MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Di tengah maraknya bencana alam yang melanda berbagai wilayah di Indonesia, banyak warga yang menyalurkan simpatinya terhadap korban melalui aksi penggalangan donasi.
Fenomena ini tidak jarang disaksikan di berbagai tempat, seperti warung kopi, tempat-tempat keramaian, berkunjung langsung ke rumah warga, tidak terkecuali di ruas-ruas jalan.
Berdasarkan pantauan lapangan Sulselekspres.com, sejumlah aliansi masyarakat dan mahasiswa melakukan galang donasi. Seperti yang terlihat di pertigaan jalan Urip Sumoharjo- Perintis Kemerdekaan (Adipura lama), sekelompok mahasiswa menggalang donasi untuk korban gempa bumi Sulbar.
Selain itu, di depan Pintu satu kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), tidak sedikit masyarakat yang membawa kardus bertuliskan Peduli gempa Sulbar, juga membentangkan spanduk, untuk menggalang donasi dari para pengguna jalan.
Bukan hanya di dua tempat itu saja, di berbagai titik juga terjadi penggalangan dana untuk korban bencana. Hal ini dinilai sebagai tindakan positif yang berangkat dari rasa kemanusiaan.
Akan tetapi, ada juga oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan momentum untuk kepentingan pribadi. Donasi yang mereka peroleh tidak disalurkan kepada korban, tetapi dimanfaatkan untuk kepentingan mereka sendiri.
Fenomena ini sempat terjadi di Kabupaten Gowa. Empat pelaku diringkus Satpol PP setelah terbukti memanfaatkan momentum bencana untuk meraup keuntungan pribadi.
Menurut keterangan personel Satpol PP Gowa, Muhammad Resky Abe, pihaknya meringkus empat pelaku setelah melihat gerak-gerik yang mencurigakan.
“Keempat oknum ini terlihat mencurigakan. Kami dekati dan kami gelandang mereka ke kantor untuk dimintai keterangan. Setelah diinterogasi, mereka mengaku uang hasil donasi mau dipakai untuk keperluan pribadi,” ujarnya, Kamis (21/1/2021).
Menanggapi maraknya kasus penipuan serupa, Penjabat (Pj) walikota Makassar, Rudy Djamaluddin, mengatakan bahwa penggalangan donasi di jalanan sebenarnya sah-sah saja. Akan tetapi, banyak aspek yang perlu dipertimbangkan.
”Ya jadi kalau kita berpikir positif, saya kira itu relawan tergerak bagaimana mengumpulkan berbagai sumber sumbangan, mungkin saja ada yang bisa dikumpulkan dari hal tersebut,” buka Rudy, Jumat (22/1/2021).
”Tapi kami himbau, sebenarnya Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam membantu warga yang terdampak. Oleh karenanya, pada prinsipnya tidak dilarang, tetapi tentu ada ketentuan ketertiban, keselamatan di jalan juga harus dijaga, supaya jangan sampai justru menimbulkan masalah baru,” jelas Rudy.
Lebih jauh Rudy mengatakan, untuk mengantisipasi tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab, sebaiknya para relawan melakukan koordinasi dengan dinas terkait, agar bisa dipermudah proses penggalangan donasinya, juga terakomodir dengan baik.
”Pemerintah merupakan garda terdepan untuk memberikan bantuan-bantuan sosial. Jadi kalau ada masyarakat atau relawan yang ingin terlibat pengumpulan bantuan sosial, seyogyanya ada koordinasi dengan dinas terkait.”
”Ini tentu untuk lebih memudahkan mengelola dan memanage sumbangan dari masyarakat, agar bisa tersalurkan secara lebih benar, sampai di tempatnya secara tepat sasaran,” beber Rudy.
Rudy juga mengatakan, pihaknya telah menurunkan tim komprehensif untuk melakukan tindakan pengamanan, juga penyaluran bantuan, khususnya bagi korban banjir yang ada di kota Makassar.
”Kami turunan tim yang komprehensif supaya kita bisa ambil langkah teknis yang lebih komprehensif pula, yang betul-betul bisa menghasilkan solusi yang kajiannya itu langkah teknis dan tidak merugikan masyarakat.”



