Prof Dr Ir Dorothea Agnes Rampisela, dalam Dialog dengan tema “Gunung Bulu’ Bawakaraeng Terdzholimi di Tanah Sendiri” mengatakan, saat kondisi ini Gunung Bulu’ Bawakaraeng sudah masuk dalam tahap yang mengkhawatirkan.
BACA: Mengenali Eksotisme Area Wisata Kete Kesu Toraja
“Debris flow tahun 2004 lalu atau pergerakan material berupa pasir dan batu yang besarannya atau volumenya mencapai 243 juta meter kubik, adalah warning bagi kita,” kata Prof Agnes.
Prof Agnes menambahkan, Debris Flow yang terjadi di Gunung Bulu’ Bawakaraeng itu adalah hal yang tidak biasa.
“Biasanya sedimen (Debris Flow.red) yang keluar dari gunung apalagi dalam jumlah yang besar, itu biasanya disebabkan oleh letusan. Nah, Debris Flow tahun 2004 di Bawakaraeng ini bukan letusan,” tambahnya.
Lebih jauh, Prof Agnes menjelaskan bahwa sedimen saat itu semua ke hulu sungai dan itu tentu mengurangi kapasitas waduk penampung.
Berdasar hal ini, Prof. Agnes sendiri melihat bahwa sampai saat ini belum ada pembicaraan yang lebih mendasar ke solusi.
“Pengendapan pada waduk sudah sangat tinggi, sehingga kapasitas air yang seharusnya bisa mencapai 340 juta meter kubik, kini diperkirkan hanya tersisa sekitar 300an meter kubik saja,” jelasnya.
“Je’neberang sudah masuk DAS kritis sejak tahun 76 dan masih kritis sampai sekarang. Berarti penangannya salah, dong. Sebenarnya yang begini ini koordinasi yang belum ada,” tutupnya.
Sementara itu, Nevy Jamest Tonggiroh, dalam dialog tersebut menyebutkan, jika laju kerusakan Gunung Bulu’ Bawakaraeng ini salah satunya karena kunjungan yang massif dan sporadis.
“Kunjungan secara massif dengan label macam-macam seperti upacara tujuh belasan dan peringatan-peringatan lainnya, itu salah satu yang menimbulkan kerusakan,” kata Nevy.



