32 C
Makassar
Jumat, Mei 20, 2022
BerandaHeadlineHPN 2019: Mereka yang Mati Demi Publik

HPN 2019: Mereka yang Mati Demi Publik

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COMLaman pengamatan milik Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO), menunjukkan angka kasus pembunuhan terhadap jurnalis di dunia sebesar 1.312, sejak tahun 1993 hingga sekarang.

Data mutakhir terbaru, terkait kasus pembunuhan terhadap jurnalis terjadi, pada 20 Januari 2019 lalu, yang menewaskan jurnalis Meksiko, Rafael Murúa Manríquez, seorang wartawan Radio Kashana FM.

“Saya mengutuk pembunuhan Rafael Murúa Manríquez,” kata Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, 24 Januari 2019, dalam keterangan berkata, yang dilansir dari situs resmi UNESCO.

Dalam pengungkapan kasus pembunuhan jurnalis, baik Rafael maupun lainnya, Audrey beranggapan, hanya lewat langkah investigasi independen lah, yang dapat menyeret para pelaku ke meja pengadilan.

“Tidak ada masyarakat yang dapat menerima bahwa wartawan ditekan, diganggu dan bahkan dibunuh karena mencoba berbagi informasi dengan sesama warga dan berkontribusi pada perdebatan publik yang transparan,” kata Audrey.

Baca: Remisi Pembunuh Jurnalis Prabangsa Dicabut

Sebelum akhirnya tewas dibunuh, Rafael sempat diberikan perlindungan sejak 2017, pascapendiri Radiokashana tersebut, mengaku, bahwa dirinya telah menerima sejumlah ancaman akibat pemberitaan politiknya di Negara yang dikenal; “salah satu paling mematikan di dunia untuk praktik jurnalisme.”

Mayat Murúa Manríquez, ditemukan di Santa Rosalía di pantai Teluk California pada 20 Januari.

Indonesia dalam Tren Kekerasan Terhadap Wartawan

1-4 Mei, Tahun 2017, Indonesia menjadi tuan rumah peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia. Namun, di balik penghormatan ini, menyembunyikan sejumlah memo memilukan bagi wartawan.

Bila merujuk data Wartawan Tanpa Batas untuk Kebebasan Informasi (RWB), sejak 2015, tren kebebasan pers di Indonesia kian naik. Tahun itu, Indonesia menempati peringkat 138 dari 180 negara.

2018, posisi Indonesia dalam peringkat dunia, naik dari 130 pada tahun 2016 ke posisi 124, peringkat yang sama pada tahun sebelumnya. Peringkat Indonesia saat ini menampung skor global 39.68, naik sebesar 0.25 dari tahun 2017 yang mencapai skor 39.93.

Baca: 2018, Kekerasan Terhadap Jurnalis Meningkat

Meski begitu, menurut data RWB, Indonesia masih berkategori merah. Jurnalis di Indonesia dinilai, masih dibayangi kesulitan saat bertugas.

Indikator RWB dalam data tersebut, mempresentasikan; bila semakin kecil skor yang diperoleh, maka peringkat kebebasan pers dianggap lebih baik.

Sementara itu, berdasarkan data dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), total kekerasan terhadap wartawan saat ini mencapai 702 kasus, sejak 2006 hingga 2018.

Data tersebut menunjukkan, kekerasan terhadap wartawan di Indonesia pada tahun 2016, meningkat tinggi sebanyak 81, di mana sebelumnya pada 2007, angka kekerasan juga meningkat sampai 75 kasus.

Tahun 2018, AJI mencatat 56 kasus kekerasan terhadap wartawan, menurun 10 kasus dari tahun sebelumnya.

Baca: AJI Surabaya-KontraS-PPMI Desak Jokowi Cabut Remisi Pembunuh Wartawan

Selain itu, kategori kekerasan terbanyak yang dicatat AJI, diantaranya; kekerasan fisik sebanyak 210 kasus, 86 kasus pengusiran atau pelarangan liputan, 77 wartawan menerima ancaman teror, 39 wartawan menerima serangan, dan 34 menerima sensoring konten.

