MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di Sulawesi Selatan telah berjalan. Sejauh ini, belum ada laporan terjadinya klaster penyabaran Covid-19 pada sekolah yang melaksanakan PTM.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Imran Jausi menyatakan, sejak dimulainya PTM untuk SMA dan SMK, hingga saat ini pihaknya belum menemukan adanya laporan penularan kasus Covid-19 di sekolah. “Kami melihat bahwa memang sampai saat ini belum ada laporan terkait dengan penularan Covid-19 di lingkup sekolah,” ungkapnya Minggu (14/11/21).
Meski begitu, kata dia, PTM ini berlangsung masih dalam konteks terbatas sesuai dengan kebijakan masing-masing pemerintah kabupaten/kota masing-masing.
“Jadi secara umum pelaksanaan tatap muka masih dalam konteks terbatas meskipun di setiap kabupaten/kota mulainya itu bervariasi ada yang duluan, menyusul dan sebagainya,” ujarnya.
Bahkan, pelaksanaan PTM di sekolah menggunakan pola pembelajaran yang bervariasi seperti setiap tiga jam siswanya berganti ataupun ada yang telah melaksanakan secara full.
“Ada yang menggunakan pola setiap tiga jam yang bergantian, bahkan ada beberapa sekolah SMA yang dalam pantauan kami yang letaknya jauh dari kota khususnya pinggiran-pingiran di kecamatan-kecamatan itu bahkan sudah melaksanakan secara full karena data Covid-19 disana itu memang tidak ada, karena letaknya jauh dari kota. Jadi kami tentunya tidak melarang atau pun apa dalam artian tetap dijaga dengan baik,” jelasnya.
Imran berharap kondisi tersebut akan terus membaik dan stabil hingga kedepannya sekolah bisa kembali normal seperti sebelum terjadinya pandemi.
“Saya berharap seperti ini terus artinya kolaborasi antara stakeholder pendidikan kita mulai dari guru siswa dan orang tua harus bersinergi dengan baik termasuk tentunya koordinasi dengan satgas Covid-19 masing-masing kabupaten/kota. Dan saya yakin dan percaya, saya kira tidak butuh lama lagi jika kondisi seperti ini terus stabil dan semakin membaik, maka sekolah normal seperti sebelumnya terjadi Covid itu bisa dilaksanakan,” tegasnya.
Ketua Dewan Pendidikan Sulsel, Adi Suryadi Culla setuju semua sekolah dibuka secara umum. Hanya saja tetap patuh pada protokol kesehatan. Hal ini kata dia, bagian dari antisipasi atau kewaspadaan.
“Tahapan PTM boleh saja dimulai secara utuh. Kedepan melihat kondisi dihadapi, dilakukan prokes secara mutlak,” jelas akademisi Unhas itu.
Yang terpenting kata dia, pengawasan tetap dilakukan selama pembelajaran tatap muka berlangsung. “Siswa disetiap sekolah masih rentan akan berkerumun, jadi jangan terabaikan. Di kelas juga jangan buka masker. Olehnya pengawasan dalam ruang kelas melibatkan guru dan kepsek membentuk satgas, penting juga ketika keluar sekolah jangan berkerumun,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kota Makassar, Rudianto Lallo menegaskan tidak ada klaster Covid-19 di sekolah, khususnya saat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) berlangsung selama beberapa bulan ini.
“Selama proses PTM berlangsung sejak bulan lalu. Alhamdulillah hingga saat ini belum ada laporan mengenai klaster baru di sekolah. Ini artinya sudah normal kembali,” ujarnya.
Menurut Ketua DPRD Kota Makassar itu, sejauh ini tak ada keluhan atau sanggahan dari orang tua wali karena pada dasarnya semua orang tua menghendaki pembelajaran tatap muka berjalan seperti tahun sebelumnya.
Oleh sebab itu, politisi NasDem itu meminta kepada Pemkot dalam hal ini Wali kota dan Dinas Pendidikan akan pemberlakuan pembelajaran tatap muka untuk jenjang SMP/MTS dan SD secara keseluruhan dibuka, tanpa pengecualian.
“Kita tau kondisi sudah normal, jadi kami meminta semua sekolah dibuka kembali, tanpa pengecualian. Yang terpenting protokol kesehatan tetap dipatuhi. Kami berharap tak ada lagi uji coba, atau ada sekolah buka dan ada tidak. Tapi semua serentak lakukan PTM,” tegas pria yang akrab disapa RL itu.
Dia menambahkan, beberapa bulan terakhir. Data satgas Covid-19 di Makassar mencacat tak ada kenaikan atau pasien baru Covid. Bahkan RS milik Pemkot tak lagi menampung pasien Covid.
“Dari data ini, maka kita pastikan Covid mulai redah. Jadi sekolah tetap jalan dengan proses belajar mengajar. Jangan ada pembelajaran virtual lagi,” pungkas RL.



