahannya di NasDem Makassar, Indira Mulyasari Paramastuti (bendahara), memilih menerima pinangan sang incumbent, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto.

Yang menarik, NasDem ialah satu-satunya parpol yang menempatkan dua kadernya. Apalagi, wacana head to head pada kontestasi politik tahun depan kian berhembus. Praktis, siapapun yang terpilih kelak, NasDem akan menjadi partai yang paling beruntung.

Terlebih, hingga kini, Indira yang menduduki Wakil Ketua DPRD Makassar, belum dijatuhi sanksi. Walaupun elite NasDem Sulsel berjanji, akan bersikap seusai Danny-Indira melangsungkan deklarasi.

Di sisi lain, Golkar boleh dikata parpol yang cukup merugi Sejarah mencatat, untuk kali pertama, Golkar tak mengusung kader murni. Appi, sapaan Munafri, meski telah berindentitas Golkar, namun dianggap sebagai kader karbitan.

Kader tulen Golkar, seperti Rusdin Abdullah (Bendahara DPD I Golkar Sulsel) dan Farouk M Betta (Ketua DPD II Golkar Makassar) malah terdepak. Padalah pengalaman berpolitik keduanya tak perlu disangsikan lagi.

Rudal pernah mencicipi pahit-manisnya pergolakan pada Pilwali Makassar 2013 lalu. Meski, harus berakhir dengan kepala tertunduk. Begitu pun dengan Farouk. Meski selalu gagal memasuki arena pertarungan, namun dua kali menjabat Ketua DPRD Makassar ialah prestasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Bagi Pengamat Politik Unhas, Jayadi Nas, kondisi politik saat ini memang begitu menguntungkan buat NasDem. Munculnya Cicu dan Indira menandakan, NasDem dan kadernya dianggap begitu seksi bagi kandidat lain.

BACA JUGA :  Kolom Kosong Menangi Pilwali Makassar

Kendati demikian, Jayadi menilai, diperlukan sebuah strategi khusus dari elite NasDem untuk tetap menjaga keutuhan dan kesolidan kader dan simpatisan di jajaran akar rumput.

Karena kalau rekomendasi itu diberikan kepada Indira, akan berdampak buruk bagi kesolidan kader yang sejak awal telah solid mendukung Cicu, paparnya, saat dikonfirmasi via telepon, pada Minggu (5/11/2017).

Di lain pihak, Golkar yang mendorong Appi sebagai usungan, menjadi preseden buruk untuk partai. “Karena orang yang sudah lama di dalam (kader partai), justru tidak mendapat rekomendasi. Dengan demikian, apabila dalam internal partai tidak ada kader yang mumpuni, maka partai membuka ruang untuk yang lain. Biasanya seperti itu dan Golkar mengambil langkah seperti itu,”ucap Jayadi.

Hanya memang, katanya, tidak diusungnya kader internal, menandakan ada hal yang tidak berjalan di dalam partai Golkar. Utamanya, pada proses rekrutmen dan kaderisasi partai Golkar.

Proses rekrutmen dan kaderisasi partai yang tidak berjalan baik inilah yang membuat Golkar lebih memilih figur eksternal ketimbang mendorong internal,pungkas eks Ketua KPU Sulsel tersebut.