BACA JUGA :  HPN 2019, Kapolres Bone: Media harus menjaga integritasnya sebagai penjaga bangsa

Sedang kategori pelaku di balik seluruh kasus tersebut, didominasi oleh Massa dengan 60 kasus, oknum polisi 57, tidak dikenal 44.

Kekerasan itu menurut catatan AJI, tersebar di beberapa kota, yang meliputi; Jakarta dengan 60 kasus, Gorontalo 19 kasus, dan 7 kasus untuk Surabaya. Sementara di Kota Makassar menembus angka 22 kasus.

Baca: Deretan Ucapan Kontroversi Prabowo Soal “Wartawan”

Ketua Umum AJI, Abdul Manan, berharap dan peduli agar pelaku kekerasan terhadap wartawan diadili dan dihukum secara layak agar memberi efek jera.

“Sikap kami tidak ada hubungan dengan politik. Kami hanya berharap ada penegakan hukum yang adil dan pantas bagi pelaku kekerasan jurnalis, sebagai salah satu upaya untuk melindungi dan membela kemerdekaan pers…,” kata Abdul Manan, dalam keterangan berkata, Jumat, 8 Februari.

10 Jurnalis Indonesia yang Mati

Berdasarkan data Committee to Protect Journalist (CPJ), di Indonesia sebanyak 12 Jurnalis meregang nyawanya akibat dibunuh. 2 Diantaranya hingga saat ini belum dapat terkonfirmasi.

Dua kasus itu diantaranya, pembunuhan terhadap Mohamad Jamal tahun 2003 dan Muhammad Yusuf pada 10 Juni 2018.

Pembunuhan terhadap 10 Jurnalis ini, menurut catatan CPJ, kebanyakan dilatarbelakangi akibat pemberitaan, dan sebagian kecil saat tugas peliputan.

Baca: AJI Makassar: Kekerasan Jurnalis Karena Persoalan Kode Etik

Dari 1996 hingga 2012, memo kejahatan terhadap jurnalis tercatat rapi, di ingatan keluarga yang di tinggal, bahkan penerus mereka.

Berikut, 10 jurnalis yang ditemukan tewas saat melakukan praktik jurnalisme:

Leiron Kogoya (8 April 2012)

Leiorin Kogoya (35) meregang nyawanya saat insiden penembakan pesawat Trigana Air di Bandara Puncak Jaya, Papua.

Wartawan Papua Pos tersebut, tewas saat hendak meliput Pilkada Kabupaten Puncak Jaya.

“Leiron selama ini tugas di Nabire, tapi kebetulan di Mulia [Ibukota Puncak Jaya] ada pilkada, jadi Leiron ditugaskan ke sana,” ujar Angel Sinaga Pimpinan Redaksi Pacific Pos yang satu kelompok dengan Papua Pos, seperti dikutip Detik.com, Minggu 8 April 2012.

Alfret Mirulewan (17 Desember 2010)

Jumat, 17 Desember 2010, dini hari, Alfrets ditemukan tewas mengenaskan. Sebelum akhirnya tewas, menurut beberapa rekannya, Alfret tengah melakukan peliputan investigasi perdagangan gelap bahan bakar minyak, di Maluku Barat Daya.

Di balik pembunuhan terhadap Alfrets, polisi mentapkan dua orang tersangka kasus pembunuhan Alfrets Mirulewan, Pemimpin Redaksi Mingguan Pelangi, Maluku.

“Sudah ada tersangka dua orang. Satu oknum [polisi] dan satu warga,” kata Insany Syahbarwati, Koordinator Maluku Media Center, melalui pesan singkat, dikutip dari Tempo.co, Sabtu, 8 Januari 2011.

Ridwan Salamun (21 Agustus 2010)

Kontributor SUN TV tersebut, tewas saat mengabadikan bentrokan antarwarga Kompleks Banda Eli dan warga Dusun Mangun di Desa Fiditan, Tual, Maluku Tenggara, Sabtu, 21 Agustus 2010 jelang siang hari.

