MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Virgi dan ketiga kawannya tidak sendiri. Setidaknya, 6 korban lainnya juga mengalami pelecehan saat ini tengah ditangani Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak( P2TP2A) Sulsel.
“Ada 6 yang lapor, yang awalnya mereka nggak berani. Kalau dihimpun semua dari testimoni, disetiap angkatan itu ada. Nah ini sudah kesekian tahun,” demikian ucapan Kepala UPT P2TP2A Sulsel, Meisye Papayongan saat ditemui di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubenur Sulsel, Makassar, Kamis (1/11/2018).
BACA: Begini Modus Dosen Mesum Lecehkan Mahasiswi
Isu pelecehan yang terjadi di kampus, memang diakui Meisye sangat tertutup (undercover). Untuk itu, kasus tersebut tak banyak yang muncul ke permukaan.
“Jadi masih sangat sedikit kasus yang (korban) berani melaporkan,” katanya.
BACA: Pelecehan Seksual Dosen di Kampus Makassar Marak, Korban Diremas Hingga Diraba
Umumnya, pelecehan yang dilakoni dosen ini, menurutnya menyasar tipikal mahasiswi yang baru. Yang disebut Meisye “Masih Lugu”.
Karena itu, oknum dosen tersebut memanfaatkan situasi psikis sasarannya. “Kemudian karena rasa takut dan segan sehingga peristiwa itu bisa terjadi,” imbuhnya.
BACA: Paus Kecam pelecehan seksual anak Yang Dilakukan Pastur
Tak hanya itu, dalam pengungkapan kasus seperti ini. Dinilai Meisye cukup rumit. Sebab, tak ada bukti-bukti yang menjadi jejak.
“Nah, kadang ini susah dibuktikan. Jadi ada percoban perkosaan atau dalam bentuk pelecehan seksual yang tidak menyisahkan bukti dan saksi,” terangnya.
BACA: Jadi Korban Pelecehan Seksual, Cleaning Service Unhas Ini Malah Disuruh Tutup Mulut
Namun demikian, harapan untuk membuka kasus ini masih berpeluang menurutnya. Sebab, biasanya sebelum kejadian tersebut, terdapat saksi, baik yang melihatnya saat terjadi atau sebelumnya.
“Dan itu bisa jadi petunjuk. Sesaat sebelum siapa yang berada di ruangan itu dan sebagainya,” tambahnya.
Soal sikap kampus yang menutup diri terhadap penyelesaian kasus ini, juga diakui Meisye. Sebab nama baik perguruan tingginya yang menjadi taruhan.
Negeri atau Swasta, bukan menjadi jaminan kasus demikian tak akan ada. Sebab, selalu ada modus dari para oknum. Misalnya, saat belajar di laboratorium atau bimbingan skripsi.
“Jadi seperti itu, tidak hanya di laboratorium sebetulnya, tetapi modus-modusnya kan lebih banyak disitu, bimbingan skripsi dan sebagainya,” ujarnya.



