23 C
Makassar
Sabtu, April 17, 2021
BerandaPolitikMuktamar IX PPP: Panggung Sengit Perebutan Kasta Kelas Dua

Muktamar IX PPP: Panggung Sengit Perebutan Kasta Kelas Dua

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kini tengah memasuki detik-detik pergantian pucuk pimpinan. Secara otomatis, sederet jajaran di bawahnya bakal turut serta mengalami perombakan.

Babak baru ini sudah mulai berjalan seiring dengan terlaksananya Muktamar ke-IX Partai Ka’bah yang berlangsung di tiga Hotel sekaligus, Claro, Mercure, dan Four Points by Sheraton, kota Makassar, sejak (18/12/2020) kemarin dan bakal berlangsung sampai (21/12/2020) mendatang.

Menariknya, di momentum akbar ini, pertarungan sengit tidak terjadi di ranah pucuk pimpinan. Sebab, digadang-gadang pemilihan ketua umum bakal berlangsung aklamasi.

Bahkan, upaya aklamasi ini sudah didesain oleh pihak tuan rumah, dalam hal ini Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan Sulawesi Selatan.

Hal ini diakui langsung oleh ketua DPW PPP Sulsel, Muhammad Aras. Ia mengaku, hasil rapat pimpinan wilayah (Rapimwil) PPP Sulsel satu suara untuk mengarahkan dukungan kepada Suharso Monoarfa.

“Kalau Sulawesi Selatan, hasil rapat pimpinan wilayah (Rapimwil) kemarin, kita bulat untuk memberikan suport dan dukungan kepada Suharso Monoarfa. Tentu itu akan dipilih dari 61 suara di Sulsel,” jelas Aras saat ditemui awak media di Hotel Claro Makassar, Jumat (18/12/2020).

Lebih lanjut anggota Komisi V DPR RI tersebut membeberkan, PPP Sulsel menginginkan proses pemilihan berakhir dengan aklamasi. Meskipun ia menyadari, ada banyak hal yang mungkin saja bisa terjadi.

“Biasanya banyak suara akan muncul berbeda-beda untuk mendukung yang berbeda-beda. Tetapi endingnya tentu kita mengutamakan kesepakatan dan kesepahaman. Dalam hal ini kita bisa saja aklamasi untuk memperkecil gesekan-gesekan antar pendukung,” bebernya.

Jikalau metode aklamasi gagal diwujudkan, Aras juga meyakini bahwa jagoannya bisa mendulang suara di atas 90 persen, dari total pemilik suara sebanyak 1.211 orang.

“Sulsel maunya aklamasi. Kalaupun berlangsung alot dan gagal aklamasi, sejauh ini, kalau kita melihat apa yang dilakukan teman-teman, perolehan suara pak Suharso bisa di atas 90 persen,” tegasnya.

Kondisi ini menegaskan, perolehan suara dan keberhasilan Suharso Monoarfa untuk menjadi ketua umum sudah hampir dipastikan. Sehingga, para pesaing beratnya diprediksi hanya akan turut ambil bagian dalam perebutan posisi orang nomor dua saja.

Perebutan kursi Sekretaris Jenderal ini justru lebih menarik di Muktamar ke-IX PPP kali ini. Sebab, setidaknya harus ada sembilan formatur yang bakal adu kuat untuk memenangkan posisi Sekjen.

Meskipun sejumlah nama tenar di kalangan internal PPP seperti Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) yang saat ini menjabat sebagai wakil gubernur Jawa Tengah, juga Amir Uskara yang saat ini menjadi wakil ketua umum PPP, dikabarkan siap menantang Suharso Monoarfa di posisi 01. Akan tetapi, hal itu tampaknya sulit diwujudkan.

Sebab, sampai hari ini, nama calon ketua umum yang terdaftar sebagai kandidat hanya Suharso Monoarfa saja. Sedangkan yang lainnya belum menyatakan diri siap dan mendaftar. Sementara proses pemilihan dijadwalkan bakal berlangsung malam ini.

“Sampai saat ini baru pak Suharso yang mendaftar. Belum ada yang lain. Pendaftarannya itu ditutup seiring disahkannya tata tertib, dan itu dijadwalkan besok (hari ini),” ujar Muh. Aras.

Sengitnya perebutan kursi Sekretaris Jenderal ini juga ditegaskan oleh Ketua fraksi PPP DPRD Sulawesi Selatan, Imam Fauzan Amir Uskara. Ia mengatakan, sembilan formatur itu nantinya yang akan mengisi jajaran posisi penting, termasuk sekjen.

“Ada sembilan formatur nanti. Jadi sembilan itu nanti bakal bertarung siapa yang jadi sekjen. Sisanya dibagi-bagi. Ada yang jadi wakil ketua, dan posisi strategis lainnya,” jelas Imam.

Menanggapi hal ini, pengamat politik Universitas Hasanuddin, Ali Armunanto, menilai pentingnya nama kader Sulsel, baik Amir Uskara maupun Muhammad Aras, untuk mengisi posisi strategis di jajaran pusat.

Sebab, dengan posisi penting seperti itu, perkembangan PPP Sulsel bisa lebih melejit lagi, khususnya di momentum pemilihan um pada tahun 2023-2024 mendatang.

“Saya rasa kalau kader Sulsel yang menjadin Sekjen, tentu akan memneri peluang untuk PPP Sulsel bisa berkembang lebih baik. Karena posisi Sekjen bisa memberikan dukungan organisasi yang kuat dan juga alokasi nilai dan sumber daya partai untuk pengembangan PPP di sulsel,” jelas Ali.

Lebih jauh Ali mengatakan, PPP Sulsel memiliki peluang besar intuk maju lebih gesit. Sebab, motivasi kader bisa terdorong dengan kehadiran figur-figur ulung di jajaran pusat.

“Hal ini juga tentu akan menjadi motivasi bagi PPP Sulsel untuk lebih bisa mendorong pengembangannya. Saya rasa Sulsel memiliki beberapa tokoh terbaik di PPP, seperti Amir Uskara, yang kompeten untuk itu,” jelas Ali.

Meski begitu, segala kemungkinan masih bisa terjadi. Perundingan dan upaya mufakat tentu masih menjadi prioritas dalam menentukan jabatan penting di Muktamar ke-IX ini, sebagaimana ditegaskan oleh pihak tuan rumah pelaksana.

- Advertisment -

Headline