Menurut koresponden daerah SUN TV Biro Makassar, Yusuf Al-Faresi, dalam blognya di Kompasiana, Sabtu siang, Ridwan sedang menjalankan tugas jurnalistik, kala itu, Ridwan tiba-tiba dibacok dari belakang dan mengenai kepalanya.

BACA JUGA :  AJI Makassar Gelar Pelatihan Jurnalistik Di Parepare

“Jurnalis ini dihabisi nyawanya oleh warga Dusun Mangun, yang secara membabi buta menyerang Ridwan Salamun yang sedang berada di tengah-tengah massa. Akibat peristiwa ini, kepala bagian belakang Salamun mengalami luka akibat kena benda tajam,” tulis Yusuf,

“bukan itu saja, kepala korban juga remuk akibat kena benda tumpul. Mulut Salamun pun juga ditikam dengan besi hingga tembus ke rahang.”

Baca: Setelah Dimutilasi, Jenazah Jamal Khashoggi Dijadikan Cairan Lalu Dibuang di Got

Ardiansyah Matra’is (30 Juli 2010)

Ardiansyah adalah seorang jurnalis Tabloid Jubi dan Merauke TV. Ia ditemukan tewas pada 29 Juli 2010 di Gudang Arang, Sungai Maro, Merauke, Papua dalam kondisi penuh luka.

Dikutip dari BBC News Indonesia, AJI Papua juga mempertanyakan pernyataan yang berbeda antara Kepolisian Daerah Papua dan Kepolisian Resort Papua dengan Mabes Polri soal penyebab kematian Ardiansyah Matra’is.

Sikap AJI Papua berdasarkan pernyataan Mabes Polri, yang menyebutkan adanya sejumlah luka pada tubuh, sementara Kepolisian Daerah Papua dan Polres Merauke menyebut kematiannya karena bunuh diri.

Ardiansyah meninggal di saat berlangsungnya teror melalui sms kepada sejumlah wartawan setempat menjelang pemilihan kepala daerah setempat.

Anak Agung Prabangsa (11 Februari 2009)

Berdasarkan barang bukti yang didapatkan, motif pembunuhan terhadap AA Prabangsa menurut polisi, diduga karena sakit hati dengan pemberitaan korban, tentang penyimpangan proyek Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli.

Kapolda mengatakan Prabangsa dieksekusi di rumah Susrama, Banjar Petak, Bebalang, Bangli, pada 11 Februari 2009, sekira pukul 16.30 sampai 22.30 Wita.

“Modusnya korban dibujuk ke tempat kejadian perkara, lalu dieksekusi dengan cara dipukul menggunakan balok kayu, lalu dibuang ke laut melalui Pantai Padangbai,” kata dia, seperti dikutip dari Tempo.co.

Herliyanto (29 April 2006)

Dikutip dari DW Indonesia, jasad Herliyanto ditemukan di jalan setapak di Kawasan Hutan Jati Klenang Desa Tarokan, Banyuanyar, Probolinggo, dengan kondisi mengenaskan.

Setidaknya 9 luka sabetan senjata tajam memenuhi tubuh korban. Sepeda motor korban juga ditemukan di tempat kejadian.

Wartawan lepas harian Radar Surabaya tersebut, dikenal sebagai wartawan yang kritis dalam mengungkap kasus-kasus korupsi di Probolinggo. Terakhir, Herliyanto menelisik penyimpangan dana di Desa Tulupari, Probolinggo, Jawa Timur.

Selain itu, Herliyanto juga menulis pemberitaan mengenai penyelewengan beras untuk rakyat miskin yang terjadi di Kecamatan Tiris. Polisi kemudian menyelidiki penyelewengan itu dan berhasil memenjarakan kepala desa tersebut. Seperti dikisahkan Bibin Bintaryadi, AJI Malang.

Ersa Siregar (29 Desember 2003)

Wartawan RCTI kelahiran Brastagi, 4 Desember 1951 tersebut ditemukan tewas saat bertugas sebagai seorang jurnalis, seusai kontak senjata antara pasukan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan pasukan TNI Yonif Marinir VI, di Sungai Malehen, Simpang Ulim, Aceh Timur, Senin 20 Desember 2003, siang hari.

