25 C
Makassar
Sabtu, Oktober 16, 2021
BerandaHukrimPolisi Temukan Hasil Visum Kasus Dugaan Pemerkosaan3 anak di Luwu Timur

Polisi Temukan Hasil Visum Kasus Dugaan Pemerkosaan3 anak di Luwu Timur

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan tim asistensi dan supervisi Bareskrim mendapatkan fakta adanya hasil visum terkait kasus dugaan pemerkosaan3 anak di bawah umur yang ada di Luwu Timur.

Menurut Rusdi asil visum tersebut menyatakan ketiga kakak beradik yang diduga diperkosa ayah kandung itu sempat mengalami peradangan di areal intim korban.

Fakta baru ini diketahui setelah tim asistensi Bareskrim Polri yang diturunkan ke Sulsel, kembail meminta keterangan dokter yang pernah menangani ketika anak tersebut.

“Jadi, pada 31 Oktober 2019, ketiga anak itu sempat menjalani pemeriksaan medis di RS Vale Sorowako. Mereka ditangani dokter Imelda, spesialis anak,” kata Rusdi dikutip, Rabu (13/10).

Dari keterangan dokter Imelda, ketiga anak itu sempat ditangani karena ada peradangan di sekitar alat kelamin.

BACA JUGA: Dugaan Kekerasan Seksual di Lutim, Kuasa Hukum Pelapor Sayangkan Sikap Polisi

“Sehingga, ketika dilihat ada peradangan pada vagina dan dubur, diberikan antibiotik dan parasetamol obat nyeri,” tambah Rusdi.

Jenderal bintang satu itu menyebut dokter Imelda menyarankan agar orang tua tiga anak dan tim asistensi untuk melakukan pemeriksaan lanjutan ke spesialis kandungan.

Tim penasehat hukum 3 korban dugaan kekerasan seksual di Luwu Timur saat menggelar konferensi pers via zoom/ IST

Sebelumnya, tim kuasa hukum kasus dugaan kekerasan seksual di Luwu Timur, menyayangkan sikap Polri yang belum membuka kasus dengan alasan menunggu bukti baru.

“Pernyataan itu dapat menyesatkan publik karena, seolah membebankan pembuktian pada pelapor. Dalam perkara pidana polisi yang punya kewenangan untuk mencari bukti bukan korban maupun masyarakat yang mencari keadilan.” Ungkap Rezky Pratiwi saat menggelar konfreensi pers secara virtual, Selasa (12/10/2021).

BACA JUGA :  Mengaku Debt Collector, 2 Orang Diduga Coba Perkosa dan Aniaya Seorang Siswi

Menurutnya, seluruh bukti-bukti hanya dapat ditemukan dan diambil melalui sebuah proses hukum. Dengan ditutupnya proses penyelidikan melalui surat penetapan penghentian penyelidikan, kata dia, maka peluang untuk mendapatkan bukti-pun akan tertutup.

“Sebaliknya, dibuka kembalinya proses penyelidikan akan membuka peluang terhadap munculnya bukti-bukti yang mendukung proses penegakan hukumnya,” ujar Pratiwi.

Bukti-bukti yang menguatkan dan alasan mengapa penyelidikan harus dibuka kembali telah disampaikan Pihak korban/kuasa hukum korban dalam gelar perkara di Polda Sulsel sebelumnya pada 6 Maret 2020. Seluruh dokumen tersebut hanya akan diserahkan dalam proses penyelidikan/penyidikan ataupun dalam rangka membuka kembali proses tersebut sebagaimana ketentuan yang berlaku.

“Kami mempertanyakan komitmen Polda Sulsel untuk melakukan kembali penyelidikan. Sebab dalam Gelar Perkara Khusus Tanggal 6 Maret 2020 yang dilakukan atas permintaan kami di Polda Sulsel, tidak ditunjukkan keseriusan untuk membuka kasus ini. Tim kuasa hukum telah mengajukan permintaan sejak 26 Desember 2019, yang selanjutnya baru diminta hadir 6 Maret 2020, dengan undangan yang disampaikan pada 5 Maret 2020,” jelas Ketua LBH Makassar, Haidir.

BACA JUGA
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Headline

IDR - Indonesian Rupiah
USD
14.064,5
EUR
16.313,5
JPY
123,0
KRW
11,9
MYR
3.382,5
SGD
10.430,7