MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Jelang laga final leg kedua Piala Indonesia 2018, yang mempertemukan antara tim tuan rumah PSM Makassar kontra Persija Jakarta, tiket laga langsung melonjak naik.
Kenaikan harga tiket ini memang sengaja dilakukan oleh panitia pelaksana, sebab ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk pengamanan laga.
BACA: Kabar Gembira Bagi Fans PSM, Kondisi Pluim dan Rivky Membaik
Harga tiket untuk tribun terbuka naik sebesar 5.000 rupiah dari biasanya. Jika sebelumnya tiket untuk tribun utara dan selatan dipatok dengan harga 30.000, kini menjadi 35.000 rupiah.
Sementara untuk tribun terbuka timur, mengalami jumlah kenaikan yang sama yaitu 5.000 rupiah. Jika tiket di tribun ini biasanya 35.000, sekarang menjadi 40.000 rupiah.
Untuk tribun VIP, baik VIP Selatan maupun Utara, sama-sama mengalami kenaikan sebesar 25.000 rupiah. Sehingga tiket final ini menjadi 175.000 rupiah.
Untuk VIP utama, tidak ada penjualan tiket karena sengaja dikosongkan untuk penyelenggara kompetisi, Liga Indonesia Baru dan Krating Daeng.
Meski begitu, animo masyarakat tidak surut dengan kenaikan harga tiket ini. Hal itu diungkapkan salah satu supporte PSM Makassar, Tetta Sally, saat ditemui di Trans Studio Makassar, Rabu (24/7/2019) siang.
Tetta mengatakan bahwa kenaikan harga tiket 5.000 rupiah untu tribun terbuka tidak mempengaruhi semangatnya dalam memberikan dukungan kepada PSM.
“Ya kenaikan tiket ini tidak seberapa. Tentu tidak mengurangi srmangat saya mendukung PSM. Saya dan teman-teman berharap PSM bisa kembali meraih trofi setelah 19 tahun puasa gelar,” ujar Tetta.
Hal serupa juga disampaikan oleh Andi Rahmawati. Dia mengatakan bahwa warga Makassar tentu tidak akan mempersoalkan tiket yang mengalami kenaikan. Sebab semangat dukungan untuk juara lebih besar.
“Saya sebagai warga Makassar tentu sangat berharap PSM bisa juara. Apalagi ini peluang bagus. Kita harus bisa rebut Piala setelah 19 tahun puasa gelar,” ujarnya.
“Semangat mendukung tentu lebih besar, jadi tidak terlalu jadi masalah kenaikan tiket,” tutup Rahma.
Penulis: Widyawan Setiadi



