24 C
Makassar
Kamis, Juli 7, 2022
BerandaRagamDakwah di Media Sosial Jangan Menimbulkan Perpecahan

Dakwah di Media Sosial Jangan Menimbulkan Perpecahan

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COM – Perkembangan dunia digital membuka banyak kesempatan untuk berkembang. Terlebih di masa pandemi ini banyak hal yang dilakukan secara virtual, termasuk kegiatan dakwah. Pelaksanaan dakwah secara jarak jauh tidak mengurangi esensi dari isi dakwah tersebut. Namun tetap harus ada etika yang dipatuhi dalam berdakwah di ruang digital.

Maka dari itu, Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” mengadakan webinar dengan tema  “Dakwah yang Ramah di Ruang Digital” di Muna Barat, Sulawesi Tenggara pada 30 Agustus 2021. Kegiatan ini diikuti oleh 703 peserta dari berbagai kalangan umur dan profesi. Kegiatan ini juga  diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi.

Program kali ini dipandu oleh Tristania Dyah sebagai moderator dan menghadirkan empat narasumber, yang terdiri dari Ketua Umum Ikatan Sarjana NU Baubau sekaligus Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tenggara, M. Djufri Rachim; narablog sekaligus Sociopreneur, Reh A. S; tokoh agama sekaligus Ketua Dakwah MUI Sulawesi Tenggara, H. Jahada, serta dosen Komunikasi Universitas Bina Nusantara, Sari Ramadanty. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. Jadi, saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” kata Presiden.

Pemateri pertama, M. Djufri Rachim, membawakan tema “Digital Skill: Pemanfaatan Internet untuk Penyebaran Konten Positif Keagamaan”. Djufri mengawali paparannya dengan perkembangan media sosial, penggunanya, dan konten yang umumnya ada di platform, seperti konten inspiratif, menghibur, informatif, dan edukatif. Ia juga menjelaskan tentang munculnya banyak konten negatif dan dampaknya bagi pengguna internet. “Media sosial memiliki kekuatan untuk membawa pesan besar ke platform tertentu atau mengubah ide atau pemikiran,” katanya.

BACA JUGA :  Hargai Keberagaman, Sebarkan Pesan Positif di Media Sosial

Berikutnya, Reh menyampaikan materi berjudul “Bijak di Kolom Komentar”. Menyuarakan pendapat di media sosial adalah hak pengguna, namun ada etika dan aturannya. Beberapa di antaranya, verifikasi informasi, memanusiakan manusia, hati-hati profesi, dan pastikan niat. Reh juga membagikan tips menyampaikan pendapat di media sosial. “Gunakan identitas asli ketika berkomentar, hindari berkomentar saat sedang emosi, hindari kata-kata vulgar atau SARA, pastikan komentar 100 persen akurat sehingga tidak menjadi fitnah,” terangnya.

Sebagai pemateri ketiga, Jahada, membawakan tema tentang “Digital Culture: Literasi dalam Berdakwah di Dunia Digital”. Ia menjelaskan cara membuat konten dakwah yang baik, berinteraksi yang baik dengan pembaca atau penonton, serta dakwah yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dunia digital. “Yang tidak boleh, dakwah yang menyinggung privasi, memanipulasi emosi audiens, berdakwah dengan kasar, dan mengandung unsur intoleransi,” pungkasnya.

Adapun pemateri terakhir, Sari Ramadanty, menyampaikan tema mengenai “Internet Safety: Tips dan Pentingnya Internet Sehat”. Dia menjelaskan manfaat internet, seperti komunikasi, informasi, dan bisnis. Adapun dampak negatifnya adalah misinformasi dan disinformasi, konten agresi dan asusila, serta penipuan. “Tips berinternet sehat: lindungi data pribadi, periksa keandalan situs web, perkuat kata sandi, hindari tautan mencurigakan, update sistem operasi dan aplikasi, pelajari tentang media sosial, dan bijak sebelum mengirim apapun,” jelas Sari.

Dipandu oleh moderator, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang disambut antusias oleh peserta. Panitia memberikan hadiah uang elektronik masing-masing sebesar Rp100.000 kepada 10 penanya beruntung. Program Literasi Digital mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat Sulawesi.

BACA JUGA :  Optimalkan Fokus Belajar Anak Tanpa Gawai

“Bagaimana cara memilah berita di media sosial? Apa yang perlu kita perbuat jika berita tersebut berbau agama dan menyudutkan atau membuat konflik antaragama?” tanya Maya Wulandari, salah seorang peserta webinar. M Djufri Rachim mengatakan, jika mendapati konten atau berita yang mengandung unsur kebencian, apalagi bisa menyulut perselisihan, sebaiknya stop di kita dan jangan disebarkan. “Jika ada perselisihan antar kelompok, media pers yang benar pasti punya filter dengan menggunakan kata-kata yang damai serta tidak menyulut perpecahan,” terangnya.

spot_img
spot_img

Headline