MAKASSAR, SULSELESKPRES.COM – Jika biasanya masyarakat menyumbangkan pakaian dan makanan untuk para korban gempa dan tsunami Palu. Para murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Wihdatul Ummah memilih untuk menyumbangkam mainan.
Hal itu terlihat di camp pengungsian yang ada di SD Akar Panrita Mamminasata, Jalan Kirab Remaja, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Rabu (3/10/2018).
Senyum dan tawa anak korban gempa dan tsunami Palu mengembang setelah ratusan mainan yang dibawa oleh anak Paud Wihdatul Ummah di camp pengungsian.
BACA: 112 Ibu dan Anak Korban Gempa Palu di Tampung di Sekolah Dasar di Antang
Mereka tertawa dan berebut mainan seolah trauma dan luka yang dialami setelah gempa berkekuatan 7,4 skala richter mengguncang Palu tang disusul dengan tsunami dan menewaskan banyak nyawa.
Setelah memilih mainan yang menjadi kesukaan. Mereka berlarian dan tertawa bermain bersama teman-teman melupakan sejenak lara. Berlarian mengelilingi sudut sekolah dasar yang berada tepat disamping Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar itu.
BACA: 4 Punggawa PSM Lelang Jersey Untuk Korban Gempa dan Tsunami Palu
“Saya senang,” kata, salah satu anak korban gempa Palu, Arsya, sambil tersenyum, saat ditanya disela kesibukannya bermain mainan kesukaannya, SD Akar Panrita Mamminasata.
“Ini mainan kesukaan saya,” sambil mengangkat tangan menunjukkan pistol mainan berwarna keemasan yang dipegangnya.

Sumbangan mainan tersebut merupakan inisiatif dari guru PAUD Wihdatul Ummah yang menginginkan anak yang ada di Camp pengungsian terlalu meratapi kesedihan mereka.
BACA: Cek Kondisi Korban Gempa, Wakil Ketua Komisi IX DPR Kunjungi RS Wahidin
“Ide ini hasil diskusi dan kolaborasi antara kami, guru SD akar Panrita dan orang tua. Bahwa saat ini salah satu yang penting adalah mainan,” jelas, sala satu Guru PAUD Wihdatul Ummah, Widya Astuti.
Ide tersebut muncul dengan harapan bahwa mainan yang disumbangkan oleh anak PAUD Wihdatul Ummah bisa memunculkan senyum dan bahagia dari wajah anak-anak Palu. Sekaligus mengajarkan kepada anak didiknya bagaimana saling berbagi antara sesama.
“Dengan ini setidaknya mereka melupakan trauma akibat gempa yang menimpa mereka. Dan mengajarkan kepada anak kami untuk berbagi kebahagiaan antar sesama,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga membawa kebutuhan lain seperti celana dalam dan pakaian untuk anak-anak dan ibu-ibu.



