25 C
Makassar
Selasa, Januari 19, 2021
Beranda Edukasi Cerita Amin, 12 Tahun Mengabdi Tanpa Kelayakan Gaji

Cerita Amin, 12 Tahun Mengabdi Tanpa Kelayakan Gaji

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Peradaban kemajuan bangsa merupakan suatu hal penting yang harus menjadi perhatian pemerintah. Hal ini tentu harus berangkat dari hal yang paling mendasar nan vital, yaitu pendidikan.

Kualitas pendidikan tentu memberikan efek positif terhadap kemajuan peradaban. Hal inilah yang harus terus didorong dan ditingkatkan.

Akan tetapi, peningkatan kualitas pendidikan tentu harus tetap seiring dengan kemampuan tenaga pendidik. Selain kualitas, kebutuhan dasar ekonomi mereka juga harus menjadi perhatian penting, khususnya bagi tenaga honor.

Diketahui, salah satu hal yang dilematis bagi para honorer adalah tidak seimbangnya pekerjaan dengan upah yang mereka terima. Pekerjaan kadang numpuk, tetapi imbalan tidak kunjung membaik.

Hal ini juga dirasakan oleh salah seorang guru honorer di kota Makassar, Muhammad Yamin (41). Bapak tiga anak tersebut sudah mengabdi sejak tahun 2008 silam (12 tahun).

Saat ini, ia mengabdikan dirinya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 18 kota Makassar. Ia merupakan sosok ulet dan bertanggung jawab. Menjalankan pekerjaan dengan baik, bahkan pada saat mendapat tugas tambahan.

Meski begitu, pria yang akrab disapa Amin tersebut mengaku tidak lelah. Baginya, pendidikan anak-anak merupakan hal paling utama yang harus diperhatikan. Bahkan, ia masih bertahan menggeluti profesinya meski upah tidak seberapa.

“Saya kan tenaga honor. Harapan pendapatan saya untuk keluarga ya dari situ. Meskipun tidak seberapa, tapi ya harus dijalani. Banyak dukanya memang jadi tenaga honor, tapi masih ada suka yang membuat saya bertahan,” Amin berkisah kepada Sulselekspres.com.

“Melihat anak-anak tumbuh cerdas itu suatu kebahagiaan. Meskipun tugas saya hanya bantu-bantu ASN. Kita ikhlas saja, semata-mata mengabdi, dan mungkin ini bagian dari ibadah saya,” Amin melanjutkan kisahnya, Rabu (25/11/2020) sore.

Meski begitu, Amin juga tidak memungkiri bahwa kebutuhan keluarga juga harus dipenuhi. Sehingga, ia berharap pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada tenaga honor.

Sebab, sejauh ini Amin dan rekan-rekannya hanya berharap dari dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), yang sepenuhnya mengikuti kebijakan kepala sekolah.

“Ya bagaimana lagi. Kita cuma berharap dari dana BOS. Jadi ikut saja sama kebijakan kepala sekolah. Sedihnya lagi, dulu pernah nyaris empat bulan tidak ada gaji. Tapi sekarang alhamdulillah sudah lancar,” jelas Amin dengan nada pasrah

“Kalau harapan sih, pemerintah tolong perhatikan kami lah. Kalau upah kami tidak bisa sebesar UMR, menghampiri saja tidak apa-apa. Jangan terlalu jauh juga selisihnya.”

“Kita ini kan manusia biasa juga. Kasarnya, kita juga butuh asupan gizi. Jadi tolonglah, lihat juga keberadaan kami,” lanjutnya penuh harap.

Amin juga tetap memberi semangat kepada rekan-rekannya. Ia meyakinkan bahwa ada jalan terang di depan mata. Sehingga lelah harua tetap dipupuk dan dijadikan pemicu semangat untuk terus berbuat penuh ikhlas.

“Teman-teman mungkin sudah lelah dengar kata sabar. Tapi cuma hal itu yang bisa menguatkan kita. Jadi, mari kita tetap ikhlas. Ada titik terang di depan kita,” jelasnya.

Selain itu, Amin juga memberikan imbauan kepada anak didiknya agar tetap berada di rumah dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Sebab, di masa pandemi ini kesehatan merupakan hal pokok yang tidak boleh disepelekan.

“Untuk anakanak ku, tetap sabar. Di rumah saja dulu. Patuhi protokol kesehatan. Insya Allah tahun depan kita bisa bertemu lagi di ruang belajar,” tutupnya.

- Advertisement -

Headline