24 C
Makassar
Rabu, Juli 6, 2022
BerandaEkbisInvestor Asing Kesulitan Jajaki Industri Tembaku Indonesia

Investor Asing Kesulitan Jajaki Industri Tembaku Indonesia

- Advertisement -

SULSELEKSPRES.COM – Dalam revisi Daftar Negatif Investasi (DNI), Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengusulkan industri rokok dan serbuk karet dikeluarkan dari DNI.

Pelonggaran regulasi diperlukan agar industri rokok menengah bisa lebih cepat berkembang dalam bentuk penanaman modal baru.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim, mengatakan dibukanya keran investasi sektor tembakau ini akan menciptakan lapangan kerja dan menumbuhkan industri kecil dan menengah.

BACA: Pemprov Sulsel Jalin Kerjasama Dengan Australia

Data Kemenperin menyebut, jumlah usaha kecil dan menengah industri tembakau menyusut dari 1000an pada 2014 menjadi tinggal 400an tahun 2017.

“Pengendalian boleh, tapi ada beberapa investor yang menyatakan mau berinvestasi. Tapi tidak bisa. Makanya sekarang dibuka, namun prioritas pada ekspor,” jelas Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim di lansir BBC Indonesia.

Sejauh ini, kata dia, sudah ada beberapa pemodal dari Cina yang mau menanamkan uangnya, tapi Abdul Rochim enggan menyebutkan besaran angkanya.

BACA: Bertemu Menpora, Atlet Wusyu Lindswell Ternyata Sudah Berhijab

Para investor besar ini akan diprioritaskan untuk menggandeng industri besar. Sehingga produksi tembakau yang dihasilkan untuk tujuan ekspor.

Sementara untuk industri kecil dan menengah, difokuskan untuk mengisi kebutuhan tembakau dalam negeri. Ini karena, produksinya turun setiap tahun.

“Untuk IKM (Industri Kecil-Menengah), biar mengisi pabrik-pabrik yang mati, kan jumlahnya banyak. Apalagi yang selama ini karyawannya tak terserap,” jelasnya.

BACA: Mahfud MD Sebut Reuni 212 Bukan Ukuran Keimanan

Sementara itu, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau meminta Kementerian Perindustrian membatalkan keputusan yang membuka investasi asing untuk industri tembakau.

Langkah membuka investasi asing dalam industri tembakau ini dianggap bertentangan dengan keinginan Presiden Joko Widodo yang ingin mengurangi jumlah perokok anak dan remaja.

BACA JUGA :  Fakta, Merokok Sejak Remaja Akan Merusak Ini

Berdasarkan penelitian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bappenas, prevalansi perokok muda akan naik 10,7% tahun depan tanpa adanya kontrol yang ketat.

Anggota Komnas Pengendalian Tembakau, Jalal, mengatakan dengan membuka modal asing untuk industri tembakau sama halnya dengan meningkatkan konsumsi rokok.

“Sekarang kalau Daftar Negatif Investasi (DNI) dari rokok dibuka, pasti ada penigkatan produksi dan konsumsi, tapi kerugiannya juga besar,”ujarnya.

spot_img
spot_img

Headline