SULSELEKSPRES.COM – Peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) yang jatuh pada 10 Desember, membuat sejumlah pihak menggelar aksi. Salah satunya dari Komite Aksi Hari HAM, di Fly Over, Makassar.
Menurut Juru Bicara Komite Aksi Hari HAM, Ady Anugrah Pratama, selama ini HAM hanya menjadi retorika pemerintah.
“Soal HAM bukan prioritas pemerintah, dikesampingkan demi pertumbuhan dan pembangunan infrastruktur. Dampaknya bisa kita lihat, konflik sumber daya alam, antara masyarakat dan korporasi swasta dan negeri. Banyak masyarakat terusir dari tanah sendiri. Contohnya konflik antara masyarakat dengan PTPN di Mangkutana, Luwu Timur, ” Jelas Cappa, sapaan akrab Ady Anugrah Pratama.
Cappa juga merinci, persoalan HAM di sisi lain, penyampaiaan pendapat mendapat banyak ancaman, seperti penggunaan pasal karet di UU ITE. Tak sedikit aktivis, mahasiswa dan orang- orang yang mengkritik pemerintah diteror, diintimidasi dan dikriminalisasi. Selain itu, berbagai aksi penyampaiaan pendapat dibubarkan. Peserta aksinya ditangkap dan mendapat tindakan kekerasan. Termasuk mahasiswa Papua yang sering mendapat tindakan pembubaran saat melaksanakan aksi
“Kita seperti dijebak dan tertipu dengan retorika politik, keduanya berjanji akan menyelesaikan hutang masa lalu atas kasus pelanggaran HAM yang tak pernah diselesaikan, pemajuan demokrasi dan HAM di masa depan,” ujar Cappa.
Fakta-fakta itu menunjukkan ada persoalan dalam pemenuhan HAM.
“Kami berharap, pemerintah punya rencana dan tindakan kongkret terhadap pemenuhan HAM. Termasuk penyelesaiaan kasus pelanggaran HAM masa lalu,” tegas Cappa.



