24.1 C
Makassar
Senin, Agustus 8, 2022
BerandaDaerahKementan Jaling Kerjasama BRSDM Kementerian Kelautan dan Perikanan

Kementan Jaling Kerjasama BRSDM Kementerian Kelautan dan Perikanan

- Advertisement -

BARRU, SULSELEKSPRES.COM – Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Mina Padi Air Payau (Intan-AP) dan padi udang windu (Pandu) di lahan menganggur tepatnya di Dusun Uring, Desa Lawallu, Kecamatan Soppengriaja, Kabupaten Barru, Senin (6/5/2019).

Teknologi ini merupakan penemuan baru dan sangat menarik untuk dikembangkan karena menggabungkan udang windu yang biasanya hidup di perairan laut dengan padi yang di perairan tawar.

Panen yang dilakukan di lahan sekitar 1 hektar (30% untuk udang dan 70% untuk lahan padi). Lahan tersebut merupakan lahan persawahan milik kelompok masyarakat yang sudah ditinggalkan kurang lebih 10 tahun karena dianggap tidak produktif

Intan-AP Pandu merupakan integrasi teknologi budidaya udang windu dengan padi varietas toleran salin untuk memanfaatkan potensi lahan idle yang disebabkan oleh intrusi air laut.

Kepala BRSDMKP Prof.Ir.Sjarief Widjaja, Ph.D FRINA mengungkapkan kegiatan riset ini diinisiasi oleh Pusat Riset Perikanan (Pusriskan) pada tahun 2018 melalui sinergitas riset antara Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) dengan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPadi) Kementerian Pertanian (Kementan).

“Ternyata dengan teknologi mereka bisa didekatkan. Padi dengan varietas khusus yang mampu bertahan dengan air payau sampai 10 ppt. Kemudian udang windu yang tadinya 45 ppt bisa diturunkan menjadi 10 ppt. Setelah panen pertama berhasil, panen kedua ini luar biasa, berhasil juga. Jadi kita lihat teknologi ini sudah mapan untuk bisa dikembangkan di masyarakat secara luas,” Ungkap Kepala BRSDMKP Sjarief Widjaja, dalam keterangan rilisnya. Selasa, (07/05).

Kepala BRSDMKP Prof.Ir.Sjarief Widjaja, Ph.D FRINA menjelaskan bahwa tokolan udang windu yang digunakan adalah hasil riset perakitan strain udang windu unggul BRPBAP3, sedangkan varietas padi toleran salin yang digunakan adalah Inpari 34 dan 35 yang merupakan hasil riset perakitan varietas BBPadi.

“Perbaikan teknologi budidaya mina padi air payau pada tahun ini yaitu pencegahan serangan hama pada tanaman padi tidak lagi menggunakan pestisida kimia. Namun menggunakan bio pestisida atau pestisida nabati yang aman bagi kehidupan udang dan ramah lingkungan. Keberhasilan teknologi ini sangat bergantung pada pemeliharaan dan manajemen lingkungan yang sesuai untuk kehidupan udang windu dan padi karena udang windu dan padi mempunyai toleransi salinitas yang berbeda,” jelasnya.

Lanjut, Prof.Ir.Sjarief Widjaja seraya menambahkan keberhasilan Intan-AP Pandu serta pengembangan dan keberlanjutan teknologi ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah pusat, namun juga pemerintah daerah.

Ditempat yang sama Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan Sulkaf S Latief menyampaikan bahwasanya kegiatan ini mendukung Program Gubernur Sulsel bagi Kebangkitan Udang Windu di Sulawesi Selatan

“Ini sejalan dengan perintah bapak gubernur di sektor kelautan dan perikanan bahwa kita harus mempertahankan udang windu yang merupakan (spesies) asli Indonesia. Dengan bantuan semua stakeholder, terutama KKP yang mendorong Sulsel untuk mengembangkan udang windu, tahun depan insya Allah, kita dapat menaikan produksi udang windu,” ujarnya..

Menurut, Sulkaf S Latief pihaknya menyampaikan akan ada beberapa daerah yang akan menjadi wilayah pengembangan udang windu di Sulsel untuk meningkatkan produksi di antaranya Barru, Pinrang, Bone, Takalar, Bulukumba, dan Sinjai.

“Ini diharapkan agar kajian riset Intan-AP Pandu dapat menjadi informasi yang berguna bagi masyarakat dalam pemanfaatan lahan yang tidak termanfaatkan secara optimal akibat adanya interusi air laut. Berdasarkan hasil panen, lahan idle dengan teknologi Intan-AP Pandu mampu menghasilkan beras 2,5 ton (lahan 0,7 hektar) dan 216 kilogram udang (lahan 0,3 hektar), dalam satu kali masa tanam,” Ucap Kadis DKP Sulsel.

Diketahui, dengan harga pasaran udang Rp75.000 per kg serta harga beras Rp4.000 per kg, pembudidaya minapadi mampu mendapatkan hasil senilai Rp26 juta dalam satu kali masa tanam.

Sebelumnya, riset teknologi budidaya minapadi air payau telah diujicobakan pada musim kemarau dan musim penghujan. Berdasarkan hasil percontohan di lokasi ini, potensi produksi udang adalah 216 kg per lahan minapadi dengan padat tebar 4 ekor per m², sedangkan produksi padi adalah 2.450 kg per lahan minapadi

Hasil riset ini juga merupakan bagian dari perwujudan program BRSDM dalam menciptakan desa inovasi digital 4.0 di sejumlah daerah. Di mana sebelumnya BRSDM telah mengembangkan desa inovasi digital 4.0 di Kampung Gabus di Ciseeng, Kampung Sidat di Cilacap, Jawa Tengah dan Kampung Nila di Sleman Yogyakarta.

Turut hadir pada giat tersebut Bupati Barru, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi-Selatan, Kepala Dinas Pertanian Barru, Dir PEKP Kemendes, Kepala Plt BRPBAP3 Maros. (*)

Laporan: Yusnadi 

spot_img

Headline