28 C
Makassar
Senin, September 20, 2021
BerandaSosokMengenal Karya Nor Sidin Ambo Upe

Mengenal Karya Nor Sidin Ambo Upe

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Siapa bilang karya fenomenal hanya bisa diciptakan oleh bangsa asing? Sejumlah gebrakan besar juga banyak lahir dari tangan anak bangsa, tidak terkecuali putra-putri dari tanah Bugis.

Baru-baru ini, salah seorang putra Bugis, Nor Sidin Ambo Upe (41) telah melahirkan karya fenomenal. Lelaki kelahiran 27 Agustus 1979 tersebut telah meluncurkan buku tentang sistem penanggalan masyarakat Sulawesi Selatan berdasarkan naskah lontara, Bilang Taung.

Bilang Taung sendiri lahir dari riset panjang yang dilakukan Ambo Upe, baik dari perpustakaan dalam negeri sampai ke perpustakaan yang ada di luar negeri.

“Riset untuk buku pertama dilkukan di tahun 2019 selama 6 bulan. Buku kedua di bula Maret 2020 selama 6 bulan juga. Rujukan yang dipakai adalah menggunakan naskah-naskah lontara,” ujar Ambo Upe.

Sebelumnya, Nor Sidin Ambo Upe sendiri telah meluncurkan dua buku, yaitu Astrologi Masyarakat Bugis Makassar dan Astronomi masyarakat Bugis Makassar.

BACA: Meks, Layanan Ride Hiling Karya Anak Makassar

Untuk buku Bilang Taung, bahasa yang digunakan dalam buku tersebut didominasi oleh bahasa Bugis-Makassar. Hal ini sengaja dilakukan Ambo Upe sebagai bentuk penegasan identitas masyarakat Bugis-Makassar.

“Berbahasa Bugis dan Berbahasa Makassar. Naskah lontara tersebut berasal dari dalam dan luar negeri, terutama naskah-naskah lontara koleksi Perpusnas Indonesia di jakarta,” jelasnya.

Sementara untuk riset sendiri, di dalam negeri Ambo Upe telah menyusuri berbagai perpustakaan, termasuk Perpunas dan Badan Arsil nasional. Sementarabuntuk di luar negeri, Ambo Upe melakukan penelusuran sampai ke Negeri Kincir Angin.

“Di dalam negeri yang tersebar di masyarakat Sulsel, perpustakan, dan badan arsip.”

BACA JUGA :  Lepas KM Kendhaga Nusantara 11, Gubernur Sulsel Bangga dengan Karya Anak Bangsa

“Hal yang paling mendasar, untuk buku pertama belum pernah diangkat oleh kalangan pemerhati budaya dan sejarah dari catatan. Yang ada hanya Antropolog Asal Belanda, Matthes, di tahun 1872 yang pernah mengangkat, itu pun tidak selengkap di buku pertama, Astrologi Bugis Makassar,” lanjutnya.

BACA JUGA :  25 Judul Buku Indonesia Terjual di Frankfurt Book Fair 2019

Untuk buku Bilang Taung sendiri baru pertama kali diangkat ke permukaan. Hal ini sebagai upaya untuk menjaga kelestarian budaya lokal Sulawesi Selatan agar tidak punah ditelan masa.

Buku Bilang Taung, sistem penanggalan Masyarakat Bugis Makassar ini baru pertama kali diangkat ke permukaan, dan kearifan lokal tentang hal ini telah mengalami kepunahan,” bebernya.

Diketahui, dua buku karya Nor Sidin Ambo Upe ini sendiri merupakan representasi kebangkitan budaya lkal Bugis-Makassar yang mulai hilang. Sehingga, kemunculan Ambo Upe dinilai sebagai wujud lahirnya kelestarian budaya lokal Sulsel.

“Untuk luar negeri yang tersimpan di Belanda yakni Leiden, lalu Brotish Library Inggris, kemudian Perpustakaan Berlin, Jerman. Jadi buku kedua ini mengangkat kembali harta karun terpendam masyarakat Sulawesi Selatan.”

“Dua buku ini adalah Buku kembar yang hadir, astrologi dan astronomi, untuk kembali ke permukaan, dan itu baru satu contoh dari sekian banyak bangsa-bangsa yang memiliki hal sama,” terangnya.

Ambo Upe juga menegaskan bahwa masyarakat Bugis-Makassar memiliki peradaban tinggi dalam dunia astrologi dan astronomi. Hanya saja proses perawatannya yang teryinggal dari negara lain.

“Masyarakat modern seperti Jepang khususnya, masih menjaga kebudayaan mereka tentang Astrologi dan astaronomi, yang berkaitan dengan dunia pengetahuan modern terkait observasium.”

“Sebenarnya masyarakat Bugis-Makassar khususnya, dan Masyarakat Sulsel pada umumnya, telah memiliki peradaban yang tinggi di dunia pengetahuan Astrologi dan Astronomi,” beber Ambo Upe.

BACA JUGA :  Bincang Buku Romansa Purba dalam Stanza I La Galigo

Kabarnya, buku karya Nor Sidin Ambo Upe ini bakal dijafikan srbagai kado ulang tahun Provinsi Sulawesi Selatan oleh Gubernur Nurdin Abdullah di tahun 2020 ini.

BACA JUGA
spot_img
spot_img
spot_img

Headline

IDR - Indonesian Rupiah
USD
14.274,1
EUR
16.719,5
JPY
130,2
KRW
12,0
MYR
3.404,7
SGD
10.557,6
- Advertisment -