Hal ini, kata Dia tentu bisa menimbulkan stigma negatif kepada keluarga utamanya anak.
“Saya tidak mau itu terjadi,”pungkasnya.
Sylviana Murni merupakan Perempuan Betawi yang memulai karir sebagai None Jakarta pada 1982 bergelar profesor dari Universitas Negeri Jakarta itu pernah berkarir sebagai birokrat di lingkungan pemerintahan DKI Jakarta.
Ia menjabat sebagai Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta pada tahun 2015 sampai 2016 dan juga pernah menjadi Wali Kota Jakarta Pusat periode 2008-2010.
Sedangkan Politisi Golkar, Nurul Arifin berbicara tentang perempuan dalam demokrasi Indonesia.
Menurutnya, peran perempuan di Indonesia tidak memiliki border atau batasan untuk masuk kedalam politik dan ranah publik.
“Secara struktur, Negara ini sudah memberikan payung hukum untuk perempuan dan sama sekali tidak ada pembedaan. Hal tersebut sudah tertuang dalam UUD 1945 pasal 28 huruf C nomor 2,”jelasnya.
Keterlibatan perempuan dalam politik, kata Legislator DPR RI tersebut sudah dijamin konstitusi.”Perempuan tidak ada hambatan sama sekali untuk masuk politik,”ungkapnya.
Nurul Arifin adalah adalah seorang aktivis, pemeran, dan politikus keturunan Belanda dan Sunda. Sebelum berkarier di dunia politik, ia dikenal sebagai seorang pemeran film.
Artis kelahiran 18 Juli 1966 di Bandung ini adalah istri dari wartawan senior Mayong Suryo Laksono. Mereka menikah pada 1991 dan dikaruani dua anak yaitu Maura Magnalia Madyarti (mendiang) dan Melkior Mirari Manusaktri.
Nurul aktif di politik setelah menjadi kader Partai Golongan Karya. Anak dari Anne Marie dan Mohammad Yusuf Arifin ini pernah meraih penghargaan dalam Festival Film Bandung untuk pemeran utama wanita terpuji film bioskop.



