28 C
Makassar
Kamis, Oktober 6, 2022
BerandaOlahragaMasa Depan Sepakbola Indonesia Dimata Pengamat

Masa Depan Sepakbola Indonesia Dimata Pengamat

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Sepakbola memang selalu menjadi hal menyenangkan untuk diperbincangkan, khususnya bagi kalangan suporter dan pihak-pihak yang berkaitan dengan sepakbola.

Belakangan ini, fenomena sepabola banyak mengalami perubahan, baik dari sisi jadwal kompetisi, sampai pada pembatalan sejumlah perhelatan akbar.

Di kancah dunia, sejumlah kompetisi besar seperti Euro 2020, harus diundur ke tahun 2021 mendatang. Selain itu, banyak negara yang menggelar kompetisi tanpa penonton. Hal ini diakibatkan oleh merebaknya penularan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang menyerang mayoritas negara di berbagai belahan dunia.

Khusus untuk Indonesia, sepakbola bisa dikata mengalami sedikit kemunduran. Semua bentuk kompetisi yang masuk jadwal federasi sepakbola Indonesia, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), harus dibatalkan.

Hal ini berdampak cukup serius terhadap semua elemen, baik pemain, pelatih, pengadil, manajemen, juga sponsor. Sebab, mereka harus kehilangan mata pencaharian pokok di tahun ini.

Akibatnya, banyak pemain potensial dan berbakat yang menganggur. Meskipun sebagian dari mereka ada yang melanjutkan karir di luar negeri, tetapi mayoritas banyak yang turun kasta menjadi pemain turnamen Antar Kampung (Tarkam), bahkan menganggur.

Melihat kondisi ini, Pengamat muda sepakbola Indonesia asal Sulawesi Selatan, Andi Widya Syadzwina, menilai banyak elemen penting yang hilang dari sepakbola Indonesia, khususnya kompetisi.

Hal ini dianggap sebagai salah satu faktor penghambat peningkatan kualitas sepakbola. Sebab, kompetisi merupakan hal vital yang harus dimanfaatkan dengan baik untuk meningkatkan kualitas pemain, khususnya bagi pemain muda, juga nilai jual sebuah klub.

Keterlibatan pemain muda di masing-masing klub tentu bisa mendorong kualitas tim nasional (Timnas) untuk bersaing di kancah internasional. Untuk itu, kehadiran kompetisi adalah sebuah keharusan.

“Kompetisi itu kan salah satu cara untuk menguji kualitas pemain. Jadi kalau tidak ada kompetisi, pasti akan sulit melihat perkembangan pemain,” buka perempuan yang akrab disapa Wina tersebut.

BACA JUGA :  Perundungan, Edy Rahmayadi Diminta Anaknya Mundur dari PSSI

“Sementara Timnas butuh asupan pemain-pemain berkualitas, baik dari segi skill, karakter, juga perilakunya. Semua bisa terlihat dengan jelas saat kompetisi jalan,” lanjutnya kepada Sulselekspres.com, Rabu (16/12/2020) malam.

Meski begitu, Wina menilai masih ada harapan besar bagi sepakbola Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara lain. Akan tetapi, Wina memberi sejumlah catatan untuk memastikan harapan tersebut bisa terwujud.

“Sepakbola Indonesia bisa bersaing beberapa tahun kedepan, tetapi dengan catatan semua pihak berbenah. Baik dari federasinya, operator liga, maupun klub-klub yang terlibat di dalamnya,” jelas eks manager tim PSM Makassar di AFC Cup tersebut.

Lebih jauh Wina mengatakan, dukungan pihak pemerintah juga sangat vital. Sebab, kemajuan sepakbola juga harus ditunjang dengan kehadiran infrastruktur yang memadai.

Selain itu, proses perizinan yang sifatnya membangun dan menguntungkan harus terus didorong, agar proses pembinaan pemain muda bisa berjalan dengan baik.

“Dukungan pemerintah juga sangat penting untuk mendorong sepakbola Indonesia lebih baik, khususnya dalam hal penyediaan infrastruktur, pemberian kemudahan-kemudahan seperti perizinan, dan membantu pembinaan pemain muda dengan menghadirkan kompetisi-kompetisi lokal, maupun nasional,” bebernya.

Apa yang disampaikan Wina sepertinya tidak bisa diundur lagi. Sebab, tahun 2021 mendatang Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah gelaran akbar pentas sepakbola, yaitu Piala Dunia U-20. Sehingga proses pembinaan harus segera dilakukan.

Hal ini tentu harus diwujudkan melalui pembenahan kompetisi, seperti halnya Liga 1 dan Liga 2. Indonesia sebenarnya sudah bisa mencontoh liga-liga internasional yang berhasil menyelenggarakan kompetisi dengan aman dan tidak menjadi klaster baru dalam penyebaran Covid-19.

“Liga Indonesia harus mencontoh liga-liga lain di dunia, atau yang paling dekat saja misalnya beberapa liga di Asia yang sukses penyelenggaraannya.”

BACA JUGA :  PSM Makassar dan 8 Jawara Kompetisi Sepakbola Indonesia Tahun 2019

“Kesuksesan itu tidak hanya diukur dari penuhnya stadion dengan kehadiran suporter. Tetapi bagaimana penegakan aturan dan standar-standar sebuah liga yang maju dan modern, tanpa mengesampingkan sisi komersilnya,” jelasnya.

Jika hal itu mampu diadopsi oleh Indonesia, Wina memprediksi, persepakbolaan Indonesia bisa bersaing ketat dengan negara-lain yang sudah memiliki track record bagus.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sepakbola sudah masuk ke dalam ranah industri. Akan tetapi, kebijakan-kebijakan yang fair bisa dijadikan acuan untuk membina, meningkatkan, dan mempermantap kualitas para pemain, khususnya pemain muda, juga untuk kompetisi.

“Karena sepakbola saat ini kan sudah menjadi sebuah industri. Sehingga, segala keputusan maupun aturan-aturan yang diambil oleh penyelenggara liga tidak lagi merugikan para stakeholder sepakbola di negeri ini,” tutupnya.

Penilaian yang disampaikan oleh Wina ini tentu bisa dijadikan cambuk untuk insan sepakbola, khususnya bagi federasi, penyelenggara, maupun tim yang terlibat. Sebab, hanya dengan berbenah, kualitas bisa menjadi lebih baik.

spot_img

Headline