Saat itu, Ersa tewas akibat dua peluru yang bersarang di tubuhnya, yakni di leher dan dada yang tembus ke punggung.

Baca: Dukung Indonesialeaks, Jurnalis dan Aktivis Anti Korupsi Gelar Aksi Tutup Mulut di Car Free Day

Sebelum tewas dalam kontak senjata, pria yang bergabung di RCTI sejak 18 Agustus 1993 tersebut menjadi sandera GAM sejak 29 Juni 2003, bersama kameramen RCTI Ferry Santoro dan sopir RCTI Rahmatsyah.

BACA JUGA :  Andi Rio: Pers Bagian Terpenting Dari Demokrasi Berintegritas

Fuad Muhammad Syafruddin (16 Agustus 1996)

Fuad Muhammad Syafruddin yang akrab dipanggil Udin (lahir di Bantul, Yogyakarta, 18 Februari 1964 – meninggal di Yogyakarta, 16 Agustus 1996 pada umur 32 tahun) adalah wartawan Bernas, Yogyakarta, yang dianiaya oleh orang tidak dikenal, dan kemudian meninggal dunia.

Sebelum kejadian ini, Udin kerap menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer. Ia menjadi wartawan di Bernas sejak 1986.

Selasa malam, pukul 23.30 Wib, 13 Agustus 1996, ia dianiaya pria tak dikenal di depan rumah kontrakannya, di dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis Km 13 Yogyakarta.

Udin, yang sejak malam penganiayaan itu, terus berada dalam keadaan koma dan dirawat di RS Bethesda, Yogyakarta. Esok paginya, Udin menjalani operasi otak di rumah sakit tersebut.

Namun, nyawa Udin tak lagi tertolong, akibat parahnya sakit yang diderita karena pukulan batang besi di bagian kepalanya, akhirnya Udin meninggal dunia pada Jumat, 16 Agustus 1996, pukul 16.50 Wib.

Muhammad Sayuti Bochari (11 Juni 1997)

Maman Suherman dalam artikelnya tentang kematian Sayuti, mengemukakan kronologi tewasnya wartawan Pos Makassar tersebut.

Tulis Maman, Sayuti ditemukan tergeletak tidak sadarkan diri pada 9 Juni 1997 di sebuah jalan di Desa Luwu, sekitar 480 kilometer di utara Makassar.

“Anggota keluarga dan teman-teman Sayuti mengatakan bahwa luka-luka Sayuti menunjukkan dia telah dipukuli. Sayuti tewas dua hari kemudian di rumah sakit,” tulis Maman.

Dalam artikelnya, pembunuhan Sayuti diduga kuat terjadi karena beritanya tentang pejabat lokal yang diduga menggelapkan dana pemerintah yang dialokasikan untuk mengentaskan kemiskinan. Dia juga melaporkan pencurian kayu yang melibatkan aparat desa. Namun, polisi setempat mengatakan penyebabnya karena kecelakaan lalu lintas.

Baca: Sejumlah Oknum Brimob Keroyok Wartawan di DPRD Kota Makassar

Naimullah (25 Juli 1997)

Naimullah, merupakan seorang wartawan Sinar Pagi di Kalimantan Barat. Ia tewas pada 25 Juli 1997.

Dari pemberitaan Harian Kompas 28 Juli 1997, Naimullah ditemukan tewas dalam mobil pribadi jenis Isuzu Challenger yang saat itu terparkir di kawasan Pantai Penimbungan, Mempawah, Pontianak, Kalimantan Barat.

Saat itu, Naimullah diduga dianiaya, karena bagian belakang kepala dan pelipis kanan pecah, serta kedua tangan memar. Saat ditemukan, kamera, tape recorder, jam tangan, gelang emas, dan cincin lenyap.

Dikabarkan bahwa siang sebelum ditemukan tewas, korban memberi tahu keluarga akan bertemu dengan seseorang namun tidak menyebut keterangan lebih lanjut.

Penulis: Agus Mawan
spot_img
spot_img

Headline

IDR - Rupiah indonesia
USD
14.498,6
EUR
15.293,3
JPY
111,0
KRW
11,4
MYR
3.317,5
SGD
10.465,3