MAKASSAR, SULSELEKSPRE.COM – Ketua PSI kabupaten Gowa Muh Ridwan memutuskan mundur dari posisinya saat ini sekaligus sebagai kader partai. Keputusan itu dibuat Ridwan, lantaran tidak sesuai dengan kebijakan partainya.
“Salah satunya itu (kebijakan partai). Termasuk statemen yang selama ini, soal kebijakan Perda syariah,” ujar Ridwan Senin (17/12/2018).
Statemen yang dimaksud Ridwan, adalah pernyataan yang dilontarkan ketua umum PSI, Grace Natalie terhadap perda bermuatan agama saat HUT ke-4 PSI di Tangerang, beberapa waktu lalu. Saat itu Grace bilang, jika PSI tidak akan pernah mendukung perda Injil atau perda syariah.
Menurut Ridwan, dirinya sangat merasakan dampak dari pernyataan Grace tersebut. Terutama, dalam lingkungan keluarga. Menurut dia, pernyataan Grace soal perda syariah, tidak memperhatikan kultur kedaerahan.
“Saya kan rasa itu di daerah saya. Artinya kan, di setiap daerah itu masing-masing punya kultur yang berbeda-beda, baik dalam pemahaman agamanya, dan lainnya. Termasuk dari keluarga juga mempertanyakan, kenapa PSI begitu?,” sambung Ridwan.
Menurut Ridwan, jika dikaji lebih jauh, pernyataan Grace tersebut tidak semuanya keliru, dan ada benarnya. Tapi, mayoritas masyarakat tidak banyak yang mau lakukan itu, dan menerima bulat-bulat pernyataan dari Grace.
“Kalau kita nalar secara dalam, bisa jadi ada benarnya juga. Tapi kan sebagian besar masyarakat ada yang kurang mampu menalar. Yang dia tangkap (PSI) menolak perda syariah,” sambung dia.
Ridwan melanjutkan, jika sebenarnya tak bisa juga hal itu dibenarkan. Karena, dalam konstitusi, sumber hukumnya ada dari agama. Makanya, kata Ridwan tidak bisa dilarang jika ada daerah yang ingin menerapkan Perda syariah.
Terlepas dari itu, soal pengunduran dirinya sebagai ketua dan kader PSI Gowa, Ridwan bilang sudah menyampaikan surat berbentuk soft copy kepada pengurus PSI Sulsel. Namun, sejauh ini belum ada respons.



