25 C
Makassar
Selasa, Januari 19, 2021
Beranda Sosok Kisah Pengantar Jenazah Covid-19: Upah Mandek, Kerap Diancam Dibunuh

Kisah Pengantar Jenazah Covid-19: Upah Mandek, Kerap Diancam Dibunuh

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Malam ini saya berulang kali menelepon Alis. Tujuh kali telepon, tetapi tidak ada jawaban. Pesan whatsapp saya juga hanya ceklis satu. Kesimpulan awal saya, Alis tidak mau diganggu. Mungkin sedang rehat. Apalagi sudah pukul 21:19 WITA.

Karena tidak ada jawaban, saya memutuskan kembali menyeruput kopi saya di meja. Sembari menikmati kopi, saya membuka kembali tulisan-tulisan lama. Saya sendiri hampir lupa masih punya tulisan itu. Tersimpan di folder cerpen. Baru kali ini saya buka lagi.

Satu-demi satu, tulisan saya buka. Saya baca secara perlahan. Cukup menyenangkan. Setidaknya untuk mengenang kembali bagaimana saya berusaha menghadirkan tulisan-tulisan itu. Tapi fokus saya terusik. Ponsel saya bergetar. Ada Panggilan masuk.

Alamsyah Herman (Alis)/Ist

Alis. Panggilan itu dari Alis. Tentu saja saya menyambut dengan senang hati. “Maaf om (Begitu kami saling menyapa), HP saya tadi mati. Jadi isi daya dulu,” ujar Alis dari sambungan telepon. Bahkan sepertinya tidak sempat menyapa “Halo” terlebih dahulu.

Sapaan ‘Alis’ sebenarnya cuma julukan. Nama lengkapnya Alamsyah Herman. Tapi karena alisnya tebal, tersambung antara yang kanan dan yang kiri. Itulah asal muda sapaan Alis. Usianya 27 tahun. Lahir di Makassar. Perawakannya tinggi, tapi kurus. Kumisnya tebal. Mungkin itu semua yang membuat dia mudah dikenali, sekalipun dengan orang baru.

Pertemuan saya terjadi di Stadion Mattoanging, markas PSM Makassar. Sekarang sudah dibongkar. Alis suporter fanatik. Tergabung di kelompok suporter Red Gank. Hampir setiap saat dia ada di stadion. Tetapi sekarang ia lebih sering berkeliling rumah sakit.

Beberapa bulan terakhir, Alis beralih profesi menjadi pengantar jenazah Covid-19. Dia driver ambulance jenazah korban Covid-19 dari rumah sakit rujukan ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Macanda, yang memang dikhususkan untuk jenazah Covid-19. Sebelum jadi driver, Alis pernah jadi tukang kubur jenazah Covid.

Dia bergabung di Satuan Tugas Covid-19 Provinsi Sulawesi Selatan, utusan Satuan Polisi Pamong Praja. Markasnya di lantai tiga Swiss Belhotel Losari. Dia memang sudah akrab dengan jenazah Covid-19. Banyak cerita yang dia alami. Mulai kisah senang, lucu, unik, dan tentu lebih banyak pengalaman yang menyeramkan sekaligus menegangkan.

Maksud saya menelepon Alis malam ini cuma satu. Mau mengulik lebih jauh suka duka dalam profesi barunya. Tentu saja untuk edukasi, sekaligus berbagi kepada masyarakat, bahwa Covid-19 benar adanya. Bukan sekadar wacana, apalagi lelucon.

“Suka dukanya banyak om. Tapi seramnya lebih mendominasi,” celetuk Alis dari seberang panggilan, diikuti tawa kecil.

“Saya pernah antar kaki saja om. Pasiennya harus diamputasi, tapi positif Covid-19. Makanya cuma kakinya yang kita makamkan di Macanda. Kanan kiri,” Alis mulai antusias bercerita.

Saya terbawa suasana. Ikut larut dalam kisah Alis. Sesekali, saya membenahi posisi duduk, tentu tidak lupa menyesap kopi susu yang sudah mulai dingin. Poin-poin penting dari cerita Alis saya catat dalam buku agenda kecil warna ungu, yang tidak pernah absen di dalam tas hitam saya.

“Tiga hari belakangan ini banyak kejadian om. Berturut-turut. Orang meninggal semakin banyak, yang terkonfirmasi positif juga begitu. Bulan Desember ini rekor paling banyak sejak awal Covid. Ada 119 jenazah. Yang positif per hari ini 547 orang.”

Tidak berhenti di situ, kisah Alis berlanjut saat hendak membawa jenazah Covid-19 ke Macanda. Kejadiannya tiga hari lalu di Rumah Sakit Ibnu Sina. Saat hendak berangkat, Alis dan tim satgas dihadang keluarga jenazah. Mereka keberatan keluarganya dimakamkan di Macanda.

Alasannya sederhana. Keluarga meyakini, jenazah perempuan tersebut tidak ada hubungannya dengan Covid-19. Sebab, sakitnya bukan karena Covid, tapi memang sakit tua. Memang, usia almarhumah tergolong tua. Sekitar 59 atau 60 tahun. Sayangnya, pihak Rumah Sakit memberikan konfirmasi positif kepada almarhumah.

