24 C
Makassar
Selasa, Agustus 9, 2022
BerandaOlahragaKisah Pilu Dibalik Kesuksesan Virgil Van Dijk

Kisah Pilu Dibalik Kesuksesan Virgil Van Dijk

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COM – Di penghujung laga, Liverpool memang gagal meraih gelar juara Premier League. Tetapi mereka parut berbangga diri, sebab empat bintangnya sama-sama meraih gelar individu terbaik di kompetisi tersebut.

Mereka adalah Mohamed Salah, Sadio Mane, Alisson Becker, dan Virgil Van Dijk. Salah dan Mane sama-sama menjadi top skor kompetisi bersama Aubameyang, dan meraih golden boot. Untuk Alisson, dirinya menjadi kiper terbaik dengan mendapatkan golden glove.

Sementara stopper mereka, Virgil Van Dijk, tidak hanya menjadi pemain bertahan terbaik saja, tetapi dirinya berhasil menjadi pemain terbaik Liga Primer Inggris untuk musim kampanye 2018/2019 ini.

Kapten tim nasional Belanda tersebut berhasil mengalahkan para pesaingnya dalam perebutan gelar ini. Bahkan dua pesaingnya adalah rekan satu timnya sendiri di Liverpool, Sadio Mane dan Mohamed Salah, yang akhirnya keluar sebagai top skor kompetisi.

Selain Mane dan Salah, Van Dijk juga harus bersaing dengan dua pemain Manchester City, Sergio Aguero dan Raheem Sterling, serta kapten tim nasional Belgia milik Chelsea, Eden Hazard, yang juga menjadi kandidat di penghargaan ini.

Metode pemilihan pemain terbaik itu dilakukan oleh para suporter melalui laman EA Sports, masing-masing kapten tim dari 20 klub yang berlaga di Liga Primer Inggris, ditambah dengan para panelis yang terdiri dari sejumlah pakar sepak bola.

Akhirnya pilihan berpihak kepada Virgil Van Dijk dan resmi menjadikan sirinya sebagai pemain terbaik dalam kompetisi tertinggi sepak bola Inggris, Liga Primer Inggris, untuk musim kampanye 2018/2019.

Van Dijk terpilih karena menjadi sosok yang memimpin lini belakang Liverpool, sehinggat Liverpool menjadi tim dengan jumlah kebobolan palung sedikit, yaitu 22 gol. Selain itu, Liverpool menjadi tim yang berhasil mencatatkan 19 laga tanpa kebobolan, dan hanya sekali menelan kekalahan sepanjang musim 2018/2019 ini.

Perjalanan Van Dijk dalam meraih kesuksesannya itu tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Masa lalu eks Southampton tersebut ternyata sangat berat dan memilukan. Sebab Van Dijk benar-benar berjuang dari titik nol.

Di awal dirinya meniti karir, Van Dijk harus rela kehilangan waktu bermainnya bersama rekan-rekannya, sebab ia harus bekerja keras dan membagi waktunya untuk belajar, latihan, bertanding, dan bekerja.

Di tanah kelahirannya, tepatnya di kota Breda, Van Dijk pernah menjadi buruh tukang cuci piring di sebuah rumah makan. Ia mengaku bahwa hal itu ia lakukan agar dirinya punya uang saku untuk berjalan-jalan ke kota.

Di masa-masa itu, Van Dijk haru benar-benar mahir mengatur waktunya. Sebab ia harus membuat jadwal untuk berlatih pada hari Senin, Selasa, dan hari Kamis. Bermain padaa hari Sabtu, serta bekerja pada hari Rabu dan Minggu, mulai dari sore hari sampai tengah malam.

Selain itu, pemain jangkung tersebut memutuskan untuk berpisah dengan keluarga pada tahun 2008 lalu. Van Dijk meninggalkan tanah kelahirannya demi mengejar cita-cita untuk menjadi pesepakbola profesional.

Di awal petualangannya, Van Dijk memilih klub Willem II yang bermain di kasta kedua Liga Belanda, Erstedivisie. Tetapi di sana ia hanya bertahan selama dua tahun karena sulit mengalami perkembangan. Bahkan dirinya memiliki masalah fisik di wilayah lutut, dan pangkal pahanya.

Akhirnya Van Dijk memilih untuk hijrah ke FC Groningen pada tahun 2010. Di sana ia harus menggunakan sepeda untuk berangkat berlatih. Sementara upah yang ia dapatkan dari klub, ia gunakan untuk kursus mengemudi.

Di FC Groningen inilah Van Dijk tidak hanya mendapat pelajaran sepakbola, tetapi juga pelajaran hidup. Sebab di tahun 2011/2012 yang musim menjadi pertamanya di tim senior, dia justru sakit keras. Ia menderita usus buntu, infeksi ginjal, inflamasi membran perut, dan harus dirawat di rumah sakit dalam waktu lama.

Pada saat itu Van Dijk merasa was-was bahwa dirinya akan meninggal dunia. Ia bahkan telah menulis surat wasiat untuj ibunya. Tetapi nasib berkata lain. Van Dijk berhasil sembuh dari sakit kerasnya dan melanjutkan karir sepakbolanya di Skotlandia bersama Celtic pada tahun 2013.

Di Celtic ia mulai dipercaya sebagai pilar utama. Dirinya bahkan tampil impresif bersama Celtic. Van Dijk mengoleksi 76 penampilan selama berseragam Celtic, serta berhasil mencatatkan sembipan gol. Penampilan yang cukup menawan bagi seorang stopper.

Berkat penampilan apiknya itu, Southampton kepincut untuk memboyongnya pada tahun 2015, dengan nilai 13 juta pound. Di Southampton dirinya berkembang pesat dengan mengemas empat gol dari 67 penampilannya. Dari sana juga ia mulai dipercaya memegang ban kapten tim nasional Belanda.

Penampilan yang menawan selama di Southampton, ternyata menarik perhatian Liverpool. Dan akhirnya Tge Red harus mengeluarkan dana besar ubtuk memboyong sang bek. Van Dijk fitebus dengan biaya transfer sebesar 75 juta Pounds, atau setara dengan 1,4 trilliun rupiah.

Hal itu tentu memberikan keuntungan besar pada Southampton. Dan sejak saat itu, Virgil Van Dijk resmi dinobatkan sebagai bek atau pemain bertahan dengan biaya transfer termahal di dunia.

Keberhasilannya di Liverpool pun kian melejit. Ia bahkan dua kali membawa tim kota pelabuhan tersebut menembus partai final Liga Champions Eropa. Sayangnya musim lalu The Red harus takluk di tangan Real Madrid. Sementara musim ini masih menjadi musi berat bagi Van Dijk untuk mengangkat trofi si kuping besar.

Sayangnya musim ini ia kembali gagal membawa Liverpool meraih trofi Liga Inggris. Meskipun dirinya dinobatkan sebagai pemain terbaik musim ini.

Penulis : Widyawan Setiadi

Sumber gambar : Instagram Goal

spot_img

Headline