26 C
Makassar
Thursday, April 23, 2026
HomeEdukasiSecond Language Menjadi Prioritas Unibos

Second Language Menjadi Prioritas Unibos

PenulisWidyawan
- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Universitas Bosowa (Unibos) terus mendorong terwujudnya second language di dunia pendidikan, khususnya bagi perguruan tinggi.

Hal ini dibuktikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama lembaga bahasa yang menjadi jaringan resmi Cambridge University, Briton English Education.

Penandatanganan MoU tersebut berlangsung di Ruang Rapat Pimpinan, lantai II Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, jalan Urip Sumoharjo, Senin (9/11/2020).

Penandatanganan MoU tersebut dinilai sangat tepat, mengingat Briton merupakan salah satu lembaga studi bahasa yang cukup kompeten dalam menangani persoalan-persoalan terkait.

“Saya kira kerjasama dengan Briton ini tepat sekali. Karena memang Unibos sedang mendorong penguasaan bahasa Inggris sebagai second language,” ujar Rektor Unibos,Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Saleh Pallu, M.Eng kepada Sulselekspres.com.

Lebih jauhSaleh Pallu mengatakan, pihaknya akan membuat program lanjutan dari kerjasama mereka bersama Briton. Tentunya untuk memaksimalkan dan mengefektifkan peningkatan kualitas penguasaan bahasa Inggris untuk civitas akademik Unibos.

“Setelah ini kita akan buat program lagi untuk menindaklanjuti program kerjasama ini,” lanjutnya.

Bahkan, saat ini Unibos telah memiliki laboratorium bahasa yang bisa digunakan untuk mempermulus proses belajar mengajar.

Di dalam labiratorium tersebut, ada 40 unit komputer yang nantinya bakal digunakan untuk proses belajar mengajar.

“Kita juga sudah ada laboratorium bahasa. Ada 40 unit komputer di dalamnya. Jadi proses belajarnya bisa lebih lancar lagi,” helas Saleh Pallu.

Sementara Direktorat of Briton English Education Cambridge Representative, Sirajuddin Tenri, mengatakan kerjasama Briton dengan kampus-kampus di bawah naungan LLDIKTI Wilayah IX bisa menjadi langkah sempurna untuk menerapkan second language di dunia pendidikan.

Dengan begitu, ia meminta komitmen yang kuat dari perguruan tinggi untuk masif dan maksimal dalam menjalankan kerjasama tersebut.

Sebab, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Briton, metode pembelajaran satu semester yang diterapkan perguruan tinggi terbukti tidak efektif.

“Saya kira komitmen yang menjadi jaminan. Sebab riset kami menunjukkan, proses belajar satu semester di perguruan tinggi tidak efektif.”

“Satu semester iru hitungannya sama dengan 30 jam. Kalau pun ada yang dua semester, itu juga belum menjamin penguasaan bahasa Inggris,” jelas Sirajuddin.

spot_img

Headline

spot_img
spot_img