24 C
Makassar
Selasa, Februari 7, 2023
BerandaHealthBenarkah Kelebihan Protein Bisa Merusak Fungsi Ginjal?

Benarkah Kelebihan Protein Bisa Merusak Fungsi Ginjal?

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COM – Banyak orang menerapkan pola diet tinggi protein. Pasalnya, protein adalah bagian penting dari diet sehat. Zat ini dapat membantu membangun dan memperbaiki otot, organ, dan tulang.

Diet tinggi protein juga terbukti membantu mengurangi lemak, menurunkan berat badan, meningkatkan rasa kenyang, dan mempertahankan otot. Namun, diet tinggi protein juga dikaitkan dengan beberapa risiko yang penting untuk diperhatikan dan dipahami.

Asupan protein yang berlebihan bahkan dapat menyebabkan penyakit kronis, salah satunya merusak fungsi ginjal.

Kelebihan Protein dan Efek Samping pada Ginjal

Menurut para ahli, diet tinggi protein dalam jangka waktu yang lama ternyata bisa meningkatkan risiko kerusakan ginjal. Selain itu, terlalu banyak mengonsumsi protein juga bisa memengaruhi seseorang yang telah mengidap penyakit ginjal.

Pasalnya, ginjal harus bekerja ekstra keras untuk menyingkirkan nitrogen dan produk limbah dari metabolisme protein.

Berdasarkan penelitian, tingkat level protein yang tinggi dalam tubuh juga bisa menyebabkan warna urine lebih pekat dan keabnormalan blood urea nitrogen (BUN). BUN sendiri merupakan jumlah nitrogen urea yang hadir di dalam darah.

Ginjal yang rusak juga harus bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan nitrogen dan produk limbah dari metabolisme protein.

Efek Samping Lain yang Timbul Akibat Kelebihan Protein

Memang terdapat manfaat diet tinggi protein untuk kesehatan tubuh. Namun, penting untuk memahami masalah kesehatan terkait kelebihan protein dalam tubuh, terutama jika kamu mengikuti diet protein tinggi dalam waktu lama.

Berikut beberapa efek lain akibat kelebihan protein:

1. Penambahan Berat Badan

Diet tinggi protein mungkin mendorong penurunan berat badan, tetapi penurunan berat badan ini hanya bersifat jangka pendek.

Kelebihan protein biasanya disimpan sebagai lemak, sehingga asam amino dikeluarkan. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan,

seiring berjalannya waktu, terutama jika kamu mengonsumsi terlalu banyak kalori saat mencoba meningkatkan asupan protein.

2. Bau Mulut

Konsumsi protein dalam jumlah besar dapat menyebabkan bau mulut, terutama jika kamu membatasi asupan karbohidrat. Ini bisa jadi sebagian karena tubuh memasuki kondisi metabolisme yang disebut ketosis, yang menghasilkan bahan kimia yang mengeluarkan bau badan yang tidak sedap.

3. Sembelit

Diet tinggi protein yang membatasi asupan karbohidrat biasanya rendah serat. Padahal, asupan air dan serta

dapat membantu mencegah sembelit dan melacak pergerakan usus. Alhasil, kekurangan protein akan menyebabkan masalah pencernaan seperti sembelit.

4. Diare

Mengonsumsi terlalu banyak susu atau makanan olahan tinggi protein dan rendah serat dapat menyebabkan diare. Ini akan lebih parah jika kamu mengonsumsi laktosa atau sumber protein seperti daging goreng, ikan, dan unggas.

Untuk menghindari diare, kamu bisa memperbanyak minum air putih, hindari minuman berkafein, batasi gorengan dan konsumsi lemak berlebih, serta tingkatkan asupan serat.
Sumber: halodoc.com

spot_img

Headline

Populer