31 C
Makassar
Rabu, November 25, 2020
Beranda Edukasi Siswa Bunuh Diri, IGI Kritik Sistem Belajar Daring Kemendikbud

Siswa Bunuh Diri, IGI Kritik Sistem Belajar Daring Kemendikbud

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COM – Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengkritik sistem belajar daring dari Kemendikbud terkait adanya kasus seorang siswi bunuh diri di Sulsel.

Terlebih karena motif bunuh diri dicurigai akibat depresi dengan banyaknya tugas sekolah yang dilakukan secara daring.

IGI menganggap kalau belajar daring yang membuat siswi depresi akibat minimnya standar pengelolaan pembelajaran jarak jauh. Aksi bunuh diri disebut bukan kejadian tunggal.

“Stres yang dialami siswa akibat pembelajaran jarak jauh yang tidak memiliki standar khusus dan cenderung sangat memberatkan siswa. Dari sisi tugas-tugas dari guru telah mengakibatkan depresi terhadap siswa yang akhirnya dapat berujung pada kejadian bunuh diri seperti ini,” kata Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim, (19/10/2020).

Dia mengatakan, jumlah mata pelajaran yang sangat banyak ditambah dengan mudahnya guru memberikan tugas kepada siswa menjadi beban yang begitu berat bagi siswa. Dengan 14 sampai 16 mata pelajaran dianggap bukan sesuatu yang mudah, apalagi dengan dukungan jaringan internet yang tidak memadai.

“IGI sejak awal sudah meminta pemerintah pusat dan menyampaikan langsung ke mendikbud Nadiem Makarim bahwa beban mata pelajaran yang dialami oleh siswa sesungguhnya menjadi masalah utama rendahnya kualitas pendidikan kita. Namun hingga saat ini upaya penyederhanaan kurikulum tampaknya masih mengalami jalan buntu,” katanya.

“Nadiem Makarim seolah tidak punya formulasi untuk menuntaskan masalah jumlah mata pelajaran yang sangat membebani anak didik ini,” tambah Ramli lagi.

Standar penugasan, kata Ramli, tidak atur dengan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah.

“Bisa dibayangkan jika setiap guru memberikan satu saja tugas setiap minggu maka setiap siswa akan mendapatkan 14-16 tugas yang harus dituntaskan sebelum mata pelajaran dilanjutkan minggu depannya,” ujarnya.

Kejadian bunuh diri oleh siswa di Kabupaten Gowa disebut sudah seharusnya menjadi alarm yang sangat keras kepada pemerintah.

“Pemerintah tidak boleh berlepas tangan dengan cukup memberikan kuota data kepada siswa saja, tetapi memahami secara penuh suasana dan kondisi pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Dan semua itu seharusnya diatur dan dibuat standarnya oleh Kemdikbud,” pungkasnya.

Seperti diketahui, seorang siswi SMA berinisial MI (16), di Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, ditemukan tewas terbujur kaku di bawah tempat tidurnya pada Sabtu (17/10/2020).

Korban tewas diduga karena bunuh diri dengan cara minum racun rumput. Alasannya, karena depresi dengan banyaknya tugas sekolah yang dilakukan secara daring.

Headline

NA: Januari Sekolah Dibuka, Para Guru Akan Diswab Massal

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah (NA), menegaskan bahwa sekolah akan kembali di buka pada Januari 2021 mendatang. Untuk menjamin bahwa semuanya...

Prodi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Unimerz Jalani Assesmen Lapangan Via Daring

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM - Prodi Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Megarezky (Unimerz) menjalani assesman lapangan secara daring. Adanya wabah Covid...

Iman Melawan Pandemi

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM - Malam itu, Rabu (11/11/2020), cuaca cukup cerah. Kerlip cahaya bintang terlihat jelas di langit Makassar, meski tidak seterang sorot lampu Anjungan...

Prof Jasruddin : Unimerz Tunjukkan Kemajuan Pesat

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM - Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL DIKTI) wilayah IX, Prof. Jasruddin, menilai Universitas Megarezky (Unimerz) Makassar mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pasalnya,...