BerandaEdukasiIGI: Prilaku Copy-Paste Akibat Konsep Pendidikan Indonesia Masa Lalu

IGI: Prilaku Copy-Paste Akibat Konsep Pendidikan Indonesia Masa Lalu

- Advertisement -

MAKASSAR, SULSELEKSPRES.COM – Persoalan mendasar pendidikan Indonesia pada konsep adalah penerapan LOTS, dalam pembelajaran dimasa lalu. Demikian kata Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim, Senin (21/1/2019).

“Dampaknya siswa hebat adalah siswa yang mampu menjawab soal-soal yang dengan hafalan,” kata dia.

Gaya pembelajaran tersebut juga membawa pengaruh. Akhirnya menurut Ramli hampir semua Rangking 1 di Indonesia adalah; “mereka yang Jago Menghafal.”

BACA: IGI Dorong Ratusan Guru Ikut Pelatihan Berbasis Android

“Anak-anak kita jarang dinilai kemampuannya pada kemampuan menemukan masalah dan membuat problem solving atas masalah tersebut sehingga anak-anak kita miskin ide, kering kreativitas dan hampir-hampir tak punya daya cipta,” ujarnya.

Problem itu, menurut Ramli tak berujung pada kemiskinan ide dan daya kreatifitas murid saja. Tapi turut mempengaruhi pelajar saat memasuki dunia kerja setelah lulus.

Saat bekerja, profesi paling cocok buat alumnus menurut Ramli adalah karyawan teknis, atau mereka yang ulet mengerjakan sesuatu yang sifatnya instruksional dan sudah runut petunjuk pelaksanaannya.

BACA: IGI: Perpres Guru Pensiun Akan Jadi Bom Waktu

Disisi lain, pekerja itu kata Ramli tak mampu menemukan masalah dari apa yang dikerjakannya.

“Maka itu tidak heran jika copy paste program kerja dan anggaran dalam dunia pemerintahan juga terjadi karena memang pendidikan kita seputar itu,” ungkapnya.

Selain itu, pada penerapan konsep pendidikan tersebut, beban mata pelajaran yang banyak membuat siswa betul-betul menghabiskan waktunya pada penguasaan materi.

“Bukan proses ilmiah dimana tesa dan anti tesa berbenturan untuk melahirkan sintesa baru. Tesa yang ada hanya dijadikan sebagai pedoman untuk dihafal agar mendapatkan nilai tinggi,” kata dia.

Hal inilah, pada akhirnya kata Ramli membuat ukuran sukses adalah “seberapa tinggi total nilai raport bukan kemampuan menemukan dan menyelesaikan masalah.”

“Sebenarnya, masih banyak problem lain dalam dunia pendidikan kita yang sifatnya substantif, tapi kita sibuk berdebat dengan hal remeh temeh yang tak menyentuh akar persoalan,” ujar Ramli.

Penulis: Agus Mawan