Satu hal yang harus menjadi rujukan masyarakat dalam membaca rilis survei, imbuh Saifullah, adalah konsistensi hasil karena bagaimanapun, fluktuasi suara dalam dalam jenjang waktu tertentu tidak akan melonjak drastis dan juga harus melihat perkembangan tren peningkatan atau penurunan suara. Dan yang terpenting adalah apakah lembaga tersebut kredibel dan profesional.
“Setiap rilis survei, walaupun dikeluarkan oleh beberapa lembaga survei berbeda, kita harus melihatnya dalam sebuah tren dan kekonsistenan. Misalnya ada kandidat yang dalam survei-survei sebelumnya hanya menduduki peringkat 3 atau 4, tiba-tiba melonjak menjadi urutan 1 dengan lonjakan suara sangat drastis, maka dalam tradisi survei hal ini agak tidak masuk akal. Apalagi bila dalam survei sebelumnya sang kandidat tercatat mengalami penurunan suara”, tandasnya.
BACA: Kunjungi Gowa, NA: Jangan Sampai Kita Menang Tapi Orang Lain Dilantik
Menurut Saifullah, rilis survei dalam Pilgub Sulsel oleh beberapa lembaga survei telah dilakukan. Rujukan ilmiahnya adalah konsistensi hasil survei, dan hasilnya sepanjang rentang hasil survei yang dirilis hanya kandidat Prof Andalan yang tercatat memiliki hasil survei yang konsisten yang berasal dari lembaga survei berbeda dan dikenal kredibel.
“Ini yang harus menjadi rujukan masyarakat. Karena dalam metode survei, fluktuasi pergerakan suara dan tren suara tidak akan bergeser besar,” katanya.
Prof Hamdi Muluk juga menambahkan dalam survei, tren perubahan suara tidak akan melonjak drastis. Khususnya, dalam Pilgub yang tersisa hanya 1 bulan ini, menurut Prof Hamdi, pergeseran suara yang bisa terjadi hanya kurang lebih hanya sekitar 1 persen saja.



