Jeneponto, SulselEkspres.com — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Megarezky bersama Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia menerapkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas UMKM Jeka Abon Daging Kuda (UKM Panrita) di Ganrang Batu Selatan, Desa Kayuloe Timur, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto.
Program tersebut menyasar UMKM yang dikelola Angga Zulfikar dan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun pendanaan 2025.
Program ini digagas sebagai salah satu upaya mengungkapkan tingginya prevalensi stunting di Kabupaten Jeneponto yang masih menjadi salah satu daerah dengan angka stunting tinggi di Sulawesi Selatan.
Daging kuda dipilih karena merupakan salah satu pangan lokal yang telah dikenal dan diterima masyarakat Jeneponto. Selain itu, daging kuda memiliki kandungan protein dan zat besi serta lemak yang relatif rendah, sehingga berpotensi menjadi salah satu sumber pangan hewani untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi kelompok rentan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Tim pelaksana atas Dr.apt. Nurhikma A, S.Farm., M.Si. dari Program Studi S1 Farmasi Universitas Megarezky sebagai ketua tim, Dr. Iriyani Harun, S.KM., M.Kes. dari Program Studi S1 Gizi Universitas Megarezky sebagai anggota, serta Dr. Sri Prilmayanti Awaluddin, SE., MM. dari Program Studi Manajemen Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia sebagai anggota.
Sebelum program diterapkan, Jeka Abon Daging Kuda hanya mampu memproduksi sekitar 3–4 kilogram abon per minggu. Kondisi tersebut mempengaruhi proses pemotongan daging yang masih dilakukan secara manual.
Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 45–60 menit setiap kali pengerjaan. Selain memakan waktu, hasil pencabikan juga belum seragam dan berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi apabila tidak dilakukan dengan prosedur higienis.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim PKM memberikan dan menerapkan mesin pencabik daging otomatis serta mesin penggoreng otomatis berbahan stainless steel yang lebih mudah dibersihkan dan mendukung proses produksi yang higienis.
Penerapan teknologi tersebut memberikan peningkatan yang signifikan. Kapasitas produksi UMKM naik menjadi sekitar 8–10 kilogram abon per minggu atau meningkat hingga sekitar 150 persen. Sementara itu, waktu pencacahan daging berkurang sekitar 60–70 persen, dari sebelumnya 45–60 menit menjadi hanya 10–15 menit.
Penggunaan mesin juga menghasilkan serat daging yang lebih halus dan seragam. Proses penggorengan menjadi lebih terkontrol sehingga tingkat kematangan abon lebih merata dan kualitas produk dapat dipertahankan.
Tidak hanya menyediakan peralatan produksi, tim PKM juga mendampingi mitra dalam penyusunan standar operasional prosedur (SOP) produksi higienis, penguatan branding, serta strategi pemasaran digital.
Pada aspek edukasi, Dr. Iriyani Harun memberikan penyuluhan mengenai gizi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan orang tua balita yang berisiko mengalami stunting. Kegiatan tersebut dilakukan bersama kader Posyandu, PKK, dan perangkat Desa Kayuloe Timur agar edukasi mengenai penyediaan gizi dapat terus berlanjut setelah program berakhir.
Sementara itu, Dr. Sri Prilmayanti Awaluddin memberikan pendampingan terkait strategi pemasaran, termasuk pemanfaatan pasar dan media sosial Jeka Abon untuk memperluas jangkauan pasar hingga ke luar Kabupaten Jeneponto.
Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 atau Zero Hunger dan SDG 3 atau Good Health and Well-Being.
Kepala Desa Kayuloe, H. Lelong Azis, menyambut baik terlaksananya program tersebut. Menurutnya, kehadiran perguruan tinggi memberikan manfaat langsung bagi pengembangan UMKM sekaligus mendukung upaya pemerintah desa dalam menekan angka stunting.
“Kami menyambut baik program ini karena selain membantu pengembangan usaha warga, program ini juga sejalan dengan upaya desa dalam pencegahan stunting. Kami baru mengetahui setelah dilakukan penyuluhan oleh tim PKM bahwa daging kuda ternyata mengandung protein yang lebih tinggi dan rendah lemak dibandingkan daging sapi,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus berlanjut sehingga memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat Desa Kayuloe.
Ketua tim PKM, Dr.apt. Nurhikma A, S.Farm., M.Si., mengatakan penerapan teknologi tepat guna menunjukkan bahwa inovasi sederhana dapat memberikan dampak nyata terhadap produktivitas UMKM.
“Peningkatan kapasitas dan mutu produksi ini tidak hanya menguntungkan usaha mitra secara ekonomi, tetapi juga menjadikan abon daging kuda sebagai produk pangan lokal bergizi yang mendukung upaya pencegahan stunting di Kabupaten Jeneponto, khususnya di Desa Kayuloe Timur,” ujarnya.



