22 C
Makassar
Senin, Agustus 8, 2022
BerandaNasionalPrabowo: Kami Sering Dituduh Membela Aliran Islam Garis Keras

Prabowo: Kami Sering Dituduh Membela Aliran Islam Garis Keras

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COM – Capres 02 Prabowo Subianto menyindir pernyataan eks Kepala BIN AM Hendropriyono soal WNI keturunan arab. Menurut Prabowo, pernyataan tersebut bersifat rasis dan berpotensi memecah belah NKRI.

“Pernyataan Pak Hendropriyono yang menyinggung masalah keturunan WNI di mana kami melihat pernyataan tersebut bersifat rasis dan berpotensi untuk mengadu domba dan memecah belah anak bangsa,” ujar Prabowo di depan kediamannya, Jl Kertanegara No 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (8/5/2019) dilansir dari detikcom.

Alasan Prabowo menyoroti pernyataan Hendropriyono itu, lantaran Ia merasa pihaknya selalu disudutkan. “Karena kami sering disudutkan dengan dituduh bahwa kami membela aliran Islam garis keras, kami membela HTI. Tuduhan-tuduhan ini kami anggap sebagai upaya yang tidak menguntungkan kita,” katanya.

Meski demikian, Eks Danjen Kopassus itu menilai bahwa Hendro bisa saja khilaf. “Untuk itu kami menyatakan keprihatinan kami kami yakin ini kekhilafan beliau. Mungkin beliau tidak bermaksud seperti itu,” tambah Prabowo.

Sebelumnya, Hendropriyono mengingatkan sejumlah WNI keturunan Arab tidak menjadi provokator. Hendropriyono tak mau seruan makar itu meluas. Dalam pernyataannya, ia menyebut beberapa nama tokoh yang merupakan pendukung Prabowo-Sandi yakni Habib Rizieq Syihab dan Yusuf Martak.

“Saya peringatkan Rizieq, Yusuf Martak, dan orang-orang yang meneriakkan revolusi kan sudah banyak. Itu inkonstitusional, merusak disiplin dan tata tertib sosial, jangan seperti itu,” kata Hendropriyono kepada wartawan, Selasa (7/5/2019).

Hendropriyono memandang banyak warga keturunan Arab yang sangat dihormati di masyarakat. Karena itu dia merasa perlu memperingatkan sebagian warga keturunan Arab untuk tidak memprovokasi revolusi sampai turun ke jalan.

“Kalau kenyataan di masyarakat kita itu sangat menghormati orang-orang Arab, mereka kan juga warga negara Indonesia. Kalau di kampung-kampung kita masih bisa lihat orang Arab datang ke kampung-kampung pada cium tangan. Berarti posisinya mereka kan berada pada tempat yang dimuliakan, mereka kemudian langsung atau tidak langsung terakui sebagai pemimpin informal, informal leader,” kata Hendropriyono.

Muhammad Adlan

spot_img

Headline