25 C
Makassar
Selasa, Januari 19, 2021
Beranda Hukrim Ini Keterangan Tetangga 2 Teroris di Villa Mutiara Ditembak Mati

Ini Keterangan Tetangga 2 Teroris di Villa Mutiara Ditembak Mati

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Tim gabungan dari Densus 88 dan Gegana Polda Sulawesi Selatan, serta Polrestabes Makassar menembak mati dua terduga teroris di Vila Mutiara Cluster Biru, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Rabu (6/1/2021) pagi.

Kedua terduga teroris tersebut diketahui berinisial Rz dan Aj yang terindikasi terlibat dalam jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Menurut keterangan Ketua RT III RW 10 Vila Mutiara Biru, Iwan, ia mengetahui kejadian tersebut berawal dari suara tembakan yang terdengar dari sekitar rumahnya sekitar pukul 05.30 pagi.

Iwan yang merupakan tetangga terduga, bersama warga lainnya memutuskan untuk keluar rumah. Akan tetapi, tiba-tiba ia diminta untuk kembali masuk oleh tim Densus 88 yang sudah berjaga, karena dikahwatirkan ada korban peluru nyasar.

“Suara tembakannya berkali-kali, itu sekitar pukul stengah enam pagi, jadi saya keluar. Baru di depan rumah, tiba-tiba disuruh masuk sama tim Densus yang ada di luar,” ujarnya.

Lebih lanjut Iwan mengatakan, setelah masuk ke dalam rumah, beberapa saat kemudian suara tembakan berhenti. Akhirnya ia memutuskan kembali keluar rumah.

Saat itu Iwan hanya melihay jasad terduga yang telah dibawa oleh petugas ke dalam mobil.

“Saya hanya sempat lihat satu mayat (Rz), karena yang satunya sudah dimasukkan duluan ke dalam mobil,” tuturnya.

Menurut Iwan, selama ini Rz dan Aj dikenal jarang bersosialisasi dengan warga lainnya. Hanya saja, mereka dikenal sebagai pribadi yang ramah terhadap warga sekitar.

Akan tetapi, sejauh ini keduanya tidak menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan, khususnya di awal-awal tinggal di sana.

“Bisa dibilang mereka itu salah satu warga awal – awal yang tinggal di kompleks ini, sejak 2015 lah kalau tidak salah. Waktu awal-awal masih sering kumpul, bahkan ikut jadi pengurus masjid kompleks,” beber Iwan.

Bahkan keseharian Rz dan Aj pun seperti warga biasa, yang diketahui memiliki usaha berjualan bubur dan bensin. Tetapi semenjak bergabung dengan JAD, mulai ada gerakan yang cenderung tidak biasa.

“Dia berjualan disekitar sini, bubur sama bensin, memang pengusahan. Bahkan jualan buburnya ada cabangnya. Tapi setelah ikut kelompok itu, mereka mulai menarik diri, namun tetap selalu menyapa kalau kita ketemu di jalan,” terangnya.

Perubahan Rz dan Aj ini diawali dengan seringnya mereka menggelar pengajian rutin di rumahnya. Bahkan jumlah jamaahnya bisa mencapai puluhan orang.

“Sering bikin pengajian di rumahnya, biasanya tiap hari Minggu, itu yang datang banyak, bisa dibilang puluhan lah,” jelasnya.

Iwan sendiri sempat beberapa kali menanyakan acara apa yang digelar oleh kedua terduga tersebut. Tetapi, Rz mengaku jika mereka hanya menggelar pengajian biasa.

“Jadi awalnya kami kira cuma kajian biasa, semacam siraman rohani. Tapi tiba-tiba ada laporan dari petugas (Polisi), bahwa mereka dipantau, disitulah kami mulai curiga,” ungkapnya.

Bahkan, Iwan juga sempat memberi peringatan kepada Rz dan Aj, agar kegiatan yang kerap ia lakukan itu segera dihentikan. Apalagi Iwan sudah mengetahui bahwa keluarga Rz sudah berada dalam pantauan pihak kepolisian.

“Mereka tinggal satu keluarga disitu, sudah pernah kita nasehati, tapi tidak secara langsung, melalui petugas, namun jawabannya selalu mengelak,” tutupnya.

- Advertisement -

Headline