“Tahun baru Imlek itu kan tahunnya kami orang Tionghoa ya. Jadi di setiap tahun itu kami melakukan sembahyang. Kita melayangkan doa-doa untuk dewa, supaya diberi kehidupan yang lebih baik lagi,” buka Peter.
“Imlek sendiri sebenarnya awal mulanya itu, nenek moyang kami dulu selalu merayakan ini di setiap musim semi baru, musim tanam padi baru. Itu aslinya. Jadi Imlek ini awalnya cuma perayaan musim tanam baru,” terang Peter.
“Nah di musim tanam baru kita berharap bisa mendapat limpahan rejeki lebih baik dari musim sebelumnya. Makanya Imlek itu selalu datang di musim hujan. Karena orang kalau mau menanam itu kan harus musim hujan,” lanjut pria berpostur tegap tersebut.
Lebih jauh Peter menjelaskan bahhwa rangkaian Imlek tersebut akan dilangsungkan dalam 15 hari. Dalam rentang waktu itu, Imlek akan dibuka dengan sembahyang di hari pertama, sembahyang meja tinggi di pertengahan, kemudian ditutup dengan Cap Go Meh.
“Imlek ini kan 15 hari. Lilin-lilin ini nanti menyala terus selama 15 hari itu. Jadi di hari pertama dibuka dengan sembahyang dan doa-doa. Kemudian di hari ketujuh ada sembahyang meja tinggi. Nah di penutup nanti ada namanya Cap Go Meh. Setelah itu, selesai semua rangkaian.”
Di tahun 2020 ini, Sio yang ditetapkan adalah Sio Tikus Tanah. Ini karena penentuan tahun bagi ummat Tionghoa ada lima macam yang terus berputar, yaitu Tanah, Logam, Api, Air, dan Kayu.
BACA: Bakal Dihadiri Surya Paloh, Imlek di Makassar Tidak Akan Berlangsung Meriah
“Tahun ini tahun Tikus. Tikus tanah ya. Tikus ini menjadi tahun pembuka di kalender Cina. Jadi perputarannya itu mulai dari tanah, logam, air, kayu, dan kembali ke tanah. Berputar terus seperti mata rantai,” terang Peter.
“Jadi Tikus Tanah ini menggambarkan kesejahteraan. Tahun ini sepertinya ekonomi kita akan meningkat. Sudah cukup lama kita menderita ini, jadi sebaiknya kita bisa lebih sejahtera tahun ini,” kelakar Peter.
“Pada prinsipnya, Imlek ini adalah waktunya kita untuk berdaoa, memohon kepada tuhan, ajang silaturrahmi, dan mempererat persaudaraan,” tutup Peter.



