26 C
Makassar
Senin, September 20, 2021
BerandaDaerahMenjawab Keraguan Publik Tentang Anak Pejabat di Bone

Menjawab Keraguan Publik Tentang Anak Pejabat di Bone

- Advertisement -

BONE, SULSEKSPRES.COM – Kapasitas sebagai anak pejabat yang akan maju di Pemilihan Legislatif (Pileg), 17 April mendatang, sangat diragukan dalam menjalankan kerja politik.

Pasalnya, mereka berpotensi lolos menjadi anggota parlemen karena memperoleh dukungan dana maupun jaringan dari orangtuanya.

Dalam mengatasi keraguan tersebut, Alfian T Anugerah dan Bakhtiar Parenrengi, menggelar Diskusi Publik dengan mengangkat topik “Caleg Bicara Menjawab Keraguan Publik Tentang Caleg Anak Pejabat di Kabupaten Bone” bertempat Cafe Magaya, Jl Ahmad Yani, Sabtu (26/01/2019).

Baca: Hendak Pasang Balihonya, Caleg dan Warga Bone Tersengat Listrik

Diskusi ini menghadirkan tokoh masyarakat, LSM, insan pers, dan beberapa pengamat politik lainnya, termasuk 3 anak pejabat yang akan bertarung di Pileg.

Siapa saja? anak pejabat yang hadir, yakni Rismono Sarlim, putra dari Kepala Dinas Pendidikan Bone, Ade Fery Afrizal, anak Wakil Bupati Bone Ambo Dalle, dan Rangga putra dari Setwan DPRD Bone–yang juga mantan Kepala BKD Bone.

Sementara, seorang caleg anak pejabat yang tidak hadir diantaranya, Andi Muhammad Wahyu caleg dari Demokrat anak Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bone, Andi Syahrul Ramadhan caleg dari PAN putra Sekda Kabupaten Bone.

Baca: Banjir Bone, Brimob Turut Bantu Masyarakat Gunakan Rakit Penyebarangan

Alfian T Anugerah mengatakan, diskusi publik ini untuk menjawab sejumlah pertanyaan keraguan yang kerap muncul di media sosial terkait kualitas dan kapasitas serta kompetensi calon legislatif anak pejabat.

“Diskusi yang kami laksanakan berusaha bagaimana mengundang semua caleg anak pejabat yang bertarung untuk Legislatif Kabupaten Bone untuk memberikan ruang kepada mereka menjawab tantangan dan keraguan tersebut,” katanya kepada sulselekspres.com.

Ditempat yang sama, Rismono Sarlim incumbent yang akan bertarung di daerah pemilihan satu dari partai Hanura mengatakan, kalau dari topik diskusi tersebut, dirinya merasa ada diskriminasi/diksriminatif.

Baca: KPU Bone Kukuhkan 55 Relawan Demokrasi

Menurutnya, kalau diri dia dikatakan caleg anak pejabat, karena tidak ada pejabat yang pernah ikut bersamanya dan ada regulasi yang mengatur tentang pejabat.

BACA JUGA :  Selain Memberi Peralatan Pertanian, Taufan Janji Asuransikan Para Petani
BACA JUGA :  Andi Jamarro: Saudara Aras Sangat Menghendaki Jabatan Itu

“Membawa nama orang tua sebenarnya menjadi beban bagi saya. Ini panggung untuk kita bahwa kita tidak berada dibawah ketiak orang tua. Intinya, bagaimana kita memahami fungsi hak tugas dan tanggungjawab legislatif itu yang harus dipahami untuk menjadi caleg berkualitas. Kemudian regulasi terkait pejabat menurut UU-ASN sangat jelas bahwa tidak boleh terlibat politik,” kata Rismono.

Baca: Partai Berbasis Islam Dominasi Bacaleg Tak Lolos di Bone

Ia pun berharap, agar kegiatan diskusi publik semacam ini agar dilaksanakan pula di tempat atau dapil lainnya agar tidak ada anggapan dikotomi.

Sedangkan, Ade Fery Afrizal Caleg Partai Golkar justru menganjurkan, lihat track record caleg tersebut. Ia pun mengimbau kepada masyarakat, khususnya kepada pemilih, agar berani menilai semua caleg dan tidak mendiskriminasi para caleg, karena masyarakat memiliki hak untuk memilih dan menilai para caleg.

Baca: Pasangan Disabilitas Di Bone Dapat Rumah Dari Brimob

Olehnya itu, masyarakat yang harus punya referensi untuk menilai caleg.

“Lihat track record caleg tersebut. Saya sudah pernah melakukan perancangan regulasi, bahkan saya pernah memberikan materi terkait hal itu pada sejumlah anggota DPRD Bone. Mungkin kinerja saat ini belum memuaskan karena kualitas SDM belum memenuhi standar, makanya masyarakat yang harus punya referensi untuk menilai caleg. Eksekutif dan Legislatif harus saling mendukung atau bersinergi dan saya tidak sepakat dengan bahasa caleg Milenial anak muda, kita tidak boleh mendikotomi antara yang tua dan muda,” jelasnya.

Baca: Beda Dukungan Caleg Makam Dipindahkan, Aparat Desa Gagal Damaikan

Sementara itu, Rangga, caleg dari PPP, menambahkan bahwa lihatlah bagaimana dia bersosialisasi di masyarakat, apakah dia bersama orang tuanya atau tidak.

BACA JUGA :  None: PKS Bukan Kejutan, Cuma Ada yang Terlalu Cepat Mengklaim
BACA JUGA :  Layani Selfie Warga, NA Juga Serap Aspirasi di Pasar Kabupaten Wajo

“Masyarakat harus menilai apakah anak pejabat yang caleg saat sosialisasi didampingi oleh orang tuanya, dan apakah caleg tersebut memang mengetahui fungsi Legislatif itu sendiri. Jadi caleg terpilih bukan dari anak pejabat atau tidaknya, tetapi ia terpilih atau tidak terpilih tergantung pemilihnya,” tambahnya.

Penulis: Yusnadi
BACA JUGA
spot_img
spot_img
spot_img

Headline

IDR - Indonesian Rupiah
USD
14.297,0
EUR
16.747,6
JPY
130,6
KRW
12,0
MYR
3.410,1
SGD
10.575,1
- Advertisment -