25 C
Makassar
Sabtu, Oktober 1, 2022
BerandaHeadlineEks Dandim 1705/Paniai Papua Didakwa Pelanggaran HAM Berat

Eks Dandim 1705/Paniai Papua Didakwa Pelanggaran HAM Berat

PenulisAndika
- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Pengadilan Negeri Kelas IA Khusus Makassar menggelar sidang dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dengan terdakwa eks Komandan Distrik Militer (Dandim) 1705/Paniai, Mayor Inf (purn) Isak Sattu di Ruang Sidang Bagir Manan, Pengadilan HAM, Jl. RA Kartini Kec. Ujung Pandang,Kota Makassar, Rabu (21/9/2022).

Dalam sidang tersebut Isak Sattu didakwa pasal HAM. Hal tersebut dibenarkan oleh Kasi Penkum Kejati Sulsel, Soetarmi SH, MH dalam keterangannya.

Ketua JPU Direktur Pelanggaran HAM Jaksa Agung, Erryl Prima Putra Agoes mengatakan terdakwa Mayor Inf (Purn) Isak Sattu dalam kapasitasnya waktu itu selaku Perwira Penghubung (Pabung) Komando Distrik Militer (Kodim) 1705/Paniaidi Kabupaten Paniai berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor : Kep/30/II/2011 tanggal 14 Februari 2011 dan selaku Perwira dengan Pangkat tertinggi yang mengkoordinir kegiatan-kegiatan Komandan Rayon Militer (Danramil) yang berada dalam Wilayah Koordinasinya seharusnya mengetahui bahwa pasukan yang berada di bawah komando dan pengendaliannya sedang melakukan pelanggaran HAM yang berat.

BACA JUGA :  Warga Sulsel Jadi Korban di Papua, Pemprov Turut Berduka

Erryl menjelaskan pelanggaran HAM berat dimaksud yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan, melakukan serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya.

“Bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan, dan terdakwa tidak melakukan tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang lingkup kekuasaannya untuk mencegah atau menghentikan perbuatan tersebut. Terdakwa juga tidak menyerahkan pelakunya kepada pejabat yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan,” ujarnya saat membacakan dakwaan.

Akibat perbuatannya, Mayor Inf (Purn) Isak Sattu didakwa Pasal 42 ayat (1) huruf a dan huruf b Jis Pasal 7 huruf b, Pasal 9 huruf a, Pasal 37 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam dakwaan kedua, Isak dalam Pasal 42 ayat (1) huruf a dan huruf b Jis Pasal 7 huruf b, Pasal 9 huruf h, Pasal 40 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM).

BACA JUGA :  Aktivis Papua Benny Wenda: Perjuangan Kami Bukan untuk Balas Dendam

Usai membacakan dakwaan, tim penasihat hukum Isak Sattu tidak mengajukan eksepsi atau keberatan atas dakwaan JPU.

Sekadar diketahui, kejadian Paniai terjadi pada 8 Desember 2014. Kala itu, warga sipil tengah melakukan aksi protes terkait pengeroyokan aparat TNI terhadap pemuda di Lapangan Karel Gobai, Enarotali, Paniai.

Dalam peristiwa itu, empat pelajar tewas di tempat usai ditembak oleh pasukan gabungan militer. Sementara, satu orang lain tewas usai mendapat perawatan di rumah sakit beberapa bulan kemudian.

Dalam peristiwa tersebut, 17 orang lainnya luka-luka. Dalam hal ini, KontraS menyebutkan bahwa lima orang yang tewas bernama Otianus Gobai (18), Simon Degei (18), Yulian Yeimo (17), Abia Gobay (17) dan Alfius Youw (17).

Sekadar diketahui, kejadian Paniai terjadi pada 8 Desember 2014. Kala itu, warga sipil tengah melakukan aksi protes terkait pengeroyokan aparat TNI terhadap pemuda di Lapangan Karel Gobai, Enarotali, Paniai.

Dalam peristiwa itu, empat pelajar tewas di tempat usai ditembak oleh pasukan gabungan militer. Sementara, satu orang lain tewas usai mendapat perawatan di rumah sakit beberapa bulan kemudian.

Dalam peristiwa tersebut, 17 orang lainnya luka-luka. Dalam hal ini, KontraS menyebutkan bahwa lima orang yang tewas bernama Otianus Gobai (18), Simon Degei (18), Yulian Yeimo (17), Abia Gobay (17) dan Alfius Youw (17).

Dalam pelaksanaan sidang dijaga ketat dari unsur kepolisian dan TNI. Polrestabes Makassar sendiri mengerahkan setidaknya 200 personel.

“200 orang personel kami siagakan untuk pengamanan. Termasuk ada dari unsur Brimob Polda Sulsel,” ujar Kapolrestabes Makassar, Komisaris Besar Budhi Haryanto.

spot_img

Headline