Refleksi Hari Raya Idul Fitri 1446 H/2025 M:
Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
Hari kemenangan telah tiba. Ramadhan kini meninggalkan kita. Hari ini, kita semua bergembira karena telah melalui penggemblengan yang menghasilkan kemenangan, meraih derajat takwa, dan mengenakan jubah ketakwaan di hari yang penuh kebahagiaan ini.
Namun, ada di antara kita yang bersedih, meneteskan air mata karena ditinggalkan oleh bulan Ramadhan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah Allah swt. Mereka merasa ibadahnya selama Ramadhan masih sangat sedikit. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa sedih yang mendalam.
Entah kita menyambutnya dengan gembira atau haru, Ramadhan tetap berlalu. Kita tidak mampu menahannya karena waktu yang Allah berikan telah habis. Tidak ada lagi kesemarakan sore hari dengan para penjual takjil menawarkan beragam hidangan berbuka puasa. Tidak ada lagi keriuhan anak-anak menunggu pembagian takjil di masjid. Tidak ada lagi kemeriahan shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan shalat-shalat malam. Semua itu telah berakhir. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa:
Allahumma ballighna Ramadhan, Allahumma ballighna Ramadhan. (Ya Allah, pertemukan kami kembali dengan Ramadhan. Ya Allah, pertemukan kami kembali dengan Ramadhan.)
Selama sebulan penuh kita telah digembleng di Madrasah Cinta bernama Ramadhan. Cinta yang mungkin sempat meredup kini kembali disemai dan dikuatkan. Namun, apakah cinta itu akan terus tumbuh atau kembali layu setelah Ramadhan? Harapan kita, cinta yang telah bersemi selama Ramadhan terus mekar di sepanjang zaman.
Cinta Apakah yang Telah Diajarkan Ramadhan kepada Kita?
- Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
Ramadhan mengajarkan kita untuk mencintai Allah dan menaati perintah-Nya. Selama bulan suci ini, kita begitu dekat dengan Allah. Sebagai wujud cinta, kita memperbanyak shalat, bukan hanya yang wajib, tetapi juga shalat-shalat sunnah seperti tarawih, tahajud, dan shalat taubat. Hati kita menjadi tenteram karena selalu mengingat-Nya.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Karena cinta, kita merasa Allah selalu mengawasi kita, sehingga kita berusaha menjauhi maksiat. Cinta kepada Allah merupakan inti keimanan dan bukti ketundukan serta ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah:
“Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31)
Rasulullah SAW bersabda:
“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu:
(1) Barang siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya,
(2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah,
(3) Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di bulan Ramadhan, kita banyak mendengar kisah perjuangan Nabi saw dan meneladani akhlaknya. Setelah Ramadhan, cinta ini harus tetap terjaga dengan memperbanyak shalawat.
Rasulullah saw bersabda:
“Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)
- Cinta kepada Al-Qur’an
Selain cinta kepada Allah, Ramadhan juga mengajarkan kita untuk mencintai Al-Qur’an. Kita dituntun untuk membacanya, mempelajarinya, mengkajinya, dan yang paling penting, mengamalkan isinya. Begitu banyak di antara kita yang menamatkan 30 juz hingga beberapa kali selama Ramadhan. Itu semua adalah bukti kecintaan kita kepada Al-Qur’an.
Rasulullah saw bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
- Cinta kepada Sesama
Ramadhan juga mengajarkan kita untuk mencintai sesama manusia. Aktivitas berbagi takjil, zakat, infak, dan sedekah adalah wujud cinta kita kepada sesama Muslim. Bahkan, mencintai sesama adalah tanda kesempurnaan iman seseorang.
“Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim)
Cinta yang bersemi di Madrasah Cinta Ramadhan harus terus dirawat dan dikembangkan sepanjang hayat. Mari kita teruskan kebiasaan baik yang telah kita bina selama Ramadhan:
- Teruslah mencintai Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
- Teruslah mendekat kepada-Nya melalui shalat, doa, dan zikir.
- Teruslah bershalawat dan meneladani sunnah Rasulullah saw.
- Teruslah mencintai Al-Qur’an dengan membacanya, mengkajinya, dan mengamalkannya.
- Teruslah mencintai dan menyayangi keluarga, saudara, tetangga, serta seluruh umat Islam.
Tanpa keluarga, tanpa saudara, tanpa tetangga, dan tanpa sahabat, kita bukan siapa-siapa. Jika kita mengalami musibah, kita tidak berdaya tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, cintailah mereka dengan tulus, jaga lisan agar tidak melukai hati mereka, dan bantulah jika mereka membutuhkan pertolongan.
Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Setelah Ramadhan berlalu, kita harus membuktikan bahwa kita benar-benar mendapatkan pelajaran dari bulan suci ini. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30)
Jangan jadikan pelajaran dalam Madrasah Cinta ini sia-sia. Ibaratnya selama Ramadhan kita telah membangun sebuah bangunan yang indah nan megah, jangan lagi kita hancurkan menjadi keping-keping yang tak berguna.
Allah swt mengingatkan dalam firman-Nya:
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali”. (QS. An-Nahl: 92)
Jangan biarkan Ramadhan hanya menjadi kenangan. Jadikanlah ia sebagai titik awal untuk terus menyuburkan cinta kepada Allah, Rasul-Nya, Al-Qur’an, dan sesama. Semoga kita termasuk hamba yang istiqamah hingga akhir hayat. Aamiin.[*]