“Ini kan keputusan Rumah Sakit. Mereka yang berhak mengkonfirmasi positif atau tidak. Jadi bukan satgas. Kita cuma bergerak sesuai arahan. Tanpa berkas lengkap dari Rumah Sakit kita tidak berani bergerak,” Alis berkisah dengan nada seperti memberi penegasan. Wajar saja, mungkin terbawa suasana saat kejadian.

Kejadian itu hari Jumat (25/12/2020). Pasiennya meninggal sekitar jam 2 siang. Pihak Rumah Sakit memberi konfirmasi ke Satgas pukul 19:00 WITA. Mendapat kabar itu, Satgas langsung konfir ke tim pengantar jenazah.

Setelah dapat kabar dari Satgas, Alis dan tim nya yang mendapat shift hari itu, bergegas menuju lokasi. Mereka tiba di sana sekitar pukul 20:00 WITA. Tapi harus terkurung di kamar jenazah sampai jam 02:00 dini hari.

Keluarga pasien covid-19 tersebut bersikeras untuk ikut memakamkan jenazah, hingga akhirnya permintaan mereka dituruti, lantaran terus meneror terhadap petugas.

“SOP nya itu kan cuma 2 orang yang boleh masuk. Tapi keluarga minta 5 orang, ya dengan terpaksa kita ikuti maunya. Soalnya kita diancam. Mau diteror lah, dibunuh lah, jadi kita cari baiknya saja,” Alis melanjutkan ceritanya.

Pasca kejadian tersebut, di hari Sabtu dan Minggu, kejadian yang sama terulang lagi. Pasien meninggal hari Sabtu pukul 20:00 WITA dan baru bisa dimakankan pada pukul 03:00 Minggu dini hari. Tetapi kali ini kejadiannya di Rumah Sakit Awal Bross.

Kemudian di hari ketiga, hari Minggu, kejadian serupa terulang. Kejadiannya lebih alot. Lagi-lagi, perjalanan ke Macanda terhalang. Kali ini, pihak keluarga didampingi Ormas.

“Mereka permasalahkan Pergub baru. poin pentingnya itu pihak keluarga yang mau makamkan. Padahal pasiennya sudah meninggal setelah magrib. Tapi Jam 2 siang hari Senin baru bisa dimakamkan secara covid,” jelas Alis dengan dialeg khas Makassarnya.

Alis mengaku sedih. Ia kerap merasa serba salah. Padahal, tugasnya hanya mengantar jenazah saja. Tetapi tidak jarang harus dibenturkan dengan hal-hal teknis di pangan, yang terkadang bukan menjadi tanggung jawabnya.

Ia hanya memberi pesan agar masyarakat lebih waspada. Sebab, Alis memberi penegasan di sambungan telepon, kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang repot Satgas Covid-19.

“Selama tugas di sini, terkonfirmasi sekitar 780 jenazah. Jadi kasihanilah kita ini. Sedikit saja. Kita bukan robot. Kalau tidak penting jangan keluar rumah. Yang terpapar tetap semangat, jangan putus asa, peluang kalian sehat lebih besar dari kami,” demikian penegasan Alis.

Saya sejenak berpikir, betapa beratnya rugas yang dilakukan Alis. Padahal, sudah empat bulan upahnya belum dibayar. Tetapi dia tetap bekerja untuk kemanusiaan.

Sebenarnya, upahnya tidak terlalu besar. Dalam satu bulan, paling banyak 12 kali pertemuan. Setiap pertemuan, upahnya 100 ribu. Tetapi nyatanya mandek juga.

Padahal, perjuangannya melawan rasa takut juga sangat besar. Alis mengaku pernah ditemui jenazah yang ia makamkan. Pernah juga melihat alat berat jalan sendiri sampai 20 meter di lokasi pemakaman, tanpa awak.

Malah pernah juga ada perempuan pakai baju merah. Memanggil, membayangi, tapi semua tidak dihiraukan Alis. Sekarang, dia mengaku sudah biasa dengan hal-hal seperti itu.

“Intinya kita tidak ganggu dia. Pasti dia tidak bakalan sakiti kita juga,” ujar Alis dengan nada sangat santai.

Percakapan saya dan Alis berlangsung cukup lama. Tidak kurang dari 60 menit. Tapi rasanya sangat singkat. Mungkin karena saya begitu antusias mendengar dan Alis juga semangat saat bercerita. Sampai-sampai, tanpa sadar, kopi saya tandas.

Mungkin karena durasi cerita kami yang lama. Rekan saya juga terlihat mulai layu. Malam memang semakin larut. Sudah pukul 22:34. Cerita Alis masih berlanjut, tapi kian redup. Lebih didominasi dengan canda.

“Kemarin waktu banjir, kita tembus. Lumpur tinggi, mobil tenggelam, kaki terjebak, sampai menangis kita. Tidak terasa itu air mata menetes. Tapi lega sekali setelah pemakamannya selesai.”

“Untung saya terjebak cinta lokasi om. Jadi ada terus yang semangati,” celetuk Alis sembari tertawa lebar.

Canda tawa lebih banyak mengisi ujung perbincangan kami. Sesekali saya menyelupkan kata semangat untuk Alis. Mencoba memberi dorongan lewat tawa. Sampai akhirnya, kalimat salam menutup perbincangan kami.

- Advertisement -

Headline