32 C
Makassar
Senin, Desember 5, 2022
BerandaPolitikTrah NH di Tubuh Golkar Mulai Lemah ?

Trah NH di Tubuh Golkar Mulai Lemah ?

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Nama tokoh politik Sulawesi Selatan, Nurdin Halid (NH), memang selalu jadi pertimbangan serius bagi para penantangnya. Bukan hanya Nurdin Halid saja, tetapi juga kelompok yang sejalan dengan dirinya.

Kekuatan pengaruh politiknya tidak diragukan lagi. Bahkan, saat ini pria kelahiran tanah Arung Palaka, Kabupaten Bone, itu duduk di jajaran elit Dewan Pompinan Pusat (DPP) Partai Golongan Karya (Golkar).

Keberhasilan NH menembus jajaran elit Golkar pusat tentu tidak berangkat lewat jalur yang mudah. Semua dibuktikan lewat dedikasi dan pengaruhnya saat memimpin Partai Beringin di Sulawesi Selatan.

Secara otomatis, kekuatan Nurdin Halid atas Partai Golkar di Sulawesi Selatan, khususnya kota Makassar, tentu sangat mengakar. Sehingga, trah yang ia pimpin bisa dikata masih bakal mendominasi.

Akan tetapi, seiring berjalannua waktu, dinamika yang terjadi di tubuh partai Golkar terus bergejolak. Hal ini berimbas pada lahirnya kelompok-kelompok baru yang juga mulai menguat.

Saat ini, trah Nurdin Halid di Golkar Sulsel memang masih kuat, tetapi kekuatan itu dinilai mulai luntur. Hal ini dipengaruhi dengan hadirnya trah baru dari kubu Taufan Pawe selaku ketua DPD I Golkar Sulsel.

Menurut pandangan pengamat politik kota Makassar, Andi Luhur Prianto, posisi partai Golkar di Dewan Pimpinan Daetah tingkat dua (DPD II) kota Makassar memiliki nilai tawar yang cenderung lebih tinggi dari daerah lain.

Sebab, saat ini Makassar hampir bisa dikatakan sebagai sentral politik bagi semua partai. Makassar dinilai sebagai pintu masuk untuk mengukur kekuatan baru, dalam misi mengikis kekuatan lama.

“Soal Golkar Makassar, dinamikanya bisa berbeda dengan DPD II lain di Sulsel. Musda DPD II Golkar Makassar akan menjadi pintu masuk untuk mengukur kapasitas kepemimpinan Taugan Pawe melakukan perubahan.”

BACA JUGA :  Kompak NH-RMS Hadiri Deklarasi JA-RMB

“Kalau masih mengakomodasi kekuatan lama, maka Infrastuktur Golkar akan sulit seirama dengan aransemen DPD I,” jelas Luhur kepada Sulselekspres.com.

Lebih jauh Luhur menilai, kondisi DPD II Golkar Makassar saat ini memang cenderung sulit ditebak. Sebab, ada banyak kubu yang mulai menguat, seperti hal nya kubu Taufan Pawe.

“Secara de facto, kekuatan kubu status quo mulai terancam dengan kehadiran kepemimpinan baru melalui pelaksana tugas (Plt) Ketua. Kinerja Plt Ketua sangat strategis untuk mengkondisikan Musda, terutama kalau Golkar ingin melakukan perubahan dan melepaskan diri dari status quo kepemipinan sebelumnya,” jelas akademisi Unismuh tersebut.

Melihat kondisi jelang Musda DPD II Golkar Makasaar, Luhur memandang masih ada sejumlah kekuatan yang berpotensi ambil bagian dalam pertarungan perebutan kursi nomor satu. Hanya saja, kemungkinan terbesar bakal terjadi duel adu kuat antara kubu Nurdin Halid dan kubu Taufan Pawe.

“Untuk partai dengan level pengorganisasian seperti Golkar, sebenarnya sulit untuk diintervensi kekuatan baru atau figur-figur baru. Masih tetap kubu status quo NH dan kubu perubahan TP akan berebut kekuasaan partai,” jelasnya.

Isu pertarubgan dua kubu ini memang mulai tercium sejak beberapa waktu lalu. Hal itu seiring munculnya nama ketua DPD II Golkar periode lalu, Farouk M Betta, yang mewakili kubu Taufan Pawe, dan juga wakil ketua DPRD Makassar, Andi Nurhaldin NH, yang merupakan putra dari Nurdin Halid sendiri.

Dua nama kandidat ini kian mencuat seiring dekatnya pelaksanaan Muda Golkar Makassar. Akan tetapi, jika berbicara siapa yang akan menang, menurut Luhur, tentu akan sangat bergantung pada strategi yang bakal digunakan masing-masing kubu.

“Soal siapa yang kemudian menguasai, tergantung pengorganisasian kepentingan di Musda. Tidak selalu the winner takes all. Dalam politik, juga terdapat pola dinamika, yaitu konfrontasi, negosiasi, dan kompromi,” tutup Luhur.

BACA JUGA :  Nurdin Halid: Golkar Hampir Kalah, Nasdem Nyaris Menang

Di tempat lain, pengamat politik Universitas Hasanuddin, Andi Ali Armunanto, menilai ada beberapa kemungkinan yang bakal terjadi di Musda DPD II Golkar Makassar mendatang.

Jika benar nantinya Farouk M Betta dan Nurhaldin bakal bertarung, dalam kondisi normal dan fair, Ali menilai Farouk memiliki peluang lebih besar. Sebab, selama ini pengaruhnya di Makassar audah cukup diperhitungkan.

Sementara Nurhaldin, ia dinilai lebih kuat dalam hal jaringan elit. Sehingga, jika ia bertarung tanpa campur tangan elit, tentu saja kekuatannya masih berada di belakang Farouk M Betta.

Tetapi, Ali menegaskan, momentum Musda tidak pernah lepas dari campur tangan elit. Sehingga, kemungkinan sebaliknya masih bisa terjadi.

“Kalau keduanya bertarung secara fair, dalam hal ini konteksnya tanpa campur tangan elit, tentu Aru (sapaan Farouk) berpeluang lebih besar. Sebab selama ini dia sudah punya kekuatan di Makassar. Sementara Nurhaldin lebih kuat di jaringan elitnya,” ujar Ali.

“Tetapi perlu diingat, momentum Musda ini sulit lepas dari campur tangan elit. Biasanya elit ikut terlibat, entah di belakang layar maupun terjun langsung,” jelasnya.

Jika kita menelisik sedikit lebih jauh, terkikusnya trah NH di Golkar Makassar tidak hanya diancam dengan kehadiran kubu Taufan Pawe. Masih ada sejumlah kubu lain uang juga tidak bisa dipandang sebelah mata, seperti halnya Rusdin Abdullah (Rudal) juga kelompok Yasin Limpo.

Rusdin Abdullah sendiri cukup tersohor di kalangan elit politik. Bahkan, nyonya Rudal, Andi Debbie Purnama Rusdun, pun kini tengah berada dalam kekuatan cukup di DPRD Provinsi Sulsel.

Sementara kekuatan Yasin Limpo cukup menyita perhatian dengan hadirnya Irman Yasin Limpo alias None di jajaran pengurus DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan.

BACA JUGA :  Disinggung Nurdin Halid, Bupati Soppeng Dibela Pendukung IYL-Cakka
spot_img

Headline

Populer