Rahmatia, S.I.P, pustakawan SD Inpres Babta-bantaeng 1, menambahkan bahwa awalnya hanya sedikit anak yang ikut mendengarkan dongeng tapi lama-lama bertambah dan menjadi banyak. Bahkan beberapa orangtua murid yang tengah mengantar anaknya ikut singgah. Katanya, mereka juga mau melihat dongeng yang dibawakan Mami Kiko.
Alumnus Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin, Makassar, tahun 2020 ini menjelaskan, mendongeng bagus jadi bagian dari strategi literasi, terutama untuk membudayakan kegemaran membaca. Karena kalau anak-anak sudah tertarik dengan ceritanya maka mereka akan mencari bukunya di perpustakaan.
Perpustakaan SD Inpres Banta-bantaeng 1 merupakan perpustakaan dengan akreditasi A. Sejauh ini, buku yang diminati anak-anak adalah buku-buku cerita. Khusus untuk anak kelas rendah, mereka lebih suka membaca buku-buku cerita bergambar.
Rusdin Tompo, penggiat literasi yang tengah mengembangkan program gerakan literasi sekolah, Adiwiyata, dan Sekolah Ramah Anak (SRA) di sekolah yang terletak di Kelurahan Ballaparang, Kecamatan Rappocini itu, berupaya agar ada inovasi di sekolah tersebut.
Perlu ada ciri program yang akan jadi kebanggan sekolah. Salah satu cirinya, yakni pembelajaran aksara lontaraq dan sastra Makassar yang akan dibimbing oleh penyair, Syahrir Rani Patakaki.
Bersama Kepala UPT SPF SD Inpres Banta-bantaeng 1, Hj Baena, S.Pd, M.Pd, mereka merancang kegiatan launching SRA, yang akan diadakan dalam waktu dekat.
Hj Baena, membuat ancar-ancar bahwa deklarasi Sekolah Ramah Anak (SRA), akan diadakan pada tanggal 30 Maret 2022, sebelum memasuki Ramadan. Kegiatan SRA ini akan didahului dengan sosialisasi dan pelatihan hak dan perlindungan anak, kepada murid-murid, guru, dan orangtua siswa.



